Opini
Opini: Koperasi Merah Putih untuk NTT- Solusi atau Ilusi
Lebih parah lagi adalah kenyataan bahwa program-program pusat sering kali mem-bypass provinsi dan kabupaten.
Program lain yang juga kurang berhasil adalah pengentasan stunting di zaman Jokowi.
Kurang berhasilnya program ini disebabkan oleh kurangnya sinergi dan sinkronisasi antara program pusat dan program daerah.
Secara singkat, program pusat gagal karena tidak menyiapkan basis yang kuat di tingkat daerah.
Dengan kata lain, yang besar meremehkan yang kecil. Padahal, jika kita belajar sejarah, yang kecil justru lebih berdaya dari yang besar.
Krisis ekonomi 1998 yang menimpa Indonesia membuktikan bahwa usaha skala besar tumbang tetapi usaha skala kecil berhasil menyintas berbagai gejolak sosial, politik dan guncangan ekonomi.
Melihat pengalaman Indonesia, kita kembali bertanya apakah Koperasi Merah Putih akan bertahan?
Mengutip pendapat Esthon Niron, Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan ketika membuka acara ini, sebuah program pemerintah akan bertahan kalau memenuhi tiga kriteria yaitu kejujuran, profesionalitas dan keberpihakan kepada masyarakat.
Jujur adalah bahasa agama yang menerjemahkan bahasa ekonomi transparan dan akuntabel. Apakah koperasi Merah Putih akan transparan dan akuntabel? Mari kita belajar dari program pemerintah yang sudah berjalan yaitu MBG.
Ketika banyak siswa pingsan setelah mengonsumsi MBG, sama sekali tidak ada penjelasan resmi tentang asal usul bahan pangan, tentang siapa yang memasak, siapa yang mendistribusikan, dan kandungan racun apa yang terdapat dalam MBG.
Semuanya serba misterius dan pihak sekolah terkesan takut untuk berbicara. Mengapa tidak transparan?
Seperti yang sudah dikatakan Vinsen Bureni, program pusat cenderung dikuasai sekelompok elit tertutup yang tidak melibatkan pemerintah Provinsi dan Kabupaten.
Selanjutnya, apakah berpihak kepada masyarakat. Keberpihakan ini sulit terlaksana karena dalam ekonomi, uang besar tidak akan melakukan pembelian kecil.
Kalau kini beras dan sayur dari Tarus dan Noelbaki serta ikan dari Oesapa tidak bisa dijual ke dapur-dapur MBG, maka ke depan apakah benar produk-produk pertanian setempat akan muncul di galeri Koperasi Merah Putih?
Karena itu, ketika ditanya oleh moderator apa komentar saya tentang koperasi Merah Putih, saya jawab, belajarlah dari kearifan lokal yang sudah diperlihatkan oleh koperasi-koperasi di NTT. Inti dari kearifan itu ialah, yang besar tidak bisa meremehkan yang kecil.
Dengan modal receh di awal pendiriannya koperasi-koperasi itu telah beraset triliunan rupiah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/dekan-fisip-unwira-kupang-drs-marianus.jpg)