Opini
Opini: Mengapa Kamu Berdiri Melihat ke Langit?
Kita dapat sangat religius di ruang publik, tetapi gagal mendengar tangisan yang tersembunyi di rumah rumah kecil.
Seperti pohon lontar yang tetap berdiri di tanah kering dan tetap memberi hidup, demikian pula masyarakat kecil NTT sering bertahan dalam sunyi tanpa banyak sorotan.
Masih ada orang orang sederhana yang memilih tinggal ketika dunia memilih pergi. Dan mungkin justru di situlah makna kenaikan Kristus harus dibaca hari ini.
Kenaikan Kristus bukan ajakan meninggalkan bumi. Sebaliknya, itu adalah panggilan agar manusia tidak meninggalkan manusia lain. Kristus terangkat, tetapi dunia tetap membutuhkan saksi.
Bukan saksi yang hanya pandai berbicara tentang surga, tetapi saksi yang bersedia tinggal di tengah luka dunia. Saksi yang tidak cepat pindah dari penderitaan orang lain hanya karena viralitas sudah berganti topik.
Sebab dunia tidak kekurangan orang pintar. Dunia mulai kekurangan orang yang mau tinggal.
Dan mungkin itu tantangan terbesar masyarakat kita sekarang. Kita terlalu cepat bergerak. Terlalu cepat bereaksi. Terlalu cepat lupa.
Kita menjadi masyarakat yang mudah tersentuh sesaat, tetapi sulit bertahan dalam empati yang panjang. Padahal penyembuhan selalu membutuhkan kehadiran yang bertahan.
Karena itu, Hari Kenaikan seharusnya tidak berhenti sebagai ritual gerejawi tahunan. Ia harus menjadi panggilan moral bagi gereja dan masyarakat untuk kembali turun menyentuh bumi. Bukan sibuk menatap langit sambil melupakan manusia.
Misi gereja hari ini bukan sekadar membuat orang semakin religius. Tetapi memastikan manusia tidak kehilangan kemanusiaannya.
Kristus memang terangkat. Tetapi luka dunia belum selesai. Anak muda masih pergi. Perempuan perempuan masih menangis diam diam. Guru guru masih lelah. Rumah rumah masih menyimpan ketakutan. Dan banyak orang masih menunggu seseorang sungguh sungguh hadir untuk menyembuhkan.
Karena itu, pertanyaan malaikat itu mungkin belum selesai bergema untuk NTT hari ini: “Mengapa kamu berdiri melihat ke langit?” (*)
Daftar Rujukan
- Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur. (2026). Indeks pembangunan manusia Provinsi Nusa Tenggara Timur 2025. https://ntt.bps.go.id
- Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur. (2026). Keadaan ketenagakerjaan Provinsi Nusa Tenggara Timur Februari 2026. https://ntt.bps.go.id
- Brady, W. J., Wills, J. A., Jost, J. T., Tucker, J. A., & Van Bavel, J. J. (2017). Emotion shapes the diffusion of moralized content in social networks. Proceedings of the National Academy of Sciences, 114(28), 7313–7318. https://doi.org/10.1073/pnas.1618923114
- Bonhoeffer, D. (2005). Ethics. Fortress Press.
- Roberts, J. (2021). Empathy cultivation through (pro)social media: A counter to compassion fatigue. Journalism and Media, 2(4), 502–521. https://doi.org/10.3390/journalmedia2040029
- Wright, N. T. (2008). Surprised by hope: Rethinking heaven, the resurrection, and the mission of the church. HarperOne.
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Mozes-Hendrik-Wadu-Neru-05.jpg)