Opini
Opini: Mengapa Kamu Berdiri Melihat ke Langit?
Kita dapat sangat religius di ruang publik, tetapi gagal mendengar tangisan yang tersembunyi di rumah rumah kecil.
Karena itu, banyak tragedi sosial hari ini bergerak bukan terutama karena kedalaman empati, tetapi karena cepatnya emosi diproduksi dan disebarkan. Kita mudah tersentuh, tetapi juga mudah pindah.
Dan perlahan, masyarakat mulai mengalami kelelahan empati. Roberts menyebut kondisi ini sebagai compassion fatigue, yakni situasi ketika manusia terlalu sering terpapar penderitaan melalui media hingga perlahan kehilangan daya tinggal bersama rasa sakit orang lain (Roberts, 2021).
Kita marah sebentar. Bersedih sebentar. Lalu bergerak lagi ke berita berikutnya.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Kamis 14 Mei 2026: Aku Menyertai Kamu Sampai Akhir Zaman!
Padahal di balik semua keramaian itu, ada realitas sosial yang jauh lebih sunyi. Data BPS NTT tahun 2025 menunjukkan angka kemiskinan masih berada di kisaran 17,50 persen.
Banyak anak muda perlahan meninggalkan kampung untuk mencari hidup di Bali, Kalimantan, Batam, atau Malaysia.
Mereka pergi bukan selalu karena ingin meninggalkan tanah kelahiran, tetapi karena kampung sering gagal memberi ruang bertahan hidup yang layak.
Sementara itu, para guru PPPK hidup dalam kecemasan panjang tentang status dan kepastian hidup.
Mereka tetap mengajar di ruang kelas sederhana, tetap mendampingi anak anak yang datang dengan sepatu rusak dan wajah mengantuk, tetapi sering merasa negara terlalu lambat mendengar kelelahan mereka.
Ironisnya, pendidikan hari ini kadang lebih sibuk mengejar lomba dan seremoni daripada sungguh sungguh memulihkan manusia.
Mungkin karena itu, Hari Kenaikan Yesus Kristus tahun ini terasa penting dibaca bukan hanya sebagai perayaan gerejawi, tetapi sebagai cermin sosial bagi NTT yang sedang sibuk melihat ke mana mana, tetapi perlahan kehilangan kemampuan menatap manusia dengan utuh.
Dalam Kisah Para Rasul 1:6–11, para murid berkumpul di sekitar Yesus setelah kebangkitan. Tetapi menariknya, pertanyaan mereka justru masih sangat politis: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”
Mereka masih sibuk memikirkan kejayaan politik. Mereka berharap Yesus segera membereskan situasi nasional, memulihkan kemenangan Israel dan menghadirkan perubahan yang besar secara publik.
Tetapi Yesus justru mengalihkan fokus mereka. Ia tidak membawa murid murid masuk ke euforia kekuasaan. Ia mengarahkan mereka menjadi saksi. Bukan penonton. Bukan pengagum langit. Tetapi saksi yang tinggal di bumi.
Lalu setelah Kristus terangkat, datanglah pertanyaan malaikat yang sangat tajam itu: “Mengapa kamu berdiri melihat ke langit?”
Pertanyaan ini sebenarnya bukan sekadar teguran fisik kepada murid murid yang terpaku ke atas. Ini adalah kritik terhadap spiritualitas yang terlalu sibuk memandang langit tetapi lambat membaca luka bumi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Mozes-Hendrik-Wadu-Neru-05.jpg)