Opini
Opini: Ketika SOP Lebih Penting Daripada Martabat Manusia
Saya, seorang penumpang pengguna kruk diminta membayar biaya label bagasi untuk alat bantu mobilitas. Saya menolak.
Sistem transportasi yang adil perlu mengakui bahwa alat bantu mobilitas bukan barang komersial. Kebijakan harus memberikan ruang bagi penyesuaian yang layak.
Petugas perlu dibekali bukan hanya aturan, tetapi juga pemahaman.
Lebih dari itu, sistem harus mampu membaca manusia dalam keberagamannya, bukan memaksakan keseragaman dalam setiap prosedur.
Ketika Sistem Gagal Membaca Manusia
Peristiwa di bandara Ende bukan hanya insiden layanan. Peristiwa tersebut menjadi cermin kecil dari tantangan besar dalam membangun sistem yang inklusif.
Ketika sebuah tongkat dianggap sebagai bagasi, yang dipersoalkan bukan hanya biaya. Yang dipertaruhkan adalah cara pandang terhadap manusia.
Apakah sistem pelayanan publik hadir untuk memudahkan kehidupan, atau justru menambah beban bagi mereka yang sudah menghadapi keterbatasan.
Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menentukan arah perubahan ke depan. Sebab pada akhirnya, ukuran kemajuan sebuah sistem tidak hanya terletak pada efisiensi, tetapi pada kemampuannya memperlakukan setiap manusia dengan martabat yang setara. (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gergorius-Babo-03.jpg)