Sabtu, 9 Mei 2026

Opini

Opini - Merenungkan Peristiwa Mulia Selama Bulan Maria yang Bertepatan dengan Masa Paskah

Gereja Katolik dalam kearifan pedagogisnya, mengarahkan kekaguman manusia atas keindahan alam ini kepada Bunda Maria. 

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Joaquin De Santos Fahik, mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang 

Namun, jika kita menyelami dokumen Marialis Cultus nomor 31, terdapat prinsip yang sangat jelas bahwa devosi umat harus diselaraskan dengan masa liturgi. 

Masa Paskah adalah perayaan kemenangan Kristus atas maut. Peristiwa Mulia dalam doa Rosario mulai dari Kebangkitan, Kenaikan, hingga Maria Diangkat ke Surga adalah resonansi sempurna dari sukacita Paskah tersebut. 

Mengulang-ulang Peristiwa Sedih di tengah soraksorai kebangkitan Kristus secara teologis bisa terasa janggal, karena seolah-olah kita memisahkan doa pribadi dari arus besar doa Gereja Universal yang sedang merayakan kemenangan Kristus atas maut.

Dasar teologis dari kecenderungan ini adalah prinsip Lex Orandi, Lex Credendi atau apa yang kita doakan mencerminkan apa yang kita yakini. Masa Paskah merayakan Kristus yang bangkit dan hidup.

Oleh karena itu, merenungkan Peristiwa Mulia menjadi sangat relevan karena peristiwa-peristiwa tersebut membantu umat untuk memahami bagaimana Bunda Maria terlibat langsung dalam kemuliaan Putranya.

Paus Yohanes Paulus II dalam Surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae (2002) nomor 38 memberikan catatan penting. Ia menyatakan bahwa meskipun ada pembagian peristiwa harian yang sudah mapan, urutan tersebut tidak bersifat membatasi.

Ia justru menganjurkan fleksibilitas pastoral agar permenungan doa rosario dapat menjadi ringkasan Injil yang kontekstual. Dengan demikian, jika masa Paskah menuntut kita untuk bersukacita, maka Peristiwa Mulia adalah yang paling tepat untuk mengantar kita pada kedalaman misteri kebangkitan tersebut.

Maka, agar kehidupan devosional umat tetap selaras dengan ajaran Gereja universal tanpa mematikan semangat lokal, diperlukan sebuah pedagogi doa yang lebih cerdas.

Para pemimpin umat seperti ketua lingkungan atau katekis, sebaiknya memberikan pemahaman bahwa perubahan peristiwa Rosario bukanlah sebuah pelanggaran aturan, melainkan sebuah bentuk devosi yang menyatu dengan masa liturgi.

Kita dapat tetap mengikuti siklus mingguan yang ada, namun memberikan penekanan khusus pada hari-hari tertentu atau bahkan mengganti Peristiwa Sedih dengan Peristiwa Mulia selama bulan Mei yang berada dalam masa Paskah. Hal ini bertujuan agar umat benar-benar menghayati apa yang sedang dirayakan oleh Gereja di altar.

Keselarasan antara devosi dan liturgi adalah kunci utama. Jangan sampai penghormatan kita kepada Maria justru membuat kita lupa bahwa fokus utama dari setiap doa adalah Kristus yang bangkit.

Dengan menyesuaikan permenungan Rosario pada Peristiwa Mulia selama masa Paskah, kita sedang belajar untuk berteologi melalui doa.

Kita menghormati Maria bukan sebagai sosok yang terpisah dari sejarah keselamatan, melainkan sebagai pribadi yang paling pertama dan paling sempurna dalam mengimani kebangkitan.

Dengan demikian, semarak bulan Maria di NTT dapat menjadi momen pendalaman iman yang teologis, di mana setiap bulir rosario yang diputar membawa umat semakin dekat pada cahaya kemuliaan Paskah yang abadi. (*)

Ikuti opini dan berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved