Opini
Opini: Ekonomi NTT Mau Kemana?
Masih banyak PR dan duduk bersama untuk mendiskusikan kondisi ekonomi NTT ini dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul.
Hal ini berdampak pada harga jual yang terkerek naik. Otomatis berdampak kepada masyarakat NTT sebagai konsumen dari barang jadi tersebut. Apalagi daya beli masyarakat yang rendah di tengah ruang fiskal pemerintah provinsi yang terbatas saat ini.
Kondisi tersebut membutuhkan campur tangan pemerintah. Kondisi ini jangan terus dibiarkan sehingga masyarakat menilai seolah olah pemerintah hanya menjadi penonton terhadap beban masyarakat.
Padahal pemerintah juga sedang berusaha dengan konsep pembangunan yang ada untuk dapat mensejahterakan rakyatnya.
Pertumbuhan ekonomi yang hanya didorong dan diharapkan dari fiskal daerah itu hanya dalam jangka pendek.
Pada akhirnya yang terpenting adalah bagaimana adanya capital accumulation dengan membangun industri pengolahan, hilirisasi dan memperbesar sektor swasta untuk dapat berkiprah maksimal dalam mengkapitalisasi potensi di daerah menjadi transaksi ekonomi dan terciptanya mekanisme pasar yang seimbang.
Hilirisasi bukannya kita melihat secara parsial namun secara komprehensif mulai dari hulu sampai hilir.
Capaian menciptakan pasar dari suatu terobosan yang namanya NTT Mart merupakan langkah yang sangat baik. Namun apakah ini akan berkepanjangan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di NTT secara berkelanjutan?
Berapa besar memberikan kontribusi kepada pertumbuhan ekonomi? Bagaimana kondisi di hulu, contohnya ketersediaan lahan untuk menghasilkan bahan baku?
Siapa yang mengelola? Hasil dari bahan baku berkualitas atau tidak? Siapa yang memproduksi? Dengan apa memproduksi? Berapa hasil atau kapasitas produksi?
Bagaimana distribusi dan dengan apa distribusinya? Pasar yang disediakan oleh pemerintah, berapa omzet yang dijual atau terjual? Apakah mekanisme pasar tercipta atau tidak?
Pertanyaan-pertanyaan ini yang harus disiasati dan dijawab pemerintah dengan strategi dan program kerja di bidang ekonomi yang mumpuni sehingga mekanisme pasar dapat tercipta baik dari sisi supply dan demand.
Sedikit hitungan yang saya berikan sesuai data Badan Pusat Statistik NTT PDRB NTT 2024 ada di angka Rp 137 Triliun dan ICOR di tahun yang sama 12,4 persen (sangat tidak efisien).
Ini berarti untuk mendongkrak pertumbuhan sampai 5 persen sesuai target Pemerintah Provinsi NTT harus membutuhkan nilai investasi kurang lebih Rp 84,9 Triliun guna mencapai pertumbuhan itu (include single project NTT Mart).
Data ini menunjukan bahwa tujuan mulia Pemerintah Provinsi NTT untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di NTT dari konsep hilirisasi kecil yang sudah dijalankan ini apakah akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi di NTT.
Masih banyak PR dan duduk bersama untuk mendiskusikan kondisi ekonomi NTT ini dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/P-Stefen-Messakh.jpg)