Opini
Opini: Semau, Negara, dan Kekayaan yang Masih Tidur
Kalau orang Kupang sedang duduk minum kopi sambil menatap laut, Semau sebenarnya ikut menatap balik dari seberang.
Kalau tidak, Semau hanya akan jadi tempat orang mengambil foto bagus, bukan tempat warga membangun hidup.
Satu hal yang sering terlambat disadari ialah tata ruang. Banyak daerah baru ingat aturan setelah pantai dikapling, bukit dipotong, ruang adat digeser, dan air tanah diperas habis.
Warga lokalnya disingkirkan secara halus; lewat harga tanah yang naik sampai mereka tidak mampu bertahan, atau lewat proyek “investasi” yang tidak pernah benar-benar membagi keuntungan.
Semau tidak boleh menunggu rusak dulu baru berpikir. Alam bukan mesin ATM. Budaya bukan dekorasi hotel. Tanah bukan sekadar angka dalam akta jual beli.
Semau hanyalah satu wajah dari NTT yang lebih besar. Banyak wilayah punya aset serupa, tapi belum berhasil mengubahnya jadi kesejahteraan yang merata, bukan hanya merata di brosur.
Semau butuh negara yang benar-benar hadir; hadir saat jalan rusak, saat panen tidak laku, saat anak sakit dan perahu tidak bisa menyeberang, bukan hanya hadir saat potong pita.
Negara harus melindungi, membiayai, mengatur, dan turun sendiri memastikan semuanya berjalan, bukan cukup membaca laporan dari kantor.
Bangun Semau Nusa Ana bukan slogan manis. Itu pekerjaan politik, ekonomi, budaya, dan moral sekaligus. Semau tidak sedang meminta belas kasihan.
Semau sedang menagih akal sehat pembangunan. Sebab pulau yang dekat dengan pusat kekuasaan tidak boleh terus diperlakukan seperti pinggiran. Dan kalau Nusa Ana akhirnya bangun dari tidur panjangnya, mungkin NTT juga akan belajar satu hal penting: kemiskinan tidak selalu lahir karena tidak ada kekayaan.
Sering kali kemiskinan lahir karena kekayaan dibiarkan tidur terlalu lama. Itu! (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Lazarus-Jehamat-TMMD-ke-120-di-Desa-Lentera-Bukti-TNI-Datang-untuk-Rakyat.jpg)