Sabtu, 16 Mei 2026

Opini

Opini: Ocha- Dia yang Menolak Bungkam

Ini kisah penting. Ocha mau menunjukkan satu hal ini. Bahwa pendidikan karakter tidak cukup diajarkan di buku. Atau di sekolah.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM
Wilfrid Babun SVD 

Catatan kegelisahan

Oleh: Wilfrid Babun, SVD
Pegiat Literasi TBM St.Josef Freinademetz Tambolaka Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Saya gelisah. Geli itu sah? Sabtu, 9 Mei 2026. Di babak final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat. 

Ada sebuah mikrofon kecil di tangannya. Dia seorang siswi kelas 11 SMAN 1 Pontianak.Suaranya tampak gelisah. Dan mengguncang ruang yang seharusnya menjunjung kejujuran. Mungkin termasuk pembaca acara yang gamang mengatakan kalau Ocha kebawa rasa?!

Namanya lengkapnya Yosepha Alexandra Roxa Potifera. Teman-temannya familiar memanggilnya Ocha. Ia berdiri di panggung mewakili Regu C SMAN 1 Pontianak. 

Ketika bel ditekan, ia menjawab pertanyaan:  tentang proses pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Ini jawabannya, biar kita catat bersama dengan jelas: Anggota BPK dipilih DPR dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan diresmikan Presiden.

Baca juga: Opini: Anak Sekecil Itu, sebuah Cerminan

Jawaban itu dinilai salah. Kata dewan juri, seorang bapak berkaca mata. Timnya mendapat pengurangan 5 poin. Minus lima (5).

Beberapa menit kemudian, tim lain menjawab dengan substansi yang identik untuk pertanyaan serupa. Juri yang sama memberikan nilai penuh 10. Yang ini angka full. Ocha dkk minus.

Di sinilah Ocha menolak bungkam. Ia protes. Bukan dengan emosi kosong, tetapi dengan keyakinan. Apa? Bahwa jawaban yang ia sampaikan sesuai bunyi undang-undang. 

Respons yang ia terima justru lebih menyakitkan: Poin minus. Pembawa acara seorang ibu cantik dandan apik mengatakan: “Itu cuma perasaan kamu”!

Ada persoalan yang lebih besar dan serius dari sebuah aktivitas lomba. Ketika suara anak muda yang membawa fakta dianggap “perasaan”, maka ruang publik kita juga terasa sedang sakit. 

Padahal LCC Empat Pilar MPR RI dibentuk untuk menguji pemahaman pelajar tentang Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, empat pilar yang menuntut keadilan, kejujuran, dan penghormatan terhadap hak setiap warga negara.

Data dan fakta mendukung Ocha.

Pasal 23F UUD 1945 secara tegas menyatakan: "Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah, dan diresmikan oleh Presiden.”

Ketentuan ini merupakan hasil amandemen UUD 1945. Sebelum amandemen, kewenangan memilih anggota BPK berada di tangan Presiden. Setelah amandemen, DPR memegang kewenangan utama, dengan DPD diberi peran memberi pertimbangan. 

Ketentuan turunan juga diatur dalam UU No. 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan. UU ini menegaskan mekanisme seleksi dan pengangkatan anggota BPK mengikuti amanat Pasal 23F UUD 1945. 

Sejarahnya, UU No. 17 Tahun 1965 dan UU No. 5 Tahun 1973 sempat menempatkan kewenangan di Presiden. Pasca-amandemen konstitusi, pusat kewenangan di lembaga DPR.

Artinya, jawaban Ocha bukan “perasaan”. Itu bunyi konstitusi. Sangat konstitusional. 

Nun nalar, dan nir emosional. Penilaian juri yang menyatakan salah, lalu memberi nilai penuh pada jawaban identik dari tim lain, menunjukkan inkonsistensi yang tidak bisa dibenarkan dalam kompetisi akademik. Malahan kalau jujur, juri yang salah. Minus.

Ocha punya data, jejak prestasi. Ia pernah menjadi Juara 2 Lomba Cerdas Cermat Kebangsaan 2025, Juara LCC Empat Pilar MPR RI tingkat Kalbar 2025, dan runner up di ajang yang sama pada 2026. 

Ia juga aktif di Generasi Berliterasi Pontianak, menggerakkan kegiatan literasi bagi remaja. Keberaniannya di panggung final bukan keberanian sesaat. 

Tetapi itu simbol  dari kebiasaan berpikir kritis yang ia bangun. Kritis untuk juga mengatakan, tidak. Kalau Ocha benar, maka dinyatakan salah?

Ini kisah penting. Ocha mau menunjukkan satu hal ini. Bahwa pendidikan karakter tidak cukup diajarkan di buku. Atau di sekolah. Tetapi itu harus dipraktikkan. Harus mampu membentuk mindset dan culture set. 

Bahkan ketika pentas -panggungnya tidak ramah. Ia menolak membiarkan kesalahan dibiarkan berlalu. Ataukah  karena LCC ini yang tampil dan berbicara adalah “pelajar”, inferior, marginal. 

Ocha seakan berteriak kuat-kuat menolak diam dan membiarkan “4 Pilar” menjadi slogan tanpa isi. Hanya omon-omon sa.

Pendidikan sukses kalau ada anak muda  kritis, cerdas. Tetapi apa yang terjadi atas diri seorang anak didik cerdas ini? Saat mereka bersuara, kita yang memiliki mikrofon, panggung, gelar berlaksa-laksa, suruh diam. 

Tutup mulut. Kita ajarkan Pancasila di kelas, tetapi kita lupakan keadilan di panggung lomba. 

Sikap Ocha mengingatkan: nilai-nilai kebangsaan tidak hidup di spanduk, di meja banyak dari kita yang kebetulan beruntung. 

Tetapi di keberanian untuk berkata benar Mungkin banyak dari kita memilih diam. Dan bungkam. Tetapi Ocha, tidak. 

Suaranya sudah viral. Keren! (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved