Opini
Opini: Bonus atau Beban Demografi?
Data SUPAS 2025 mencatat proporsi lansia telah mencapai sekitar 11,97 persen, melampaui batas 10 persen yang menjadi indikator
Oleh: Eduardus Johanes Sahagun, M.A
ASN Kemendukbangga/BKKBN Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Saat ini perubahan besar sedang terjadi dalam struktur penduduk Indonesia.
Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang baru saja dirilis oleh Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi sama seperti satu dekade lalu.
Jumlah penduduk terus bertambah, tetapi pertumbuhannya melambat. Di sisi lain, jumlah lansia meningkat, sementara angka kelahiran menurun.
Ini bukan sekadar data statistik, melainkan tanda bahwa arah pembangunan bangsa harus mulai menyesuaikan diri.
Data SUPAS 2025 mencatat jumlah penduduk Indonesia mencapai sekitar 284,67 juta jiwa, dengan laju pertumbuhan sebesar 1,08 persen per tahun.
Baca juga: Opini: Pendidikan Bukan Hanya Soal Sekolah
Angka ini menunjukkan tren perlambatan dibandingkan periode sebelumnya (BPS, 2026).
Di saat yang sama, struktur umur penduduk masih didominasi usia produktif, yaitu sekitar 68 persen.
Kondisi ini sering disebut sebagai bonus demografi, peluang besar bagi Negara untuk tumbuh lebih cepat jika dikelola dengan baik.
Namun, peluang ini tidak akan berlangsung selamanya, akan ada batas tertentu yang kemudian bisa terjadi beban tersendiri. Salah satu indikator penting dalam hal ini adalah rasio ketergantungan.
Tahun 2025, rasio ini berada di angka sekitar 45, yang berarti setiap 100 orang usia produktif menanggung sekitar 45 orang usia non-produktif.
Angka ini terlihat masih relatif moderat, tetapi menunjukkan tren meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Itu artinya, beban ekonomi dan sosial yang ditanggung kelompok produktif mulai bertambah.
Lebih jauh dari itu, Indonesia kini telah memasuki fase penuaan penduduk ( aging population).
Data SUPAS 2025 mencatat bahwa proporsi lansia telah mencapai sekitar 11,97 persen, melampaui batas 10 persen yang menjadi indikator suatu negara mulai menua.
Ini berarti jumlah penduduk usia lanjut mulai banyak, sementara kelompok usia muda semakin mengecil.
Memang perubahan ini terjadi secara perlahan, tetapi dampaknya akan sangat besar dalam jangka panjang. Penurunan angka kelahiran juga menjadi faktor penting.
Total Fertility Rate (TFR) Indonesia kini berada di angka sekitar 2,13, mendekati tingkat penggantian (replacement level) sebesar 2,1.
Hal ini menunjukkan keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) selama beberapa dekade terakhir.
Namun, jika tidak dijaga, angka kelahiran yang terlalu rendah bisa juga menimbulkan masalah baru, seperti kekurangan tenaga kerja di masa depan.
Dalam konteks inilah, Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) yang dijalankan oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN (kemendukbangga/BKKBN) menjadi sangat relevan.
Program ini tidak lagi hanya berbicara tentang pengendalian jumlah anak, tetapi lebih luas menjangkau, yaitu pembangunan keluarga berkualitas sepanjang siklus kehidupan.
Hal apa saja yang menjadi etensi serius dari Program Bangga Kencana? Pertama, meningkatnya rasio ketergantungan menuntut penguatan ketahanan keluarga. Keluarga harus mampu mandiri secara ekonomi dan sosial.
Dalam hal ini, program teknis seperti Bina Keluarga Balita (BKB), Bina Keluarga Remaja (BKR), hingga Bina Keluarga Lansia (BKL) menjadi penting.
Program-program ini membantu keluarga menghadapi berbagai fase kehidupan, mulai dari pengasuhan anak hingga perawatan lansia.
Kedua, bonus demografi yang masih berlangsung harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Penduduk usia muda yang besar dan banyak ini adalah aset berharga, bukan beban.
Namun, tanpa pendidikan, keterampilan, dan kesehatan yang baik, bonus demografi bisa berubah menjadi bencana demografi.
Oleh karena itu, program seperti Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) dan Generasi Berencana (GenRe) perlu diperkuat.
Remaja harus dipersiapkan menjadi generasi yang sehat, produktif, dan siap berkeluarga secara terencana.
Ketiga, penurunan angka kelahiran harus dijaga pada tingkat yang seimbang. Program Keluarga Berencana (KB) tetap penting, tetapi pendekatannya harus lebih adaptif dan inklusif.
Pola Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) tidak hanya melulu soal ‘dua anak lebih sehat’, tetapi juga tentang kualitas pengasuhan, kesehatan reproduksi, dan perencanaan masa depan keluarga.
Keempat, meningkatnya jumlah lansia menuntut perhatian yang lebih serius. Data menunjukkan bahwa sebagian besar lansia di Indonesia masih bergantung pada keluarga sebagai sumber hidup utama.
Ini menunjukkan bahwa keluarga tetap menjadi pilar utama dalam sistem sosial Indonesia.
Oleh karena itu, program yang mendukung kesejahteraan lansia, baik dari sisi kesehatan, sosial, maupun ekonomi, perlu diperkuat.
Dari keempat poin di atas, terlihat bahwa perubahan struktur penduduk ini menegaskan bahwa pembangunan tidak bisa lagi hanya berfokus pada kuantitas, tetapi harus beralih ke kualitas.
Isu seperti stunting, kesehatan ibu dan anak, pengasuhan anak dan pendampingan remaja serta pendidikan menjadi sangat penting. Keluarga menjadi titik awal dari semua itu.
Dari keluarga yang sehat dan berkualitas, akan lahir generasi yang mampu membawa Indonesia maju.
Menilik laporan UNFPA (2025), disebutkan bahwa Negara-Negara yang berhasil memanfaatkan bonus demografi adalah mereka yang mampu berinvestasi pada sumber daya manusia, terutama melalui pendidikan dan kesehatan.
Hal ini sejalan dengan arah kebijakan pembangunan keluarga di Indonesia saat ini.
Akhirnya, perubahan demografi bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, tetapi harus dipahami dan dikelola dengan bijak. Data SUPAS 2025 telah memberikan gambaran yang jelas bahwa Indonesia sedang berada di persimpangan penting.
Bonus demografi masih ada, tetapi tanda-tanda penuaan penduduk sudah mulai terlihat.
Di sinilah peran keluarga menjadi sangat strategis. Keluarga bukan hanya unit sosial terkecil, tetapi juga fondasi utama pembangunan bangsa.
Melalui keluarga yang berkualitas, Indonesia dapat memanfaatkan peluang bonus demografi sekaligus menghadapi tantangan penuaan penduduk.
Dengan kata lain, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh jumlah penduduk, tetapi oleh kualitas keluarga, dan di tengah perubahan zaman ini, Program Bangga Kencana menjadi salah satu kunci untuk memastikan bahwa setiap keluarga Indonesia mampu menjadi kuat, mandiri, dan sejahtera. (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Eduardus-Johanes-Sahagun-MA.jpg)