Jumat, 8 Mei 2026

Opini

Opini: Bonus atau Beban Demografi?

Data SUPAS 2025 mencatat proporsi lansia telah mencapai sekitar 11,97 persen, melampaui batas 10 persen yang menjadi indikator

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI EDUARDUS J. SAHAGUN
Eduardus Johanes Sahagun. 

Pola Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) tidak hanya melulu soal ‘dua anak lebih sehat’, tetapi juga tentang kualitas pengasuhan, kesehatan reproduksi, dan perencanaan masa depan keluarga.

Keempat, meningkatnya jumlah lansia menuntut perhatian yang lebih serius. Data menunjukkan bahwa sebagian besar lansia di Indonesia masih bergantung pada keluarga sebagai sumber hidup utama. 

Ini menunjukkan bahwa keluarga tetap menjadi pilar utama dalam sistem sosial Indonesia. 

Oleh karena itu, program yang mendukung kesejahteraan lansia, baik dari sisi kesehatan, sosial, maupun ekonomi, perlu diperkuat.

Dari keempat poin di atas, terlihat bahwa perubahan struktur penduduk ini menegaskan bahwa pembangunan tidak bisa lagi hanya berfokus pada kuantitas, tetapi harus beralih ke kualitas. 

Isu seperti stunting, kesehatan ibu dan anak, pengasuhan anak dan pendampingan remaja serta pendidikan menjadi sangat penting. Keluarga menjadi titik awal dari semua itu. 

Dari keluarga yang sehat dan berkualitas, akan lahir generasi yang mampu membawa Indonesia maju. 

Menilik laporan UNFPA (2025), disebutkan bahwa Negara-Negara yang berhasil memanfaatkan bonus demografi adalah mereka yang mampu berinvestasi pada sumber daya manusia, terutama melalui pendidikan dan kesehatan. 

Hal ini sejalan dengan arah kebijakan pembangunan keluarga di Indonesia saat ini.

Akhirnya, perubahan demografi bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, tetapi harus dipahami dan dikelola dengan bijak. Data SUPAS 2025 telah memberikan gambaran yang jelas bahwa Indonesia sedang berada di persimpangan penting. 

Bonus demografi masih ada, tetapi tanda-tanda penuaan penduduk sudah mulai terlihat. 

Di sinilah peran keluarga menjadi sangat strategis. Keluarga bukan hanya unit sosial terkecil, tetapi juga fondasi utama pembangunan bangsa. 

Melalui keluarga yang berkualitas, Indonesia dapat memanfaatkan peluang bonus demografi sekaligus menghadapi tantangan penuaan penduduk.

Dengan kata lain, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh jumlah penduduk, tetapi oleh kualitas keluarga, dan di tengah perubahan zaman ini, Program Bangga Kencana menjadi salah satu kunci untuk memastikan bahwa setiap keluarga Indonesia mampu menjadi kuat, mandiri, dan sejahtera. (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved