Opini
Opini: Mengapa Kamu Berdiri Melihat ke Langit?
Kita dapat sangat religius di ruang publik, tetapi gagal mendengar tangisan yang tersembunyi di rumah rumah kecil.
Sebuah kritik terhadap manusia yang terlalu terpesona pada simbol simbol besar, tetapi kehilangan keberanian hadir di tengah penderitaan nyata.
N. T. Wright mengingatkan bahwa Kenaikan Kristus bukan berarti Kristus meninggalkan dunia, melainkan cara baru Allah memerintah dan hadir di tengah dunia yang terluka (Wright, 2008).
Karena itu, peristiwa kenaikan bukan ajakan melarikan diri dari bumi, tetapi panggilan untuk tetap menjadi saksi di tengah realitas manusia. Dan bukankah ini juga sedang terjadi di sekitar kita?
Kita hidup di tengah budaya seremoni yang luar biasa aktif. Acara dibuat semakin besar. Panggung semakin megah. Konten semakin indah. Tetapi sering kali manusia di belakang semua keramaian itu tetap kesepian.
Kita dapat sangat religius di ruang publik, tetapi gagal mendengar tangisan yang tersembunyi di rumah rumah kecil.
Kita merayakan budaya dengan penuh kebanggaan, tetapi kadang lupa bertanya apakah budaya itu masih sungguh menyembuhkan manusia atau hanya menjadi tontonan identitas.
Bahkan politik hari ini sering terjebak pada budaya pencitraan. Isu rakyat mudah menjadi slogan, tetapi sulit menjadi keberpihakan yang bertahan panjang. Program program besar diumumkan dengan gegap gempita, tetapi rakyat kecil tetap menunggu kepastian hidup.
Koperasi rakyat dibicarakan sebagai harapan ekonomi baru, tetapi banyak warga masih bergumul dengan kebutuhan dasar sehari hari.
Dan ironisnya, masyarakat kita perlahan mulai terbiasa dengan semua itu. Kita marah sebentar lalu lupa. Kita viral sebentar lalu pindah. Kita sedih sebentar lalu kembali sibuk.
Dietrich Bonhoeffer pernah berkata bahwa gereja tidak cukup hanya membalut korban di bawah roda, tetapi juga harus menghentikan roda yang melindas manusia.
Kalimat ini terasa sangat relevan bagi gereja dan masyarakat NTT hari ini. Sebab luka sosial tidak cukup direspons dengan doa seremonial dan belas kasihan sesaat. Dunia membutuhkan keberanian tinggal dan merawat.
Namun tulisan ini tidak boleh berakhir muram. Karena di tengah kelelahan sosial itu, NTT belum kehilangan harapan. Masih ada banyak orang kecil yang diam diam menjaga dunia ini tetap manusiawi.
Masih ada guru yang mengajar dengan tulus meski status PPPK mereka belum jelas. Masih ada anak muda yang membuat gerakan sosial kecil untuk membantu korban bencana dan keluarga miskin.
Masih ada gereja yang mulai berani berbicara tentang kesehatan mental, perdagangan orang, kekerasan terhadap perempuan dan luka sosial yang selama ini disembunyikan.
Masih ada warga kampung yang menjaga toleransi tanpa harus memotretnya untuk media sosial. Masih ada budaya lokal yang menyimpan solidaritas komunal yang indah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Mozes-Hendrik-Wadu-Neru-05.jpg)