Opini
Opini: Pesta Babi- Bising bagi Mereka, Hidup bagi Kami
Saya mengakhiri ini dengan pertanyaan praktis: Apa yang harus kita lakukan setelah menonton film ini?
Karena itu, sejalan dengan yang dikatakan oleh Michel Foucault, filsuf Prancis, bahwa kekuasaan tidak hanya bersifat menekan, tetapi juga menciptakan kondisi untuk keheningan itu sendiri.
Kekuasaan tidak sekadar mengatakan “diam”, tetapi mendesain alam sedemikian rupa sehingga suara tertentu tidak dapat diucapkan, bahkan tidak dapat dipikirkan.
Di Papua Selatan, keheningan adat Awyu, Marind, Yei, dan Muyu, bukanlah keheningan yang dipilih.
Ia adalah keheningan yang diproduksi hukum yang mengatakan bahwa lahan adat adalah milik negara, narasi yang menyebut adat adalah tertinggal dan membutuhkan pembangunan.
Proyek Strategis Nasional (PSN) bukanlah proyek ekonomi murni. Ia adalah proyek epistemologis yang mana memastikan bahwa cara adat memahami dunia tidak dihitung sebagai pengetahuan yang legitimasi.
Artinya, hutan sebagai rumah mampu menghasilkan sumber daya yang bisa memulihkan aset kenegaraan dan pertumbuhan ekonomi.
Baca juga: Nobar Pesta Babi di Ngada NTT Dibatalkan Setelah Didatangi TNI
Karena itu, film dokumenter Pesta Babi melakukan sesuatu yang radikal dengan mengintervensi pada tahap epistemologis bahwa pengetahuan adat adalah pengetahuan. Demikian cara adat memahami tanah, hutan, dan kehidupan adalah valid.
Lebih dari itu, hal ini adalah pengetahuan yang perlu didengarkan. Ini bukan sekadar menunjukkan apa yang dikatakan adat, tetapi intervensi pada struktur kekuasaan itu sendiri.
Ruang Ekspresi Budaya dalam Negara Multikultural
Papua dalam narasi nasional didefinisikan oleh Pemerintahan Pusat sebagai wilayah tertinggal yang perlu diperangi dengan proyek besar-besaran sehingga hutan yang tidak produktif harus diubah menjadi perkebunan dan sumber daya alam yang ada perlu dieksploitasi.
Dalam representasi ini, adat perihal ada atau tidak ada, mereka tetap sebagai hambatan atau pemilik lahan yang tidak produktif.
Oleh Karena itu, film Pesta Babi melakukan sebuah counter-representation yang radikal.
Ia menampilkan adat bukan sebagai margin tetapi pusat dan menunjukkan bahwa adat bukanlah hambatan pembangunan tetapi pemilik sah dan pengelola bijak dari ekosistem yang kompleks.
Ini adalah pergeseran epistemologis yang fundamental. Karena itu, film ini juga melakukan sesuatu yang sederhana namun sangat subversif dengan menunjukkan bahwa kehidupan ini penting dan “kamera” itu harus disorotkan ke bawah untuk melihat lebih dalam bagaimana wajah adat dicemari hanya demi kenikmatan mereka yang berkuasa.
Sehubungan dengan itu, Jacques Derrida, filsuf Prancis, mengatakan bahwa apa pun yang ada akan meninggalkan jejak dan sesuatu yang dihancurkan akan meninggalkan tanda dari kehadiran sebelumnya.
Tetapi jejak hanya berarti sesuatu jika seseorang mencatat, mengingat, dan menolak untuk membiarkannya hilang sepenuhnya.
Marianus Viktor Ukat
Pesta Babi
Dandhy Dwi Laksono
Cypri Paju Dale
Opini Pos Kupang
Papua Selatan
Papua
Masyarakat Adat
Meaningful
| Opini: Membangun Komunikasi Kasih di Tengah Dunia yang Ramai Bicara |
|
|---|
| Opini: Pesta Babi- Tamparan Bagi Negara yang Gagal Berpesta Secara Manusiawi |
|
|---|
| Opini: Bangkit dari Penyeragaman-Jalan Baru NTT Keluar dari Kemiskinan |
|
|---|
| Opini: Hantavirus dan Kepanikan Publik-Ketakutan Lebih Cepat Menyebar daripada Virus |
|
|---|
| Opini: Menatap Realita Tambak Garam di NTT- Mengapa Angka 26.000 Tenaga Kerja Hanya Ilusi? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Marianus-Viktor-Ukat-03.jpg)