Opini
Opini: Ocha- Dia yang Menolak Bungkam
Ini kisah penting. Ocha mau menunjukkan satu hal ini. Bahwa pendidikan karakter tidak cukup diajarkan di buku. Atau di sekolah.
Ketentuan turunan juga diatur dalam UU No. 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan. UU ini menegaskan mekanisme seleksi dan pengangkatan anggota BPK mengikuti amanat Pasal 23F UUD 1945.
Sejarahnya, UU No. 17 Tahun 1965 dan UU No. 5 Tahun 1973 sempat menempatkan kewenangan di Presiden. Pasca-amandemen konstitusi, pusat kewenangan di lembaga DPR.
Artinya, jawaban Ocha bukan “perasaan”. Itu bunyi konstitusi. Sangat konstitusional.
Nun nalar, dan nir emosional. Penilaian juri yang menyatakan salah, lalu memberi nilai penuh pada jawaban identik dari tim lain, menunjukkan inkonsistensi yang tidak bisa dibenarkan dalam kompetisi akademik. Malahan kalau jujur, juri yang salah. Minus.
Ocha punya data, jejak prestasi. Ia pernah menjadi Juara 2 Lomba Cerdas Cermat Kebangsaan 2025, Juara LCC Empat Pilar MPR RI tingkat Kalbar 2025, dan runner up di ajang yang sama pada 2026.
Ia juga aktif di Generasi Berliterasi Pontianak, menggerakkan kegiatan literasi bagi remaja. Keberaniannya di panggung final bukan keberanian sesaat.
Tetapi itu simbol dari kebiasaan berpikir kritis yang ia bangun. Kritis untuk juga mengatakan, tidak. Kalau Ocha benar, maka dinyatakan salah?
Ini kisah penting. Ocha mau menunjukkan satu hal ini. Bahwa pendidikan karakter tidak cukup diajarkan di buku. Atau di sekolah. Tetapi itu harus dipraktikkan. Harus mampu membentuk mindset dan culture set.
Bahkan ketika pentas -panggungnya tidak ramah. Ia menolak membiarkan kesalahan dibiarkan berlalu. Ataukah karena LCC ini yang tampil dan berbicara adalah “pelajar”, inferior, marginal.
Ocha seakan berteriak kuat-kuat menolak diam dan membiarkan “4 Pilar” menjadi slogan tanpa isi. Hanya omon-omon sa.
Pendidikan sukses kalau ada anak muda kritis, cerdas. Tetapi apa yang terjadi atas diri seorang anak didik cerdas ini? Saat mereka bersuara, kita yang memiliki mikrofon, panggung, gelar berlaksa-laksa, suruh diam.
Tutup mulut. Kita ajarkan Pancasila di kelas, tetapi kita lupakan keadilan di panggung lomba.
Sikap Ocha mengingatkan: nilai-nilai kebangsaan tidak hidup di spanduk, di meja banyak dari kita yang kebetulan beruntung.
Tetapi di keberanian untuk berkata benar Mungkin banyak dari kita memilih diam. Dan bungkam. Tetapi Ocha, tidak.
Suaranya sudah viral. Keren! (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Wilfrid-Babun-SVD-01.jpg)