Sabtu, 6 Juni 2026

Opini

Opini: Membangun Resiliensi Kota Lewat Aksi-Aksi Iklim Berbasis Alam

Sistem Mamar di Timor Barat, misalnya, menunjukkan bagaimana kebijaksanaan tradisional menjaga keberlanjutan sumber daya alam. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI VEBRONIA SOLO
Vebronia Solo 

Oleh: Vebronia Solo
Analis Lingkungan, Pengurus Komunitas Alumni Australia (KOALA) NTT.

POS-KUPANG.COM - Perubahan iklim bukan wacana abstrak. Dampaknya nyata dalam bentuk kekeringan, krisis air, angin kencang, dan naiknya permukaan laut yang dirasakan masyarakat Kota Kupang

Karena itu, Hari Lingkungan Hidup 5 Juni 2026 membawa pesan penting: melalui tema ‘Terinspirasi dari Alam, untuk Iklim, untuk Masa Depan Kita’, kita diajak menggali solusi-solusi berbasis alam (nature-based solutions) demi membangun resiliensi terhadap kerentanan ekologi dan sosial yang kita hadapi. 

Upaya memahami kerentanan iklim di Kota Kupang menemukan momentum berharga di Tahun 2020 melalui Program Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC), inisiatif internasional yang didukung oleh Uni Eropa dan United Cities and Local Governments Asia Pacific (UCLG ASPAC). 

Pelaksanaannya telah memperkuat kolabrasi lintas sektoral. Pemerintah, NGO, akademisi dan berbagai elemen masyarakat bekerja sama dalam penyediaan data-data inventarisasi gas rumah kaca (GRK) untuk penyusunan rencana-rencana aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. 

Baca juga: Opini: Menakar Krisis Iklim Kemarau Ekstrem dan Gejolak Vulkanik Lewotobi Laki-laki 

Program ini telah menjadi pijakan penting bagi penyusunan rencana-rencana pembangunan daerah yang lebih berketahanan iklim. 

Terlepas dari keberhasilan itu, narasi iklim di Kota Kupang masih berkutat pada isu sampah.  

Isu ini memang menjadi prioritas daerah, namun dominasi perhatian itu membuat aspek lain seperti pengendalian pencemaran air dan udara, serta kerusakan lahan seolah terpinggirkan. 

Padahal, data inventarisasi GRK menunjukkan sektor energi, khusus subsektor transportasi, sebagai kontributor emisi terbesar yakni 85,72 persen dari total emisi pada tahun 2024. 

Sementara itu, sektor limbah yang menempati posisi kedua dengan kontribusi 11,24 persen didominasi oleh subsektor limbah cair domestik.

Data GRK ini juga konsisten dengan evaluasi Indeks Kualitas Udara (IKU), yang menunjukkan kualitas udara lebih rendah di kawasan transportasi dibandingkan dengan kawasan pemukiman, industri, dan perkantoran—sebuah tren yang terus berulang sejak Tahun 2023. 

Selain itu, pengelolaan limbah cair yang belum optimal turut berkontribusi terhadap penurunan kualitas air permukaan. 

Evaluasi terhadap Indeks Kualitas Air (IKA) mengindikasikan potensi pencemaran organik yang tinggi, sehingga menyebabkan air sungai berstatus cemar ringan.

Temuan-temuan tadi mempertegas bahwa narasi lingkungan tidak bisa berhenti pada isu sampah semata. 

Penilaian kinerja daerah di bidang lingkungan hidup pun tidak terbatas pada Indeks Kinerja Pengelolaan Sampah (IKPS), tapi juga Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) yang mencakup aspek udara, air, lahan, dan air laut. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved