Minggu, 17 Mei 2026

Opini

Opini: Quo Vadis Pendidikan di Nusa Tenggara Timur?

Tujuan pendidikan mewajibkan pemerintah untuk memerhatikan pendidikan nasional secara benar dan bertanggung jawab. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ARIS WAWO
Aris Wawo, SVD 

Oleh: Aris Wawo, SVD
Guru di SMA Sto. Arnoldus Janssen Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Pendidikan pada hakikatnya adalah memanusiakan manusia. Tujuan pendidikan secara gamblang dijelaskan pada Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 Bab 2, pasal 3.

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.    

Tujuan pendidikan tersebut, mewajibkan pemerintah untuk memerhatikan pendidikan nasional secara benar dan bertanggung jawab. 

Benar, berarti pemerintah berkomitmen menjamin pendidikan yang kontekstual dan berkualitas. 

Baca juga: Opini: Anak Anak Itu Hanya Meminta Didengar

Bertanggung jawab, berarti pemerintah mengawasi proses pembelajaran secara terstruktur dan terukur. Pemerintah adalah pihak pertama dan terutama dalam mencerdaskan generasi bangsa ini.

Pembangunan manusia yang utuh (holistik) adalah hakikat pendidikan. Keutuhan itu tercermin dalam empat indikator kunci yang ditekankan pada setiap satuan pendidikan yaitu: kompetensi spiritual, akademik, psikomotorik dan sosial.

Keempat komponen ini menjadi pilar utama membangun pribadi terdidik secara holistik. 

Murid tidak cukup mengetahui Tuhan, yang paling penting ia paham tentang Tuhan dan mengalami-Nya dalam hidup. 

Murid tidak cukup mengetahui materi, tapi memiliki keterampilan terhadap sesuatu (learning by doing). Keterampilan adalah wujud konkret dari kemampuan berpikir. 

Dan pengetahuan yang dimilikinya menjadi inspirasi untuk bertindak benar yang tampak pada pembentukan karakter dalam kehidupan sehari-hari. 

Murid dididik untuk mencintai Tuhan, kemanusiaan, lingkungan hidup (ekologi) dan dirinya. Mereka dibina untuk mencintai alam dan isinya secara utuh. 

Awal Mula Pendidikan di NTT

Pendidikan di NTT sejak awal secara masif dipelopori Misi Katolik dan Zending. 

Banyak sekolah Katolik yang dibangun oeh para misionaris di tingkat satuan dasar sampai perguruan tinggi. 

Tidak sedikit putra dan putri NTT yang telah menjadi pemimpin di tingkat daerah dan nasional dibina dan dibesarkan  sekolah-sekolah misi. Pendidikan benar-benar menjadi prioritas misi pada masa itu.

Para misionaris memberi perhatian pada tiga bidang yaitu numerasi, literasi, musik dan sastra. Ada beberapa misionaris dari latar belakang science diutus ke kepulauan ini untuk memberi perhatian pada pendidikan. 

Mereka mengajar tentang aljabar, ilmu alam dan fisika. Mereka melatih murid untuk berhitung dengan benar dan mampu menganalisa gejala-gejala alam.

Kemampuan literasi dilakukan dengan beberapa cara. Salah satu cara adalah membaca Kitab Suci. Prof. Dr. Fransiskus Bustan, M.Lib misalnya, dalam salah satu pertemuan bersama semua kepala sekolah se-kota Kupang mengisahkan bahwa kemampuan literasinya meningkat ketika ia tekun membaca kitab suci. 

"Pada masa itu, belum ada perpustakaan, yang ada adalah kitab suci dan kami diminta untuk membacanya. Kitab Suci adalah satu-satunya buku yang dimiliki saat itu," kenangnya.

Selain menumbuhkan kemampuan literasi dan numerasi, mereka juga memberi perhatian pada musik dan sastra. Para murid dilatih untuk bernyanyi dan bermain musik dengan benar. 

Mereka memberi kesempatan kepada para murid untuk mementas drama dan teater. Alhasil beberapa menjadi sastrawan dan komponis.
 
Para misionaris awal bekerja tanpa pamrih untuk meningkatkan pendidikan di NTT dengan cara-cara yang benar. Mereka mendidik generasi bangsa ini dengan tekun dan disiplin. Disiplin adalah fondasi segala-galanya.

Bagaimana Pendidikan di NTT Saat ini?

Pendidikan di NTT saat ini mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Sejumlah sekolah sudah memiliki fasilitas yang lengkap. 

Ada beberapa sekolah yang menerapkan dua bahasa (bi-lingual) dan sekolah-sekolah internasional dengan kurikulum yang berbeda. 

Selain itu, ada beberapa prestasi internasional yang diraih oleh putra dan putri NTT. Kita bangga, tentu.

Pada pihak lain, pendidikan di NTT mengalami masalah yang serius. Ada beberapa masalah serius yang dihadapi saat ini sesuai dengan pengalaman penulis. 

Pertama, sejumlah sekolah masih belum memiliki fasilitas yang memadai. Beberapa sekolah di NTT sudah viral di beberapa platform digital karena bangunan dan fasilitas-fasilitas pendukung masih belum memadai. Selain itu, akses jalan ke lembaga-lembaga pendidikan masih sulit. 

Kedua, Kemampuan Literasi Yang Rendah. Di beberapa wilayah, masih terdapat murid yang tidak mampu membaca. Ada pengalaman pastoral yang menunjukkan kebenaran ini. 

Seorang imam meminta seorang pelajar SMP untuk membaca bacaan pertama pada perayaan ekaristi di salah satu wilayah, pelajar itu tidak dapat membaca. Dan seorang Frater (calon Imam) pada salah satu Sekolah Menengah Atas harus meluangkan waktu khusus untuk melatih beberapa murid yang belum dapat membaca.

Ketiga, kemampuan numerasi dasar yang rendah.  Perkalian, pembagian, penjumlahan dan pengurangan adalah materi-materi numerasi dasar yang diajarkan di satuan pendidikan dasar, namun masih terdapat sejumlah murid yang tidak dapat menghitung tepat tingkat menengah atas. 

Beberapa sekolah harus memiliki program khusus untuk membimbing sejumlah murid dengan masalah ini.  

Solusi Alternatif Terhadap Tiga Masalah

Ketiga masalah tersebut butuh solusi. Pemerintah, Lembaga Pendidikan dan Orang Tua adalah tiga komponen penting yang harus bersinergi untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. 

Pertama, Pemerintah. Pemerintah diminta untuk memberi perhatian pada pendidikan secara masif dan berkelanjutan. Di Nagekeo misalnya, sejak 2020 ada kerja sama bilateral Pemerintah Indonesia-Australia. 

Kerja sama ini dalam bidang peningkatan literasi melalui program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI). 

INOVASI berhasil membangun 109 perpustakaan ramah anak, membimbing dan mendampingi para guru dan pustakawan pada setiap perpustakaan, agar para murid dapat meningkatkan kemampuan literasi. 

Pada tahun 2024, lebih dari 70 persen siswa SD di Nagekeo memenuhi standar minimum literasi. 

Baca juga: Opini: Ocha Pemenang Sejati 

Praktik baik seperti ini dapat menjadi rujukan bagi pemerintah NTT untuk melakukan hal yang sama di semua kabupaten. Saya yakin pendidikan di NTT akan mengalami kemajuan yang signifikan. 

Selain itu, pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mengontrol proses pembelajaran yang terjadi pada setiap satuan pendidikan secara sistematis dan terukur. 

Regulasi ditetapkan sesuai dengan tujuan pendidikan. Regulasi yang “memaksa” setiap satuan pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah keharusan. 

Fungsi kontrol dari pemerintah yang teratur dapat menjadi kekuatan untuk memastikan satuan pendidikan berhasil menjalankan amanah Negara.  Dan yang tidak kalah penting adalah, pemerintah harus menjadi teladan. 

Keteladanan jauh lebih kuat dari sekadar kata-kata motivasi. Keteladanan adalah contoh dan inspirasi. 

Pemerintah harus menjadi teladan dalam birokrasi yang bersih, keberpihakan pada alam (ekologi) dan keadilan hukum serta kemampuan literasi yang mumpuni.

Kedua, Lembaga Pendidikan. Lembaga pendidikan sebagai lembaga formal yang hadir untuk mencerdaskan generasi bangsa. 

Tujuan ini belum dilaksanakan secara maksimal oleh satuan-satuan pendidikan. Masih terdapat sejumlah guru yang belum melaksanakan tanggung jawab dengan benar. 

Boleh jadi, guru belum menjadi teladan dan inspirasi dalam belajar dan pembelajaran. 

Guru masih bersikap acuh tak acuh, sehingga materi-materi dasar di tingkat satuan pendidikan dasar belum mampu dipahami murid. 

Guru yang tidak kreatif dan inovatif adalah guru yang mengaburkan tujuan pendidikan. 

Peningkatan kualitas guru, hemat penulis adalah kewajiban. Tidak cukup guru itu bersertifikasi, lembaga pendidikan harus memiliki program pendampingan guru secara berkala melalui In-House Training (IHT) dan hari belajar guru.

Guru memastikan para murid di satuan pendidikan dasar tidak memiliki kesulitan pada literasi dan numerasi dasar. Guru itu panggilan dan profesi. 

Sebagai panggilan, guru dipanggil untuk berpihak pada murid, terutama kepada murid-murid yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran. 

Sebagai profesi, guru tidak pernah selesai belajar. Belajar seumur hidup adalah filosofi seorang guru.

Ketiga, Orang Tua dan Wali. Salah satu komponen yang sangat penting dalam mencerdaskan generasi bangsa ini adalah Orang Tua dan Wali. Murid lebih banyak menghabiskan waktu bersama Orang Tua dan Wali. 

Keluarga adalah sekolah pertama dan terutama. Di balik murid yang hebat ada Orang Tua dan Wali yang hebat.

Atas cara tertentu, Orang Tua dan Wali adalah guru pertama dan terutama. Orang Tua dan Wali memiliki andil yang sangat penting dalam mencerdaskan anaknya. 

Mereka dapat mengontrol anak-anak untuk belajar mandiri dan mengembangkan talentanya. Tugas Orang Tua dan Wali mnciptakan suasana rumah bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak di bidang akademik, keterampilan, sosial dan psikologis.

Gubernur NTT, Bapak Melkiades Laka Lena, S.Si., Apt bersama Wakil Gubernur Irjen Pol (Purn) Dr. Johni Asadoma, M.Hum pada 2 Mei 2026 meluncurkan Pergub gerakan jam belajar. 

Pergub ini bertujuan untuk menjaga ekosistem belajar di rumah. Dukungan pemerintah daerah terhadap kualitas belajar murid menjadi bukti bahwa pemerintah bertanggung jawab terhadap mutu pendidikan di NTT

Orang Tua dan Wali adalah mitranya yang sangat penting dalam mewujudkan pergub ini.

Penutup

Pendidikan di NTT memiliki masalah yang kompeks. Beberapa masalah yang dicatat pada tulisan ini dinilai mendesak untuk memperoleh solusi. 

Salah satu solusi yang dapat menjadi inspirasi adalah menjadikan semua masyarakat sebagai guru dan semua wiayah sebagai tempat belajar. Filosofi ini sejak awal dijalankan oleh Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. 

Pemerintah, Lembaga Pendidikan dan Orng Tua dan Wali adalah tiga komunitas utama dan terutama dalam mencrdaskan generasi bangsa. 

Ketiganya adalah guru, dan ketiganya adalah sekolah. Masing-masing komunitas bersinergi, bekerja sama  untuk membentuk putra dan putri NTT mencapai masa depan yang cerah. (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved