Opini
Opini: Oko Mama Rohani- Sebuah Wadah Sebelum Obat
Kepemimpinan rakyat di NTT bukan hanya soal hadir saat krisis, tetapi soal memberi rasa dihormati sebelum memberi perintah.
Refleksi Sosio Teologis dari NTT dalam Terang Yehezkiel 34:4, 16
Oleh: Debbie Marleni Sodakain
Pendeta GMIT di Mollo Barat, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT
e-Mail: dmsodakain@gmail.com
POS-KUPANG.COM - Di sebuah rumah sederhana di Timor, seorang mama tidak langsung bertanya ketika tamu datang.
Ia tidak tergesa mencari tahu apa masalahnya, siapa yang salah, atau apa yang harus segera diselesaikan.
Ia membuka oko mama terlebih dahulu. Tangannya pelan, seperti mengerti bahwa ada luka yang tidak bisa disentuh dengan cepat. Sirih dan pinang disusun, lalu disodorkan.
Baca juga: Opini: Satgas PPKPT- Fondasi Pencegahan Kekerasan di Kampus Nusa Tenggara Timur
Di situ percakapan belum dimulai, tetapi sesuatu yang lebih mendasar sudah terjadi. Martabat manusia dipulihkan sebelum kata-kata diucapkan.
Oko mama bukan sekadar kotak sirih pinang. Ia adalah protokol kemanusiaan. Ia mengatakan tanpa suara: aku menghargaimu sebagai manusia sebelum aku mendengar apa masalahmu.
Dari titik inilah saya membaca Nusa Tenggara Timur hari ini. Bukan dari konsep yang jauh.
Bukan dari meja yang rapi. Tetapi dari tubuh tubuh yang hidup, menahan, merawat, kehilangan dan terus bertahan di tanah ini.
Sebagai perempuan yang melayani di NTT, saya tidak membaca luka rakyat dari kejauhan.
Saya membacanya dari tubuh perempuan yang berjalan mencari air, dari ibu yang gelisah melihat anaknya kurang gizi, dari keluarga yang menunggu kabar anaknya di tanah rantau, dari jemaat yang datang beribadah dengan wajah tenang tetapi hatinya penuh retak.
Kita sering menyebut semua itu sebagai ketahanan. Kita menyebutnya kerja keras.
Kita kadang menyebutnya iman. Tetapi saya ingin jujur: tidak semua yang bertahan itu sehat tidak semua yang diam itu kuat.
NTT masih memikul beban kemiskinan yang besar. BPS mencatat pada September 2025, persentase penduduk miskin NTT sebesar 17,50 persen, sekitar 1,03 juta jiwa.
Angka itu memang turun dibanding periode sebelumnya, tetapi ia tetap menunjuk pada kenyataan bahwa banyak orang masih hidup dengan ruang martabat yang sempit (Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur, 2026).
Kemiskinan bukan hanya soal kekurangan uang. Ia adalah pengalaman menjadi tidak cukup, tidak berdaya dan pelan pelan merasa tidak layak di mata dunia.
Kita juga masih berhadapan dengan luka tubuh anak. Data percepatan penurunan stunting menunjukkan prevalensi stunting NTT masih berada di sekitar 37 persen pada 2024 (Tim Percepatan Pencegahan Anak Kerdil, 2026).
Angka ini sering masuk dalam laporan dan pidato. Tetapi bagi seorang ibu, ini bukan angka. Ini tubuh anaknya sendiri. Ini masa depan yang sejak awal sudah tidak diberi tempat yang adil untuk tumbuh.
Maka ketika publik dikejutkan oleh pemberitaan menu Makan Bergizi Gratis di Lembata yang disebut berulat di salah satu TK, saya tidak membacanya hanya sebagai kasus teknis dapur atau distribusi makanan.
Peristiwa itu viral karena menyentuh sesuatu yang lebih dalam: makanan untuk anak tidak boleh diperlakukan sebagai urusan sisa.
Detik memberitakan bahwa video menu MBG berulat di TK Negeri 3 Nubatukan, Lembata, viral pada 17 April 2026 dan kepala SPPG meminta pemeriksaan laboratorium atas temuan tersebut (Detik.com, 2026a).
Di titik ini, Yehezkiel 34 terasa sangat dekat. Nabi itu tidak menegur gembala karena mereka tidak pandai menyusun program.
Ia menegur mereka karena yang lemah tidak mereka kuatkan, yang sakit tidak mereka obati, yang luka tidak mereka balut, yang tersesat tidak mereka bawa pulang dan yang hilang tidak mereka cari.
Ini kritik yang sangat tajam terhadap kepemimpinan yang kehilangan rasa merawat. Dalam Yehezkiel, gembala bukan sekadar pemimpin agama. Ia adalah simbol semua kuasa yang seharusnya menjaga kehidupan, tetapi berubah menjadi pihak yang sibuk dengan dirinya sendiri.
Kegagalan gembala dalam Yehezkiel bukan hanya kelalaian administratif. Itu kegagalan moral.
Mereka tidak sekadar lupa memberi makan. Mereka lupa bahwa kawanan adalah makhluk hidup, bukan alat untuk memperbesar nama pemimpin.
Di sinilah teks ini menggugat gereja, pemerintah, lembaga sosial, keluarga dan siapa saja yang memegang kuasa atas hidup orang lain. Kepemimpinan yang tidak membalut luka hanya akan menjadi kekuasaan yang berjalan dengan pakaian pelayanan.
Dalam pekan yang sama, media juga memberitakan dua gunung di NTT, yakni Lewotobi Laki Laki di Flores Timur dan Ile Lewotolok di Lembata, meletus pada malam yang sama, Kamis 23 April 2026.
Warga sekitar diimbau waspada, dengan laporan kolom abu Ile Lewotolok sekitar 300 meter di atas puncak (Detik.com, 2026b).
Sementara itu, laporan lain menyebut Lewotobi Laki Laki kembali erupsi dengan kolom abu mencapai 1.800 meter di atas puncak (Liputan6.com, 2026).
Bencana seperti ini mengingatkan kita bahwa rakyat NTT hidup dalam lapisan kerentanan yang bertumpuk. Ada kemiskinan. Ada stunting. Ada migrasi berisiko. Ada ancaman alam.
Dalam situasi seperti ini, rakyat tidak cukup diberi instruksi. Mereka membutuhkan kehadiran yang menghormati ketakutan mereka.
Kepemimpinan rakyat di NTT bukan hanya soal hadir saat krisis, tetapi soal memberi rasa dihormati sebelum memberi perintah.
Di sinilah oko mama rohani menjadi penting. Dalam pelayanan, kita sering terlalu cepat menjadi dokter.
Kita melihat luka lalu segera menyodorkan obat berupa nasihat, ayat teguran, atau instruksi perubahan.
Kita ingin cepat memperbaiki. Namun kita lupa bahwa obat yang paling mujarab sekalipun akan tumpah sia sia jika tidak ada wadahnya. Wadah itu adalah kehormatan diri.
Ketika seseorang jatuh, terluka, miskin, gagal, atau tersesat, yang pertama hancur bukan logikanya. Yang hancur adalah rasa keberhargaannya. Ia merasa kotor. Ia merasa gagal. Ia merasa tidak layak.
Menyodorkan oko mama rohani berarti kita berhenti sejenak dari keinginan untuk mengajar.
Kita memilih untuk mengembalikan martabat terlebih dahulu. Kita mengatakan tanpa kata: engkau tetap manusia, bahkan dalam kegagalanmu.
Engkau tetap dikasihi Tuhan, bahkan dalam lukamu. Engkau bukan kasus. Engkau bukan angka. Engkau bukan beban program. Engkau pribadi yang harus dihormati. Di sini pemikiran teolog perempuan menjadi sangat relevan.
Mercy Amba Oduyoye mengingatkan bahwa teologi harus lahir dari pengalaman perempuan yang merawat kehidupan di tengah keterbatasan. Iman tidak boleh melayang di atas tubuh, dapur, air dan anak (Oduyoye, 2001).
Elisabeth Schüssler Fiorenza menegaskan bahwa pembacaan Kitab Suci harus membuka struktur ketidakadilan yang membungkam mereka yang lemah (Schüssler Fiorenza, 1983).
Sementara Letty M. Russell berbicara tentang gereja sebagai ruang perjamuan inklusif, tempat orang diterima sebelum diubah (Russell, 1993).
Maka oko mama rohani bukan romantisme budaya. Ia adalah kritik terhadap cara kita memimpin. Ia bertanya: apakah pemimpin masih sanggup duduk bersama rakyat tanpa langsung berkhotbah?
Apakah gereja masih mampu mendengar sebelum menegur? Apakah keluarga masih dapat memulihkan sebelum mempermalukan? Apakah program sosial masih melihat manusia sebagai manusia sebelum melihatnya sebagai target?
Respek adalah jembatan menuju hati. Tanpa respek, kebenaran yang paling tajam sekalipun menjadi alat melukai. Tanpa penghormatan, nasihat berubah menjadi tekanan baru.
Tetapi ketika seseorang merasa dihormati, hatinya mulai terbuka. Ia tidak lagi bertahan dari serangan. Ia mulai mendengar. Ia mulai percaya bahwa dirinya masih layak dipulihkan.
Pada akhirnya, pelayanan yang memulihkan bukan tentang seberapa cepat kita memperbaiki kesalahan orang lain. Ia tentang seberapa tulus kita menyediakan tempat bagi martabat mereka untuk pulih.
Kebenaran tanpa kasih sayang adalah kekejaman. Kasih sayang tanpa kebenaran adalah kelemahan.
Yehezkiel 34 memanggil kita untuk memegang keduanya. Allah mencari yang hilang, membawa pulang yang tersesat dan membalut yang luka. Tuhan tidak terburu buru. Ia menyediakan wadah sebelum obat.
Maka sebelum kita berbicara tentang pembangunan, pelayanan, kepemimpinan rakyat dan perubahan sosial di NTT, mungkin kita perlu kembali ke hal yang paling dasar: menyediakan oko mama. Menyediakan ruang.
Menyediakan penghormatan. Menyediakan kehadiran. Jangan biarkan kebenaran yang kita bawa menghancurkan jiwa yang sedang mencoba bangkit. Sediakan oko mama mu, pulihkan martabatnya dan biarkan kasih Tuhan menyempurnakan kesembuhannya. (*)
Daftar Rujukan
- Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur. (2026, Februari 5). Persentase penduduk miskin pada September 2025 sebesar 17,50 persen.
- Detik.com. (2026a, April 17). Viral menu MBG di Lembata NTT isi ulat meliuk, kepala SPPG bilang begini.
- Detik.com. (2026b, April 23). Dua gunung di NTT meletus semalam, warga diimbau waspada.
- Liputan6.com. (2026, April 23). Gunung Lewotobi Laki Laki erupsi, kolom abu capai 1.800 meter.
- Oduyoye, M. A. (2001). Introducing African women’s theology. Sheffield Academic Press.
- Russell, L. M. (1993). Church in the round: Feminist interpretation of the church. Westminster John Knox Press.
- Schüssler Fiorenza, E. (1983). In memory of her: A feminist theological reconstruction of Christian origins. Crossroad.
- Tim Percepatan Pencegahan Anak Kerdil. (2026). Stunting dalam angka Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Debbie-Marleni-Sodakain-02.jpg)