Opini
Opini: Kerisauan Gubernur NTT dan Reformulasi Genta Belis
Kinerja siswa NTT di bidang literasi, numerasi dan bahasa Inggris berada di urutan terakhir nasional dari 38 provinsi.
Oleh: M.N. Aba Nuen
Guru SMAN Kualin Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Menulis buku Pendidikan di Mata Guru Pelosok (2020).
POS-KUPANG.COM - Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena, kembali menyampaikan kerisauannya soal rendahnya kemampuan literasi siswa di NTT.
Seperti diberitakan koranntt.com edisi 14/3/ 2026, Gubernur Melki Laka Lena melontarkan fakta, yang harusnya membuat para pihak dalam ekosistem pendidikan tersentak.
Politisi Partai Golkar ini membeberkan temuannya, dimana sekitar 30 sampai 40 persen anak SMA, bermasalah dengan kemampuan baca, tulis, dan menghitung.
Sebelumnya, pada 15 Oktober 2025, saat berbicara dalam rapat Komite Pengarah Program INOVASI Provinsi NTT, Gubernur Laka Lena juga menyinggung rendahnya kemampuan literasi siswa NTT.
Baca juga: SMAN 1 Ende Jadi Pilot Project Gerakan Literasi Genta Belis
Seperti dilansir detik.com edisi 15/10/2025, pernyataan yang dilontarkan gubernur merujuk pada data, lebih dari 25 persen siswa SMA di NTT berada pada kategori literasi rendah dan hanya 24,7 persen sekolah yang tergolong baik.
Data Tes kemampuan Akademik (TKA) siswa SMA di NTT tahun 2025 yang dirilis kemendikdasmen, juga menunjukkan hasil minor.
Kinerja siswa NTT di bidang literasi, numerasi dan bahasa Inggris berada di urutan terakhir nasional dari 38 provinsi.
Persentasi capaian kemampuan literasi adalah 47,78 persen, numerasi 31,73 persen dan bahasa Inggris 19,71 persen.
Sementara cnnindonesia.com edisi 2/3/2023, menyoroti kinerja literasi siswa SMA di NTT melalui data Rapor Pendidikan.
Hasil asesmen terhadap 869 SMA, melibatkan 33.433 siswa, 773 kepala sekolah, dan 20.214 guru pada 2022, menunjukkan kemampuan literasi di bawah kompetensi minimum, yaitu kurang dari 50 persen siswa telah mencapai batas kompetensi minimum untuk literasi membaca.
Reformulasi Genta Belis
Statistik di atas memiliki pesan reflektif yang kuat, terutama soal daya saing anak-anak NTT di masa depan. Dampaknya bisa jauh, ke peluang masuk kampus terbaik, termasuk sulitnya persaingan di pasar kerja.
Intervensi otoritas seperti dinas pendidikan, pengawas sekolah dan satuan pendidikan tentu sangat diperlukan.
Pada tahun 2024, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT menggagas satu gerakan pemantik, yakni Gerakan NTT Membaca dan Menulis (Genta Belis).
Terobosan ini bertujuan untuk mendorong minat baca para pelajar, ketersediaan akses dan bahan bacaan, serta memfasilitasi ragam kompetisi literasi.
Sayangnya, gerakan ini belum memiliki daya ungkit (leverage) di tingkat sekolah.
Genta Belis adalah program strategis dan berpotensi membawa efek domino yang positif, jika desain awalnya mengakomodir faktor keberlanjutan (sustainability) dampak jangka panjang.
Dalam dua tahun terakhir, menurut saya Genta Belis belum memberikan impact nyata, misalnya sebagai booster terbentuknya kultur literasi di sekolah.
Karena itu, hemat saya, strategi implementasi gerakan ini perlu dirumuskan kembali (reformulated). Selain itu, gerakan ini juga butuh kerja kolektif para pihak dalam ekosistem pendidikan.
Otoritas yang dapat berkontribusi mendukung Genta Belis di tataran implementasi antara lain pertama, pengawas sekolah. Peran pendampingan dan supervisi terhadap kepala sekolah dan guru yang melekat pada pengawas sangat relevan.
Pengawas sekolah dapat menjadi mentor dan coach bagi kepala sekolah, dalam konteks manajerial desain program sekolah di bidang literasi. Dengan demikian dapat dipastikan, literasi menjadi progam prioritas di semua sekolah.
Peran supervisi pengawas sekolah, juga penting untuk memastikan kemampuan literasi siswa, terintegrasi dalam pembelajaran di setiap mata pelajaran.
.
Kedua, kepala sekolah memainkan peran paling krusial untuk menjadikan giat literasi timbuh menjadi kultur sekolah.
Pada titik ini, diperlukan sosok kepala sekolah yang mampu menerjemahkan arah gerakan Genta Belis dalam bahasa program yang terukur di satuan pendidikan.
Kepala sekolah, baiknya memiliki kemampuan membaca data mutu sekolahnya, mengkonsolidasikan semua sumber daya yang tersedia, dan melahirkan aksi-aksi nyata yang solutif.
Tidak cukup, jika budaya literasi di sekolah diukur dengan adanya pojok literasi di setiap ruang kelas.
Itu baru sentuhan fisik, karena substansi yang ingin dibangun adalah perubahan perilaku siswa, seperti gemar membaca, mengskpresikan gagasan dalam bahasa lisan dan tulis, serta mengembangkan kemampuan menalar melalui giat diskusi, debat, pidato dan lainnya.
Untuk memunculkan kemampuan siswa seperti ini, kepala sekolah adalah arsiteknya. Buatlah website sekolah sebagai media publikasi warga sekolah.
Dorong keterlibatan siswa dalam produksi berita kegiatan sekolah. Wajibkan guru-guru menulis praktik baik pembelajaran, karya sastra atau artikel bertema pendidikan. Dengan cara ini, guru bisa menarik minat siswa untuk membaca dan menulis dengan teladan (role model), bukan dengan perintah verbal.
Ketiga, guru adalah aktor utama, yang berada di garis depan layanan pembelajaran. Sebagai pemimpin pembelajaran, gurulah yang paling mengenal kebutuhan belajar siswa.
Mesti diingat, bahwa literasi bukan semata-mata urusan guru bahasa, Pendekatan pembelajaran berbasis teks, diskusi, project, dapat diterapkan di semua mata pelajaran.
Di titik ini, kreativitas guru adalah faktor kunci, untuk mengeksplorasi ragam multi teks dan praktik pedagogis dalam pembelajaran, sebagai booster daya kritis kognisi siswa.
Terakhir, untuk merawat iklim literasi dan memperkaya bahan bacaan edukatif di sekolah, Dinas pendidikan dan Kebudayaan NTT perlu membuka ruang publikasi naskah tulisan bagi guru dan siswa.
Dengan kurasi naskah yang ketat, dinas dapat memilih naskah terbaik dan memberikan subsidi biaya penerbitan naskah kepada para penulis.
Jika skema ini berjalan efektif, Genta Belis berpeluang berubah dari sebuah gerakan moril, menjadi kultur sekolah yang dibangun di atas pembiasaan berulang.
Literasi beririsan kuat dengan kemampuan menalar, beretorika dan memecahkan masalah. Kemampuan kompleks seperti ini, butuh waktu dalam penguasaanya, dan karena itu Genta Belis perlu dirancang secara sustainable dan kolaboratif.
Sekolah yang mampu memantik pikiran kritis siswa dan guru dalam bahasa lisan dan tulis, bukankah itu adalah kultur yang paling dibutuhkan saat ini? (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/MN-Aba-Nuen.jpg)