Sabtu, 2 Mei 2026

Opini

Opini: Kegemaran Membaca dan Membaca Kegemaran

Jadi, literasi bukan sekadar mata melewati huruf. Literasi adalah pikiran yang bekerja setelah huruf dibaca. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI LASARUS JEHAMAT
Lasarus Jehamat 

Anak yang rumahnya punya buku, orang tua yang bisa mendampingi belajar, listrik yang stabil, internet yang masuk akal, dan lingkungan yang menghargai pengetahuan memiliki bekal berbeda dengan anak yang sejak kecil harus bernegosiasi dengan kemiskinan (Bourdieu, 1986). 

NTT masih menghadapi kemiskinan serius. Pada September 2025, BPS mencatat persentase penduduk miskin NTT sebesar 17,50 persen, atau sekitar 1,03 juta orang. Angka ini turun, tetapi tetap bukan angka yang bisa diajak bercanda sambil minum kopi (BPS Provinsi NTT, 2026). 

Maka, kalau NTT tinggi dalam kegemaran membaca, itu kabar baik. Namun, kabar baik ini tidak boleh berubah menjadi obat tidur. Kelompok miskin dan pinggiran sering terlalu mudah ditenangkan dengan angka yang manis. 

Data tentang tingginya kegemaran membaca itu enak didengar. Tetapi kalau setelah itu sekolah tetap kekurangan guru, perpustakaan hanya hidup saat lomba, buku bermutu sulit diakses, dan anak-anak tetap belajar dalam kondisi terbatas, maka data tersebut menjadi selimut tebal yang membuat sistem tidur lebih nyenyak.

Amartya Sen menyebut pembangunan sebagai perluasan kapabilitas manusia (Sen, 1999). Dengan kacamata itu, pendidikan bukan sekadar membuat orang bisa membaca, melainkan membuat orang punya kemampuan untuk memilih hidup yang lebih bermartabat. 

Literasi harus memperluas daya pikir, daya tawar, dan daya hidup. Di NTT, ini penting sekali. Kemiskinan tidak hanya mengurangi isi piring. 

Kemiskinan juga sering mengurangi keberanian bertanya, kemampuan menolak manipulasi, dan kesempatan untuk keluar dari lingkaran nasib buruk.

Karena itu, ‘Kegemaran Membaca dan Membaca Kegemaran’ bukan sindiran untuk masyarakat NTT. Ini justru pembelaan. Masyarakat sudah menunjukkan modal dasar; mau membaca, mau tahu, mau bergerak. Yang belum cukup menyala adalah tanggung jawab sistem. 

Pemerintah, sekolah, kampus, perpustakaan, komunitas literasi, media, dan keluarga perlu bergerak dari pertanyaan “berapa banyak orang membaca?” menuju ke pertanyaan yang lebih penting, “apa yang berubah setelah orang membaca?”

NTT boleh bangga, tetapi jangan terlalu cepat puas. Minat baca adalah pintu, bukan rumah. Buku adalah jalan, bukan tujuan akhir. Pendidikan baru bekerja ketika bacaan berubah menjadi pemahaman, pemahaman menjadi kecakapan, dan kecakapan menjadi martabat. 

Tanpa itu, pendidikan kita akan tampak seperti pertunjukan jenaka. Rakyat rajin membaca, data rajin dipamerkan, tetapi mutu masih duduk di pojok kelas sambil mengantuk. Kira-kira begitu! (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved