Opini
Opini: Menjadi Manusia Indonesia Merdeka di Tengah Bahaya Populisme
Tan Malaka percaya bahwa hanya dengan cara berpikir logis dan terstruktur, rakyat Indonesia dapat memahami dan melawan penjajahan.
Oleh: Gebrile Mikael Mareska Udu
Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
POS-KUPANG.COM - Kemerdekaan sering dipahami sebagai situasi terbebas dari penjajahan bangsa asing.
Dalam sejarah bangsa, usaha mencapai kemerdekaan itu telah melahirkan citra manusia Indonesia yang merdeka.
Mereka adalah sosok yang berdiri tegak membela rakyat kecil di depan penindasan kolonial—sosok yang berpikir kritis, berani bersuara, tidak tunduk pada kuasa, sulit diajak kompromi—demi martabat luhur sebuah bangsa.
Merekalah corong kebenaran di tengah tipu muslihat penjajah. Di hadapan penjajah ada yang tampil agresif-revolusioner, ada pula yang menawarkan pendekatan humanis-reflektif.
Dewasa ini, citra manusia Indonesia yang merdeka sangat dibutuhkan. Bukan lagi melawan bangsa kolonial melainkan struktur kepemimpinan yang cenderung populis.
Baca juga: Opini: Kerugian Negara dan Alarm Tata Kelola Keuangan Publik
Penindasan tidak selalu dalam bentuk penjajahan fisik, tetapi juga melalui praktik kekuasaan yang membungkam kritik, memelihara ketakutan, memanfaatkan penderitaan rakyat demi kepentingan politik tertentu serta mengontrol aspirasi publik lewat janji-janji populis yang seringkali tidak berakar pada kenyataan.
Inilah wajah penjajahan gaya baru pasca kolonial (Urbinati, 2019).
Kita menyaksikan politik hari ini tidak lagi sepenuhnya bergerak melalui gagasan dan argumentasi yang rasional melainkan mengandalkan gimmick, kedekatan emosional, dan pencitraan untuk membangun legitimasi kekuasaan.
Rakyat tidak selalu diajak memahami persoalan secara kritis, tetapi lebih sering diarahkan untuk merasakan optimisme, kedekatan, dan kesederhanaan narasi yang dibangun penguasa.
Dalam situasi semacam ini, demokrasi perlahan berisiko berubah menjadi panggung pertunjukan politik, sementara persoalan-persoalan struktural yang nyata justru tersamarkan di balik euforia simbolik.
Oleh karena itu, kita membutuhkan sosok manusia Indonesia yang merdeka. Sosok yang mampu membongkar mentalitas bangsa di balik fenomena itu.
Ada dua pemikiran tokoh yang sangat berpengaruh dalam sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia yang dapat dijadikan teladan. Mereka adalah Tan Malaka—dengan nama asli Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka—dan Pramoedya Ananta Toer.
Pemikiran Tan Malaka
Tan Malaka adalah seorang revolusioner, pemikir, dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang mengabdikan hidupnya untuk cita-cita Indonesia merdeka dan berdaulat.
Ia dikenal sebagai tokoh yang berani menentang kolonialisme, hidup dalam pengasingan di berbagai negara, serta tetap setia memperjuangkan keadilan sosial bagi rakyat kecil.
Bagi Tan Malaka, tembok besar penghalang menuju Indonesia Merdeka adalah alam pikiran bangsa Indonesia yang masih didominasi oleh logika mistika.
Gebrile M. Mareska Udu
Gebrile Mikael Mareska Udu
Tan Malaka
Pramoedya Ananta Toer
Madilog
Opini Pos Kupang
kolonialisme
Meaningful
| Opini: Kerugian Negara dan Alarm Tata Kelola Keuangan Publik |
|
|---|
| Opini: Children helping Children a la Pangeran Cilik |
|
|---|
| Opini: Makna Pentahbisan Diakon dalam Perspektif Thomas Aquinas tentang Penggerak Pertama |
|
|---|
| Opini: Pelajaran dari Pancasila bagi Kebijakan Satu Peta |
|
|---|
| Opini: Ketika Luka Menjadi Pemandangan- NTT dan Kelelahan Merawat Sesama |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gebrile-Mikael-Mareska-Udu.jpg)