Opini
Opini: Bonus atau Beban Demografi?
Data SUPAS 2025 mencatat proporsi lansia telah mencapai sekitar 11,97 persen, melampaui batas 10 persen yang menjadi indikator
Ini berarti jumlah penduduk usia lanjut mulai banyak, sementara kelompok usia muda semakin mengecil.
Memang perubahan ini terjadi secara perlahan, tetapi dampaknya akan sangat besar dalam jangka panjang. Penurunan angka kelahiran juga menjadi faktor penting.
Total Fertility Rate (TFR) Indonesia kini berada di angka sekitar 2,13, mendekati tingkat penggantian (replacement level) sebesar 2,1.
Hal ini menunjukkan keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) selama beberapa dekade terakhir.
Namun, jika tidak dijaga, angka kelahiran yang terlalu rendah bisa juga menimbulkan masalah baru, seperti kekurangan tenaga kerja di masa depan.
Dalam konteks inilah, Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) yang dijalankan oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN (kemendukbangga/BKKBN) menjadi sangat relevan.
Program ini tidak lagi hanya berbicara tentang pengendalian jumlah anak, tetapi lebih luas menjangkau, yaitu pembangunan keluarga berkualitas sepanjang siklus kehidupan.
Hal apa saja yang menjadi etensi serius dari Program Bangga Kencana? Pertama, meningkatnya rasio ketergantungan menuntut penguatan ketahanan keluarga. Keluarga harus mampu mandiri secara ekonomi dan sosial.
Dalam hal ini, program teknis seperti Bina Keluarga Balita (BKB), Bina Keluarga Remaja (BKR), hingga Bina Keluarga Lansia (BKL) menjadi penting.
Program-program ini membantu keluarga menghadapi berbagai fase kehidupan, mulai dari pengasuhan anak hingga perawatan lansia.
Kedua, bonus demografi yang masih berlangsung harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Penduduk usia muda yang besar dan banyak ini adalah aset berharga, bukan beban.
Namun, tanpa pendidikan, keterampilan, dan kesehatan yang baik, bonus demografi bisa berubah menjadi bencana demografi.
Oleh karena itu, program seperti Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) dan Generasi Berencana (GenRe) perlu diperkuat.
Remaja harus dipersiapkan menjadi generasi yang sehat, produktif, dan siap berkeluarga secara terencana.
Ketiga, penurunan angka kelahiran harus dijaga pada tingkat yang seimbang. Program Keluarga Berencana (KB) tetap penting, tetapi pendekatannya harus lebih adaptif dan inklusif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Eduardus-Johanes-Sahagun-MA.jpg)