Opini
Opini - Luka Keadilan di Panggung Empat Pilar Kebangsaan: Siapa yang Cermat?
Cuplikan Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI di Kalimantan Barat yang viral di media sosial.
Opini - Luka Keadilan di Panggung Empat Pilar Kebangsaan: Siapa yang Cermat?
Oleh: Hermina Disnawati
Dosen Unimor, Mahasiswa Pascasarjana Penelitian dan Evaluasi Pendidikan UNY
POS-KUPANG.COM - Cuplikan Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI di Kalimantan Barat yang viral di media sosial meninggalkan keprihatinan sekaligus rasa sesak yang sulit diabaikan.
Bukan hanya karena ada nilai yang dipersoalkan, tetapi karena di sana terlihat seorang siswa berdiri di hadapan panggung yang penuh otoritas, mencoba menjelaskan bahwa jawabannya tidak keliru.
Ia tidak berteriak. Ia tidak membuat gaduh. Ia meminta izin, mengulang jawaban, lalu berharap ada ruang untuk didengar.
Rasa sesak itu dekat dengan siapa pun yang pernah berada dalam ruang lomba. Menjawab di hadapan juri bukan pengalaman ringan. Ada tekanan untuk cepat, tepat, jelas, dan tidak mengecewakan sekolah.
Ketika seorang siswa masih mampu menyampaikan keberatan dengan tertib di tengah tekanan panggung, sorotan audiens, dan otoritas juri, yang tampak bukan sikap melawan, melainkan keberanian yang lahir dari kesadaran akan keadilan.
Kronologinya tampak sederhana. Seorang peserta menjawab pertanyaan tentang pemilihan anggota BPK dengan menyebut unsur pertimbangan DPD. Jawaban itu dinilai salah dan diberi nilai minus. Tidak lama kemudian, regu lain menyampaikan jawaban dengan substansi serupa dan justru dinilai benar.
Dari titik inilah keberatan muncul, karena peserta merasa jawabannya diperlakukan berbeda. Ketimpangan relasi semakin tampak ketika peserta mencoba memastikan kepada audiens apakah unsur “pertimbangan DPD” terdengar dalam jawabannya.
Penonton merespons bahwa mereka mendengar. Namun, suara audiens tidak menjadi pintu klarifikasi. Yang muncul justru penegasan bahwa keputusan berada di tangan dewan juri, disertai arahan agar peserta menerima keputusan tersebut.
Ketika alasan artikulasi digunakan untuk membenarkan nilai minus, muncul pertanyaan penting: apa sebenarnya yang dinilai, isi jawaban atau kejernihan pengucapan?
Jika substansi jawaban menjadi dasar penilaian, ruang verifikasi yang adil seharusnya dibuka sebelum keputusan akhir ditegaskan.
Dalam asesmen, kondisi seperti gangguan audio, mikrofon yang kurang jelas, keterbatasan pendengaran sesaat, atau tekanan panggung dapat menjadi construct-irrelevant variance, yaitu faktor di luar kompetensi utama yang ikut memengaruhi hasil penilaian.
Jika faktor semacam ini terjadi, persoalannya tidak dapat langsung dibebankan kepada peserta didik.
Fairness dan Potensi Bias Penilai
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Hermina-Disnawati-02.jpg)