Breaking News
Selasa, 19 Mei 2026

Opini

Opini: Siapa yang Sebenarnya Menjadi "Babi"? 

Sifatnya yang provokatif dan berani membuatnya tidak sekadar menjadi karya sinematik, melainkan sebuah peristiwa sosial.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI BERNABAS HAKI
Bernabas Haki 

Di sinilah letak relevansi film tersebut dengan realitas empiris di negeri kita. Absurditas yang terjadi di dalam film adalah buah manis dari kebijakan pemerintah yang acap kali bias kelas dan cenderung memelihara para "babi" korporat.

Ada beberapa kritik fundamental terhadap kebijakan pemerintah yang gagal membendung watak eksploitatif ini seperti kebijakan ekonomi yang mengakomodasi oligarki.

Regulasi ekonomi kita belakangan ini kerap kali tampak seperti karpet merah bagi para pemilik modal besar, namun menjadi jerat leher bagi masyarakat kecil. 

Baca juga: Opini: Ketika Air Kehilangan Kesuciannya

Kebijakan yang mempermudah eksploitasi sumber daya alam atas nama investasi sering kali menggusur ruang hidup masyarakat adat dan petani lokal. 

Pemerintah bertindak seperti penyedia gedung bagi "pesta babi" tersebut, membiarkan oligarki melahap kekayaan alam sementara rakyat lokal hanya mendapatkan limbahnya.

Kritik yang kedua adalah lemahnya penegakan hukum terhadap korupsi sistemik ketika hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah, negara sedang melegitimasi perilaku koruptif. 

Hukuman yang ringan bagi para koruptor kakap layaknya sebuah undangan terbuka bagi pejabat publik untuk ikut serta dalam "pesta" penjarahan uang rakyat. 

Kebijakan pelemahan institusi antikorupsi secara sistematis membuat para "babi" politik ini bisa mendengkur tenang tanpa takut kandangnya digeledah.

Kritik yang ketiga adalah adanya jaring pengaman sosial yang bersifat tambal sulam. 

Kebijakan bantuan sosial (bansos) sering kali dijadikan sekadar alat kosmetik politik atau pereda amarah sesaat, bukan solusi struktural untuk mengentaskan kemiskinan. 

Pemerintah lebih gemar membagikan bantuan langsung tunai yang sifatnya sementara ketimbang memperbaiki struktur upah buruh, menyediakan lapangan kerja yang layak, atau menjamin akses pendidikan gratis yang berkualitas. 

Ini persis seperti adegan film di mana para elite melemparkan tulang sisa agar rakyat di bawah meja tidak melakukan pemberontakan.

Kesimpulan

Pada akhirnya, Pesta Babi adalah potret distopia yang sudah terlanjur menjadi kenyataan. 

Film ini mendeskripsikan dengan sangat mencekam bahwa "babi" bukanlah hewan berkaki empat yang kotor, melainkan sebuah metafora atas mentalitas manusia yang rakus, yang didukung oleh sistem kebijakan negara yang permisif terhadap ketidakadilan.

Jika pemerintah tidak segera merombak kebijakan yang berpihak pada keadilan ekologis dan kesejahteraan sosial yang merata, maka kita semua sadar atau tidak sedang dipaksa mengantre untuk menjadi hidangan berikutnya dalam pesta pora para penguasa. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved