Sabtu, 16 Mei 2026

Opini

Opini: Di Balik Pertumbuhan Ekonomi NTT

Ketika kemampuan masyarakat untuk berbelanja meningkat, pertumbuhan ekonomi daerah pun ikut terdorong. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ANNA ELLENORA NAINUPU
Anna Ellenora Nainupu 

Pada triwulan I 2026, kontribusi PMTB dalam perekonomian NTT tercatat sebesar 39,69 persen. 

Angka ini tergolong cukup tinggi, tetapi perlu dibaca secara hati-hati. Investasi yang tercatat dalam PMTB adalah investasi fisik, dan tidak seluruhnya mencerminkan investasi yang dilakukan swasta, karena di dalamnya juga termasuk belanja investasi pemerintah.

Kegiatan investasi pada dasarnya bukan hanya soal membangun infrastruktur gedung atau jalan, tetapi bagaimana menciptakan aktivitas ekonomi yang mampu menghasilkan produktivitas baru dan berkelanjutan. 

Tantangannya, tidak semua investasi secara otomatis atau langsung menghasilkan pertumbuhan yang berkualitas. 

Di sinilah pentingnya memastikan bahwa investasi yang ada benar-benar mampu memperkuat sektor produktif daerah di masa mendatang. 

Ekonom Nicholas Kaldor menegaskan bahwa industri manufaktur merupakan salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi

Banyak negara tumbuh pesat setelah berinvestasi serius pada sektor ini, seperti Tiongkok, Korea Selatan, dan Vietnam. 

Vietnam, misalnya, dalam beberapa tahun terakhir mampu mendorong pertumbuhan melalui pengembangan industri manufaktur dan ekspor sehingga menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat. 

Sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi Vietnam mencapai 8,02 persen. Negara itu bertumpu pada industri manufaktur berorientasi ekspor dan berhasil menarik investasi asing di bidang elektronik, tekstil, alas kaki, hingga perakitan teknologi. 

Jika berkaca pada Vietnam, tantangan NTT terlihat jelas, di mana kontribusi lapangan usaha industri pengolahan dalam struktur ekonomi daerah masih sangat kecil, bahkan belum mencapai 2 persen pada triwulan I 2026.

Dalam perkembangannya, membangun industri tidak lagi semudah dulu. Dani Rodrik melalui konsep premature deindustrialization menjelaskan bahwa banyak negara berkembang mengalami perlambatan industrialisasi bahkan sebelum sektor industrinya berkembang kuat. 

Jika dulu negara berkembang bisa tumbuh melalui industri padat karya sederhana, saat ini persaingan global menjadi jauh lebih ketat. 

Perkembangan teknologi juga membuat banyak proses produksi yang diautomasi sehingga kebutuhan tenaga kerja semakin berkurang. 

Akibatnya, banyak daerah berkembang akhirnya lebih cepat bergerak ke sektor jasa sebelum sempat membangun basis industri yang kuat.

Ekonomi NTT juga menunjukkan gejala serupa. Aktivitas sektor jasa memang memberi kontribusi besar, yakni 53,1 persen terhadap perekonomian daerah, tetapi sebagian besar masih ditopang oleh usaha kecil dan informal dengan produktivitas yang belum tinggi. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved