Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Gempa dan Krisis Komunikasi Kepakaran

Dalam hitungan menit, linimasa dipenuhi berbagai pesan yang datang dari arah berbeda, dengan tingkat akurasi yang tidak selalu jelas. 

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI GIOVANNI XIMENES COLLYN
Giovanni Ximenes Collyn 

Dalam konteks ini, kecepatan sering kali mengalahkan akurasi. Informasi yang datang lebih dulu cenderung dianggap lebih relevan, meskipun belum tentu benar. 

Sementara itu, informasi yang verifikatif justru datang lebih lambat dan kerap kehilangan momentum. 

Akibatnya, ruang publik dipenuhi oleh informasi yang bergerak cepat, tetapi tidak selalu dapat dipertanggungjawabkan.

Baca juga: Opini: Menempatkan Alam sebagai Subjek dalam Demokrasi

Di sini, logika post-truth bekerja. Fakta objektif tidak lagi menjadi satu-satunya penentu kepercayaan publik. 

Informasi yang terasa dekat karena datang dari orang yang dikenal atau berasal lingkungan sosial yang sama, lebih mudah dipercaya. Implikasinya sangat nyata. 

Dalam situasi krisis, keputusan masyarakat sering kali diambil berdasarkan informasi yang belum teruji. Kepanikan dapat menyebar lebih cepat dari pada getaran gempa itu sendiri. 

Orang dapat mengambil tindakan yang tidak perlu atau mengabaikan informasi penting karena terseret dalam arus informasi yang begitu deras. 

Di titik ini, bencana tidak lagi hanya bersifat fisik, tetapi juga informasional.

Dalam kondisi seperti ini, tantangan utamanya bukan hanya menemukan kebenaran, melainkan juga memastikan bahwa kebenaran tersebut tidak tenggelam dalam gelombang informasi. 

Bencana tidak hanya membutuhkan mitigasi fisik, tetapi juga mitigasi informasi, yaitu upaya untuk memastikan bahwa informasi yang beredar tidak memperparah situasi, tetapi membantu masyarakat merespons secara rasional.

Krisis Komunikasi Kepakaran

Ketika masyarakat lebih mengandalkan informasi yang tidak teruji dalam situasi krisis seperti gempa, persoalannya tidak sesederhana sikap anti-intelektual atau menurunnya kepercayaan terhadap otoritas, sebagaimana disorot oleh Tom Nichols dalam The Death of Expertise. 

Yang terjadi justru kegagalan ilmu pengetahuan untuk hadir dalam bentuk yang komunikatif.

Informasi tentang gempa sebenarnya tersedia dan diproduksi secara akurat oleh lembaga resmi. Namun, cara penyampaiannya sering kali tidak sejalan dengan kebutuhan publik. 

Bahasa yang terlalu teknis, format yang kaku, dan minimnya empati membuat informasi ilmiah terasa jauh dari pengalaman sehari-hari masyarakat. 

Dalam situasi krisis, publik tidak hanya membutuhkan data, tetapi juga penjelasan yang dapat dipahami dan menenangkan.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved