Opini
Opini: Pendidikan Harus Bisa Membentuk Generasi NTT yang Kreatif
Kreativitas memungkinkan seseorang tumbuh inovatif dan menghasilkan ide-ide baru bagi peluang bisnisnya.
Oleh Hendrikus Genggor, M.Pd
Kepala Bidang Pembinaan GTK Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional beberapa tahun terakhir, insan pendidikan banyak menyoroti persoalan-persoalan pendidikan yang dialami masyarakat skala nasional.
Mulai dari persoalan infrastruktur yang belum merata, gaji guru yang rendah, hingga carut marut penanganan guru honorer.
Persoalan-persoalan ini mungkin memang masih jauh dari kata tuntas. Namun pernahkan kita juga merefleksikan seberapa nyata kontribusi kita sebagai insan pendidikan dalam membantu negara mengatasi persoalan mendasar masyarakat, terutama kemiskinan kita di Nusa Tenggara Timur ( NTT)?
Apakah dengan mengusahakan partisipasi masyarakat untuk bersekolah sudah cukup merefleksikan peran kita?
Baca juga: Opini: Efisiensi yang Berpindah Tempat
Atau apakah dengan disiplin mengajar setiap hari sudah cukup membuktikan peran kita para guru di NTT dalam mengatasi kemiskinan akibat kebodohan?
Tulisan ini tidak bermaksud menilai usaha setiap individu termasuk insan pendidikan dalam membantu mengatasi kemiskinan di NTT tetapi memberikan perspektif lain bagaimana pendidikan berkontribusi mengatasi persoalan kemiskinan dari 1,11 juta penduduk NTT.
Karena pendidikan pada hakikatnya bukan sekadar tentang seberapa tinggi angka partisipasi atau seberapa sejahtera para gurunya.
Akan tetapi bagaimana pendidikan menjadi alat pembebasan yang memungkinkan manusia memahami dan terlibat dalam perubahan sosial termasuk dalam mengatasi kemiskinan masyarakatnya (Paulo Freire, 2001).
Bagi penulis, kemiskinan di NTT pertama-tama harus diatasi oleh orang NTT itu sendiri, karena orang NTT yang merasakan pedihnya kemiskinan, yang tahu kelemahan dan kelebihannya.
Bertahun-tahun lembaga pendidikan di NTT menghasilkan ribuan lulusan bahkan di antaranya diklaim sebagai yang bermutu namun selama itu pula kemiskinan tetap identik dengan NTT seperti sebuah penyakit menahun yang tak kunjung bisa disembuhkan bahkan “diwariskan” dari generasi ke generasi.
NTT butuh loncatan dalam cara berpikir dan bertindak untuk memperbaiki kehidupan; lebih-lebih di kalangan kaum terpelajar termasuk insan pendidikan.
Lembaga pendidikan dan para guru harus juga menjadi bagian dari solusi pengentasan kemiskinan; bukan sekadar pengamat apalagi penonton.
Minimnya Semangat Kewirausahaan
Secara ekonomi, dari sekian banyak factor penyebab kemiskinan NTT, salah satu factor yang menarik perhatian penulis adalah minimnya kewirausahaan di kalangan pemuda NTT.
Banyak pemuda NTT ternyata lebih memilih menjadi pegawai atau karyawan seperti ASN daripada berwirausaha. Hal itu nampak antara lain dari masih kecilnya jumlah UMKM di NTT.
Tercatat baru ada sekitar 98.270 UMKM di NTT. Bandingkan dengan Provinsi DIY yang sudah mencapai 346.144 UMKM.
Padahal di banyak negara, sektor UMKM menjadi prime mover yang penting bagi pertumbuhan ekonomi.
UMKM berperan penting dalam menjaga kelangsungan ekonomi, menyerap lebih banyak tenaga kerja dibandingkan sektor bisnis lainnya (Saputera, 2021), membantu meningkatkan pendapatan pekerja berpendidikan rendah, mengurangi kemiskinan, dan berkontribusi pada distribusi pendapatan yang lebih adil (Tambunan, 2023).
Pendidikan yang menumbuhkan kreativitas
Secara sederhana, Peter F. Drucker (1959), mendefenisikan kewirausahaan sebagai suatu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan unik (ability to create the new and different).
Karakteristiknya antara lain kreatif, inovatif, enerjik, keinginan untuk berprestasi, orientasi ke masa depan, bertanggung jawab, persepsi pada keberhasilan, dan ketrampilan dalam pengorganisasian (Wiratmo, 2001).
Dari sini terlihat bahwa kreativitas adalah salah satu fondasi penting dari kewirausahaan itu.
Kreativitas memungkinkan seseorang tumbuh inovatif dan menghasilkan ide-ide baru bagi peluang bisnisnya.
Melalui kreativitas, seseorang akan terdorong untuk berpikir dan bertindak out of the box, memiliki kapasitas untuk berpikir secara inventif dan imajinatif melampaui cara-cara tradisional (Muntamah, 2024).
Berita baiknya, kreativitas bukanlah sesuatu yang dimiliki atau tidak dimiliki seseorang.
Sebaliknya, kreativitas bersifat inkremental yang dapat dipelajari atau dibiasakan, sehingga setiap orang dapat belajar untuk menjadi lebih kreatif (Muntamah, 2024).
Maka, jika kita ingin kewirausahaan dan UMKM bertumbuh dan berkembang di NTT maka sejak kecil para pemuda dan pelajar NTT perlu dibiasakan untuk berpikir dan bertindak kreatif dalam banyak hal.
Anak-anak dan para pelajar kita perlu distimulus sedemikian rupa agar karakter dan kemampuan kreativitasnya tumbuh dan berkembang optimal. Nah, di sinilah peran sekolah dan guru (pendidikan).
Sekolah adalah tempat di mana karakter dan kemampuan kreativitas itu bisa tumbuh dan berkembang. Guru adalah agen yang memungkinkan itu terjadi.
Maka, jika kita ingin anak-anak NTT tampil kreatif di masa depan maka hal itu harus dimulai dari sekolah dan dari para gurunya. Cara, strategi, metode kita dalam mendidik (model pembelajaran) harus berani kita ubah.
Dari yang cenderung konvensional, monoton dari hari ke hari, dari satu materi ke materi lainnya; dari hanya berorientasi pada penyelesaian materi (Kurniawati, 2022) atau sekadar bisa menghasilkan lulusan kepada cara atau strategi yang memungkinkan tumbuhnya kreativitas.
Karena itu model pembelajaran di sekolah juga harus benar-benar dirancang untuk menumbuhkembangkan komponen pembentuk kreativitas dalam diri siswa seperti kemampuan mensintesis, analitis, berani mengambil risiko, mampu menghadapi hal-hal yang bersifat ganda, mampu menciptakan cara-cara untuk menyelesaikan sesuatu.
Kita bisa mengambil contoh dari Taiwan atau China. Di sana kreativitas dipandang sebagai sikap hidup yang harus ada dan menjadi bagian dari diri setiap orang jika ingin sukses.
Hal itu membuat lembaga pendidikan berlomba-lomba membuat strategi pembelajaran dan pembinaan agar mampu menumbuhkan kreativitas pada peserta didiknya.
Jika gagal, lembaga pendidikan tersebut pasti akan ditinggalkan. Jadi, pendidikan kita harusnya juga bisa melakukan itu.
Paling tidak ada enam model pembelajaran yang menurut penelitian dapat menstimulus kreativitas anak didik yaitu model pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis masalah, inquiry learning, Search, Solve, Create, and Share (SSCS), dan Science-Wastepreneurship.
Model-model ini pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru, yang bahkan sudah dipelajari para guru di bangku kuliah. Tinggal kemauan kita untuk belajar lagi dan menerapkannya.
Gerakan Bersama
Namun niat dari individu guru saja tidak cukup. Jika ingin berdampak luas, perlu ada komitmen kuat dari masyarakat pendidikan NTT untuk menjalankannya secara bersama.
Paulo Freire pernah mengatakan bahwa salah satu cara masyarakat menjalankan tanggung jawab sosial politiknya adalah dengan campur tangan dalam nasib sekolah anak-anak mereka.
Karena itu, jika kita sepakat pendidikan yang menumbuhkan kreativitas adalah jalan untuk berkontribusi pada pengentasan kemiskinan di NTT maka semua stakeholder mulai dari gubernur, bupati hingga para guru harus punya nadi yang sama untuk mengalirkan semangat perubahan itu.
Harus ada gerakan bersama yang sistematis dan terencana untuk menciptakan ekosistem yang dibutuhkan bagi berkembangnya pembelajaran kreativitas ini.
Pemerintah misalnya harus menyiapkan kebijakan yang memungkinkan pembelajaran ini diterapkan di semua satuan pendidikan.
Sekolah, yayasan, perguruan tinggi berperan dalam memastikan guru-guru memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menerapkan model-model pembelajaran tersebut.
Lembaga Pendidikan termuka seperti seminari bisa berperan sebagai pelopor yang akan dicontoh sekolah lain.
Jika semua ini bisa dilakukan maka NTT akan segera memanen generasi kreatif yang diharapkan mampu mengangkat saudaranya dari lumpur kemiskinan. Semoga. Selamat Hari Pendidikan Nasional. (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Hendrikus-Genggor.jpg)