Opini
Opini: Mengapa Kamu Berdiri Melihat ke Langit?
Kita dapat sangat religius di ruang publik, tetapi gagal mendengar tangisan yang tersembunyi di rumah rumah kecil.
Kenaikan Kristus di Tengah NTT yang Sibuk Viral tetapi Lelah Menyembuhkan
Oleh: John Mozes Hendrik Wadu Neru
Pendeta GMIT yang berkarya di Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur.
johnmhwaduneru@gmail.com
POS-KUPANG.COM - Beberapa hari terakhir, Nusa Tenggara Timur kembali ramai. Linimasa media sosial bergerak cepat seperti angin musim timur yang tidak pernah benar benar tinggal di satu arah. Bentrok di Adonara menjadi perbincangan panas.
Orang saling membagikan video, potongan emosi dan kemarahan. Di Liliba, seorang perempuan ditemukan meninggal dan publik kembali gaduh dalam rasa penasaran yang bercampur duka.
Polemik Tour de EnTeTe memantik debat tentang anggaran, pencitraan dan prioritas pembangunan. Di sisi lain, Bulan Budaya GMIT dipenuhi tarian, pakaian adat dan perayaan identitas.
Sementara itu, keresahan PPPK terus berputar dalam percakapan para guru yang diam diam mulai lelah berharap.
Baca juga: Opini: Doa Syafaat untuk Status PPPK
Sekolah sekolah sibuk lomba dan seremoni pendidikan, tetapi banyak ruang belajar masih kekurangan rasa aman dan perhatian.
NTT hari ini terasa seperti rumah adat tua yang tetap berdiri di tengah angin keras, tetapi mulai menyimpan retakan yang tidak selalu terlihat dari luar. Dari kejauhan, semuanya tampak meriah. Musik sasando tetap dimainkan.
Festival budaya tetap digelar. Konten media sosial tetap penuh warna. Tetapi di banyak rumah kecil, orang diam diam sedang menahan letih hidup yang panjang.
Kita hidup dalam budaya yang sangat cepat bereaksi, tetapi sangat cepat pula kehilangan daya tinggal bersama luka.
Sebuah tragedi bisa menjadi pembicaraan besar hanya dalam beberapa jam, lalu tenggelam oleh viralitas berikutnya.
Kita membagikan rasa sedih dengan cepat, tetapi sering tidak cukup lama tinggal untuk memulihkan. Kadang kadang, NTT hari ini lebih cepat membuat status belasungkawa daripada membangun ruang penyembuhan.
Media sosial memang membuat semua orang bisa bersuara. Tetapi suara yang terlalu ramai sering membuat luka kehilangan pendengar yang sungguh sungguh tinggal.
Orang berebut menjadi komentator, tetapi sedikit yang bersedia menjadi penyembuh. Kita hidup di zaman ketika berita luka lebih cepat menyebar daripada kemampuan manusia bertahan mendampingi mereka yang terluka.
Penelitian Brady dkk. menunjukkan bahwa emosi moral di media sosial memang mempercepat penyebaran sebuah isu, terutama ketika kemarahan, kesedihan dan penghakiman dipertontonkan secara publik (Brady et al., 2017).
Karena itu, banyak tragedi sosial hari ini bergerak bukan terutama karena kedalaman empati, tetapi karena cepatnya emosi diproduksi dan disebarkan. Kita mudah tersentuh, tetapi juga mudah pindah.
Dan perlahan, masyarakat mulai mengalami kelelahan empati. Roberts menyebut kondisi ini sebagai compassion fatigue, yakni situasi ketika manusia terlalu sering terpapar penderitaan melalui media hingga perlahan kehilangan daya tinggal bersama rasa sakit orang lain (Roberts, 2021).
Kita marah sebentar. Bersedih sebentar. Lalu bergerak lagi ke berita berikutnya.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Kamis 14 Mei 2026: Aku Menyertai Kamu Sampai Akhir Zaman!
Padahal di balik semua keramaian itu, ada realitas sosial yang jauh lebih sunyi. Data BPS NTT tahun 2025 menunjukkan angka kemiskinan masih berada di kisaran 17,50 persen.
Banyak anak muda perlahan meninggalkan kampung untuk mencari hidup di Bali, Kalimantan, Batam, atau Malaysia.
Mereka pergi bukan selalu karena ingin meninggalkan tanah kelahiran, tetapi karena kampung sering gagal memberi ruang bertahan hidup yang layak.
Sementara itu, para guru PPPK hidup dalam kecemasan panjang tentang status dan kepastian hidup.
Mereka tetap mengajar di ruang kelas sederhana, tetap mendampingi anak anak yang datang dengan sepatu rusak dan wajah mengantuk, tetapi sering merasa negara terlalu lambat mendengar kelelahan mereka.
Ironisnya, pendidikan hari ini kadang lebih sibuk mengejar lomba dan seremoni daripada sungguh sungguh memulihkan manusia.
Mungkin karena itu, Hari Kenaikan Yesus Kristus tahun ini terasa penting dibaca bukan hanya sebagai perayaan gerejawi, tetapi sebagai cermin sosial bagi NTT yang sedang sibuk melihat ke mana mana, tetapi perlahan kehilangan kemampuan menatap manusia dengan utuh.
Dalam Kisah Para Rasul 1:6–11, para murid berkumpul di sekitar Yesus setelah kebangkitan. Tetapi menariknya, pertanyaan mereka justru masih sangat politis: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”
Mereka masih sibuk memikirkan kejayaan politik. Mereka berharap Yesus segera membereskan situasi nasional, memulihkan kemenangan Israel dan menghadirkan perubahan yang besar secara publik.
Tetapi Yesus justru mengalihkan fokus mereka. Ia tidak membawa murid murid masuk ke euforia kekuasaan. Ia mengarahkan mereka menjadi saksi. Bukan penonton. Bukan pengagum langit. Tetapi saksi yang tinggal di bumi.
Lalu setelah Kristus terangkat, datanglah pertanyaan malaikat yang sangat tajam itu: “Mengapa kamu berdiri melihat ke langit?”
Pertanyaan ini sebenarnya bukan sekadar teguran fisik kepada murid murid yang terpaku ke atas. Ini adalah kritik terhadap spiritualitas yang terlalu sibuk memandang langit tetapi lambat membaca luka bumi.
Sebuah kritik terhadap manusia yang terlalu terpesona pada simbol simbol besar, tetapi kehilangan keberanian hadir di tengah penderitaan nyata.
N. T. Wright mengingatkan bahwa Kenaikan Kristus bukan berarti Kristus meninggalkan dunia, melainkan cara baru Allah memerintah dan hadir di tengah dunia yang terluka (Wright, 2008).
Karena itu, peristiwa kenaikan bukan ajakan melarikan diri dari bumi, tetapi panggilan untuk tetap menjadi saksi di tengah realitas manusia. Dan bukankah ini juga sedang terjadi di sekitar kita?
Kita hidup di tengah budaya seremoni yang luar biasa aktif. Acara dibuat semakin besar. Panggung semakin megah. Konten semakin indah. Tetapi sering kali manusia di belakang semua keramaian itu tetap kesepian.
Kita dapat sangat religius di ruang publik, tetapi gagal mendengar tangisan yang tersembunyi di rumah rumah kecil.
Kita merayakan budaya dengan penuh kebanggaan, tetapi kadang lupa bertanya apakah budaya itu masih sungguh menyembuhkan manusia atau hanya menjadi tontonan identitas.
Bahkan politik hari ini sering terjebak pada budaya pencitraan. Isu rakyat mudah menjadi slogan, tetapi sulit menjadi keberpihakan yang bertahan panjang. Program program besar diumumkan dengan gegap gempita, tetapi rakyat kecil tetap menunggu kepastian hidup.
Koperasi rakyat dibicarakan sebagai harapan ekonomi baru, tetapi banyak warga masih bergumul dengan kebutuhan dasar sehari hari.
Dan ironisnya, masyarakat kita perlahan mulai terbiasa dengan semua itu. Kita marah sebentar lalu lupa. Kita viral sebentar lalu pindah. Kita sedih sebentar lalu kembali sibuk.
Dietrich Bonhoeffer pernah berkata bahwa gereja tidak cukup hanya membalut korban di bawah roda, tetapi juga harus menghentikan roda yang melindas manusia.
Kalimat ini terasa sangat relevan bagi gereja dan masyarakat NTT hari ini. Sebab luka sosial tidak cukup direspons dengan doa seremonial dan belas kasihan sesaat. Dunia membutuhkan keberanian tinggal dan merawat.
Namun tulisan ini tidak boleh berakhir muram. Karena di tengah kelelahan sosial itu, NTT belum kehilangan harapan. Masih ada banyak orang kecil yang diam diam menjaga dunia ini tetap manusiawi.
Masih ada guru yang mengajar dengan tulus meski status PPPK mereka belum jelas. Masih ada anak muda yang membuat gerakan sosial kecil untuk membantu korban bencana dan keluarga miskin.
Masih ada gereja yang mulai berani berbicara tentang kesehatan mental, perdagangan orang, kekerasan terhadap perempuan dan luka sosial yang selama ini disembunyikan.
Masih ada warga kampung yang menjaga toleransi tanpa harus memotretnya untuk media sosial. Masih ada budaya lokal yang menyimpan solidaritas komunal yang indah.
Seperti pohon lontar yang tetap berdiri di tanah kering dan tetap memberi hidup, demikian pula masyarakat kecil NTT sering bertahan dalam sunyi tanpa banyak sorotan.
Masih ada orang orang sederhana yang memilih tinggal ketika dunia memilih pergi. Dan mungkin justru di situlah makna kenaikan Kristus harus dibaca hari ini.
Kenaikan Kristus bukan ajakan meninggalkan bumi. Sebaliknya, itu adalah panggilan agar manusia tidak meninggalkan manusia lain. Kristus terangkat, tetapi dunia tetap membutuhkan saksi.
Bukan saksi yang hanya pandai berbicara tentang surga, tetapi saksi yang bersedia tinggal di tengah luka dunia. Saksi yang tidak cepat pindah dari penderitaan orang lain hanya karena viralitas sudah berganti topik.
Sebab dunia tidak kekurangan orang pintar. Dunia mulai kekurangan orang yang mau tinggal.
Dan mungkin itu tantangan terbesar masyarakat kita sekarang. Kita terlalu cepat bergerak. Terlalu cepat bereaksi. Terlalu cepat lupa.
Kita menjadi masyarakat yang mudah tersentuh sesaat, tetapi sulit bertahan dalam empati yang panjang. Padahal penyembuhan selalu membutuhkan kehadiran yang bertahan.
Karena itu, Hari Kenaikan seharusnya tidak berhenti sebagai ritual gerejawi tahunan. Ia harus menjadi panggilan moral bagi gereja dan masyarakat untuk kembali turun menyentuh bumi. Bukan sibuk menatap langit sambil melupakan manusia.
Misi gereja hari ini bukan sekadar membuat orang semakin religius. Tetapi memastikan manusia tidak kehilangan kemanusiaannya.
Kristus memang terangkat. Tetapi luka dunia belum selesai. Anak muda masih pergi. Perempuan perempuan masih menangis diam diam. Guru guru masih lelah. Rumah rumah masih menyimpan ketakutan. Dan banyak orang masih menunggu seseorang sungguh sungguh hadir untuk menyembuhkan.
Karena itu, pertanyaan malaikat itu mungkin belum selesai bergema untuk NTT hari ini: “Mengapa kamu berdiri melihat ke langit?” (*)
Daftar Rujukan
- Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur. (2026). Indeks pembangunan manusia Provinsi Nusa Tenggara Timur 2025. https://ntt.bps.go.id
- Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur. (2026). Keadaan ketenagakerjaan Provinsi Nusa Tenggara Timur Februari 2026. https://ntt.bps.go.id
- Brady, W. J., Wills, J. A., Jost, J. T., Tucker, J. A., & Van Bavel, J. J. (2017). Emotion shapes the diffusion of moralized content in social networks. Proceedings of the National Academy of Sciences, 114(28), 7313–7318. https://doi.org/10.1073/pnas.1618923114
- Bonhoeffer, D. (2005). Ethics. Fortress Press.
- Roberts, J. (2021). Empathy cultivation through (pro)social media: A counter to compassion fatigue. Journalism and Media, 2(4), 502–521. https://doi.org/10.3390/journalmedia2040029
- Wright, N. T. (2008). Surprised by hope: Rethinking heaven, the resurrection, and the mission of the church. HarperOne.
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Mozes-Hendrik-Wadu-Neru-05.jpg)