Opini
Opini: Merawat Res Publica, Melawan Res Privata
Konsep res publica berasal dari tradisi republik klasik yang menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan perseorangan.
Pers harus memperkuat independensinya dari oligarki. Pendidikan harus kembali menjadi arena pembentukan manusia merdeka. Dan buruh harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan, bukan objek eksploitasi.
Pada akhirnya, memperingati Hari Buruh Sedunia, Hari Kebebasan Pers Internasional, dan Hari Pendidikan Nasional bukan soal mengenang sejarah.
Ia adalah ajakan untuk menentukan arah masa depan republik ini: apakah kita ingin hidup dalam negara yang dikelola demi kepentingan bersama, atau membiarkannya jatuh ke tangan kepentingan privat?
Pilihan itu akan menentukan apakah Indonesia tetap menjadi res publica (milik seluruh rakyat) atau perlahan berubah menjadi res privata milik segelintir elite. (*)
Referensi
- Arendt, Hannah. 1958. The Human Condition. Chicago: University of Chicago Press.
- Freire, Paulo. 1970. Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum.
Habermas, Jurgen. 1962. The Structural Transformation of the Public Sphere. MIT Press. - Polanyi, Karl. 1944. The Great Transformation. Beacon Press.
- UNESCO. 2025. World Press Freedom Report. Paris: UNESCO.
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gamalusi-Andreas-Soge.jpg)