Minggu, 26 April 2026

Opini

Opini: Tirani Meritokrasi dan Kaum Marhaen

Populasi penduduk miskin ekstrem baik di wilayah pedesaan maupun perkotaan terbilang cukup banyak. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ANTONIUS G PLEWANG
Antonius Guntramus Plewang 

Meritokrasi meyakini bahwa status sosial seseorang ditentukan oleh kemampuan, kerja keras, dan prestasi individu. 

Meritokrasi dipandang begitu adil karena menjanjikan kesempatan yang sama bagi semua orang. 

Namun, meritokrasi justru lambat laun berubah menjadi sebuah tirani yang menakutkan. Tirani meritokrasi terjadi ketika keberhasilan sepenuhnya dikaitkan dengan usaha pribadi. 

Pada titik ini, orang-orang yang berhasil merasa berhak atau layak atas posisi mereka dan mereka yang gagal dianggap kurang berusaha atau tidak cukup kompeten (Sandel, 2020). 

Pola pikir semacam ini melahirkan dua kelompok yang seakan terpisah yaitu “the winners” dan “the lossers”.

Dalam konteks Indonesia, kritik ini menjadi sangat relevan.  Realitas sosial menunjukkan bahwa tidak semua orang memulai dari titik awal yang sama. 

Anak yang lahir dari keluarga kaya akan memiliki akses yang jauh lebih besar terhadap pendidikan berkualitas, jaringan sosial yang luas, dan standar ekonomi yang menjanjikan. 

Sementara itu, anak dari keluarga miskin kerap kali harus berjuang keras hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, apalagi untuk mencapai pendidikan tinggi. 

Dalam kondisi seperti ini, meritokrasi menjelma sebagai suatu paradoks. Meritokrasi yang awalnya lahir untuk mengikis gelagat ketidakadilan kini secara tidak langsung memperkuat ketimpangan yang sudah ada sebelumnya.

Kaum Marhaen

Fenomena kemiskinan yang ada di Indonesia juga mendapat perhatian yang serius dari tokoh pendiri bangsa Indonesia yaitu Soekarno

Soekarno mempromosikan pemikirannya tentang kaum miskin dalam gagasannya tentang Marhaenisme

Terminologi marhaenisme terinspirasi dari seorang petani miskin di Bandung bernama pak Marhaen yang ia jumpai pada tahun 1928. 

Kerangka pemikiran Soekarno tentang marhaenisme juga dipengaruhi oleh pemikiran Marxisme. 

Namun pemikirannya ini lebih berpusat pada konteks kaum miskin secara kesuluruhan di Indonesia.

Paham marhaenisme memperkenalkan kaum kecil (marhaen atau kromo) yang sebenarnya memiliki alat produksi, tetapi tetap hidup dalam kemiskinan karena sistem yang tidak adil (imperialisme dan kapitalisme barat). 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved