Kamis, 21 Mei 2026

Opini

Opini: Pesta Babi- Bising bagi Mereka, Hidup bagi Kami

Saya mengakhiri ini dengan pertanyaan praktis: Apa yang harus kita lakukan setelah menonton film ini?

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MARIANUS VIKTOR UKAT
Marianus Viktor Ukat 

Karena itu, sejalan dengan yang dikatakan oleh Michel Foucault, filsuf Prancis, bahwa kekuasaan tidak hanya bersifat menekan, tetapi juga menciptakan kondisi untuk keheningan itu sendiri. 

Kekuasaan tidak sekadar mengatakan “diam”, tetapi mendesain alam sedemikian rupa sehingga suara tertentu tidak dapat diucapkan, bahkan tidak dapat dipikirkan. 

Di Papua Selatan, keheningan adat Awyu, Marind, Yei, dan Muyu, bukanlah keheningan yang dipilih. 

Ia adalah keheningan yang diproduksi hukum yang mengatakan bahwa lahan adat adalah milik negara, narasi yang menyebut adat adalah tertinggal dan membutuhkan pembangunan. 

Proyek Strategis Nasional (PSN) bukanlah proyek ekonomi murni. Ia adalah proyek epistemologis yang mana memastikan bahwa cara adat memahami dunia tidak dihitung sebagai pengetahuan yang legitimasi. 

Artinya, hutan sebagai rumah mampu menghasilkan sumber daya yang bisa memulihkan aset kenegaraan dan pertumbuhan ekonomi. 

Baca juga: Nobar Pesta Babi di Ngada NTT Dibatalkan Setelah Didatangi TNI

Karena itu, film dokumenter Pesta Babi melakukan sesuatu yang radikal dengan mengintervensi pada tahap epistemologis bahwa pengetahuan adat adalah pengetahuan. Demikian cara adat memahami tanah, hutan, dan kehidupan adalah valid. 

Lebih dari itu, hal ini adalah pengetahuan yang perlu didengarkan. Ini bukan sekadar menunjukkan apa yang dikatakan adat, tetapi intervensi pada struktur kekuasaan itu sendiri. 

Ruang Ekspresi Budaya dalam Negara Multikultural

Papua dalam narasi nasional didefinisikan oleh Pemerintahan Pusat sebagai wilayah tertinggal yang perlu diperangi dengan proyek besar-besaran sehingga hutan yang tidak produktif harus diubah menjadi perkebunan dan sumber daya alam yang ada perlu dieksploitasi. 

Dalam representasi ini, adat perihal ada atau tidak ada, mereka tetap sebagai hambatan atau pemilik lahan yang tidak produktif. 

Oleh Karena itu, film Pesta Babi melakukan sebuah counter-representation yang radikal. 

Ia menampilkan adat bukan sebagai margin tetapi pusat dan menunjukkan bahwa adat bukanlah hambatan pembangunan tetapi pemilik sah dan pengelola bijak dari ekosistem yang kompleks. 

Ini adalah pergeseran epistemologis yang fundamental. Karena itu, film ini juga melakukan sesuatu yang sederhana namun sangat subversif dengan menunjukkan bahwa kehidupan ini penting dan “kamera” itu harus disorotkan ke bawah untuk melihat lebih dalam bagaimana wajah adat dicemari hanya demi kenikmatan mereka yang berkuasa.

Sehubungan dengan itu, Jacques Derrida, filsuf Prancis, mengatakan bahwa apa pun yang ada akan meninggalkan jejak dan sesuatu yang dihancurkan akan meninggalkan tanda dari kehadiran sebelumnya. 

Tetapi jejak hanya berarti sesuatu jika seseorang mencatat, mengingat, dan menolak untuk membiarkannya hilang sepenuhnya. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved