Opini
Opini: Berpancasila Secara Progresif
Bahkan bulan Juni dirayakan sebagai bulan Bung Karno, karena hari kelahirannya pada 6 Juni, berikut wafatnya pada 21 Juni.
Oleh: Yonatan H.L. Lopo
Dosen Ilmu Politik FISIP Undana Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Setiap tanggal 1 Juni, semua orang Indonesia merayakan hari lahir Pancasila.
Bahkan bulan Juni dirayakan sebagai bulan Bung Karno, karena hari kelahirannya pada 6 Juni, berikut wafatnya pada 21 Juni.
Tulisan ini lahir dari keresahan akan cara kita merayakan Pancasila yang sangat seremonial, yakni upacara bendera plus pidato-pidato normatif para pejabat negara, tetapi minim substansi dan refleksi mendalam atas situasi terkini Republik Indonesia.
Situasi ini bisa jadi karena diskursus Pancasila mengalami stagnasi secara akademik, sekaligus kebuntuan pada level praksis.
Pada kedua aras ini, Pancasila menjadi benda mati yang dihafal, tetapi tidak pernah tumbuh secara dialektis.
Baca juga: Opini: Hermeneutika Pancasila di Era Postmodern
Pancasila disosialisasikan, tapi cahayanya sangat redup sebagai bintang penuntun yang dinamis. Untuk kedua alasan inilah tulisan ini disajikan.
Pancasila di meja akademik
Perdebatan kontemporer mengenai Pancasila adalah wacana seputar status Pancasila sebagai dasar negara, atau sebagai ideologi negara.
Rocky Gerung (2018) dalam sebuah artikel di Majalah Prisma dengan tegas mendefinisikan Pancasila sebagai ide penuntun, bukan ide pengatur.
Ia secara tegas menolak penyebutan Pancasila sebagai ideologi, dengan alasan bahwa di dalam Pancasila ada berbagai varian ideologi, yang dikompilasi oleh Soekarno, mulai dari humanisme, sosialisme, hingga liberalisme.
Oleh karena itu Pancasila tidak cukup kokoh berdiri sebagai ideologi untuk dikomparasikan dengan berbagai ideologi besar di dunia, seperti kapitalisme, liberalismne, sosialisme, hingga komunisme.
Pandangan ini harus dihormati, terlepas dari setuju atau tidak. Sementara pada sisi lain, pemerintah secara resmi menetapkan Pancasila sebagai ideologi negara dan menetapkan tanggal 1 Juni sebagai hari libur nasional melalui Kepres Nomor 24 Tahun 2016.
Selanjutnya pemerintah membentuk Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) pada tahun 2017, yang akhirnya bertransformasi menjadi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) pada tanggal 28 Februari 2018.
Masalahnya adalah banyak orang berdebat tentang Pancasila tetapi tidak pernah memeriksa ide awal Soekarno ketika merumuskan Pancasila.
Sejak awal, Pancasila lahir sebagai jawaban atas pertanyaan ketua Sidang BPUPKI, menyangkut dasar negara. Soekarno mengajukan Pancasila sebagai jawaban, bahwa di atas dasar sila-sila tersebutlah kita akan mendirikan negara-bangsa bernama Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yonatan-H-L-Lopo.jpg)