Kamis, 21 Mei 2026

Opini

Opini: Pesta Babi- Bising bagi Mereka, Hidup bagi Kami

Saya mengakhiri ini dengan pertanyaan praktis: Apa yang harus kita lakukan setelah menonton film ini?

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MARIANUS VIKTOR UKAT
Marianus Viktor Ukat 

Dengan demikian, dalam lima, sepuluh, dua puluh tahun ke depan, hutan adat Papua Selatan akan menjadi perkebunan kelapa sawit (Elisabeth, 2024). 

Lebih ironis, tradisi Pesta Babi suku Muyu akan menjadi cerita lama. Tentang ini, pengetahuan ekologis adat akan menjadi catatan historis dan kehidupan yang dijalani selama ribuan tahun akan menjadi masa lalu. 

Derrida mengatakan bahwa ada tanggung jawab etis untuk menyimpan jejak ini untuk tidak membiarkan yang lain sepenuhnya menjadi absen. 

Untuk itu, secara tersirat, film ini memenuhi tanggung jawab mengingat bahwa ini pernah ada tentang bagaimana adat itu hidup. 

Jangan biarkan mereka sepenuhnya hilang dari catatan sejarah. Ini bukan sekadar nostalgia atau sentimentalis. Ini adalah resistensi etis terhadap penghapusan. 

Dari Bising Menjadi Suara: Membaca Suara Rakyat Kecil

Dewasa ini, sistem dominan telah membangun struktur untuk membuat suara adat menjadi bising. 

Namun secara tegas, film ini mengatakan tidak; tidak untuk memperlakukan adat semaunya dan mengubahnya demi kepentingan sekelompok orang. Film ini adalah suara yang harus didengar dan diakui. 

Selain itu, film ini juga melakukan intervensi terhadap rezim kebenaran pembangunan, reframing tentang kehidupan yang dianggap remeh, pencatatan terhadap jejak sejarah yang diabaikan, dan panggilan untuk bertanggung jawab secara etis terhadap ‘wajah yang lain’, tetapi di atas semua itu, film ini adalah tindakan keberatan sederhana dan radikal. 

Maka dapat dikatakan bahwa “Anda penting, apa yang Anda katakan itu penting, Anda adalah suara.”  

Upaya untuk memberdayakan suara adat, bahkan dalam niat terbaik, film ini adalah adat yang dibuat dalam film, tetapi mereka berbicara dalam narasi yang telah dipilih, diedit, dan ditampilkan oleh orang lain. 

Namun, semua medium itu merupakan suara adat yang nyata. Film Pesta Babi bukan sekadar kebisingan suku-suku di Papua Selatan saja, tetapi suara kebenaran yang patut dilayakkan kehidupan mereka. 

Hemat saya, film Pesta Babi memaksa kita untuk bertemu dengan rakyat Papua sesungguhnya. 

Ia menghadirkan wajah adat kepada layar. Ia memaksa pemirsa untuk melihat tidak hanya secara inderawi, tetapi benar-benar melihat secara sungguh kehidupan manusia Papua

Maka apa yang dinyatakan oleh Emmanuel Levinas bahwa tanggung jawab etis dimulai dengan ‘wajah yang lain’, menuntut kita untuk melihat sesama tidak sebagai objek, sebagai kategori, ataupun sebagai “pemilik lahan yang tidak produktif”. 

Tetapi melihat sesama sebagai manusia dengan kehidupan mereka sendiri yang sama valid seperti layaknya kehidupan yang kita alami. 

Oleh karena itu, ketika menonton film ini tidak dapat kita mengatakan bahwa adat adalah hambatan pembangunan, tetapi memahami adat sebagai suatu keluhuran martabat sesama dari wajah mereka. 

Saya mengakhiri ini dengan pertanyaan praktis: Apa yang harus kita lakukan setelah menonton film ini? (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved