Senin, 20 April 2026

Opini

Opini: Carut Marut atau Karut Marut? 

Karut-marut berarti kusut, kacau tidak keruan, rusuh, bingung, bahkan banyak bohong dan dustanya dalam perkataan. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI HERYON B MBUIK
Heryon Bernard Mbuik 

Keempat, merusak budaya akademik. Kampus semestinya menjadi ruang argumentasi rasional. Jika komunikasi dikuasai rumor, ketakutan, dan politisasi, maka misi intelektual melemah.

Jalan Keluar: Membangun Komunikasi Pendidikan yang Beradab

1. Dari Instruksi ke Dialog

Pemimpin pendidikan perlu bergeser dari model komando ke model partisipatif. Kepala sekolah, dekan, atau rektor harus membuka ruang dengar. 

Peter Senge menyebut organisasi pembelajar lahir dari percakapan reflektif, bukan sekadar instruksi.

2. Literasi Bahasa Institusional

Setiap lembaga pendidikan perlu memiliki standar komunikasi tertulis: bahasa jelas, singkat, akurat, dan ramah pembaca. Surat edaran harus dapat dipahami, bukan diperdebatkan.

3. Tata Kelola Komunikasi Digital

Sekolah dan kampus perlu menetapkan kanal resmi, jadwal komunikasi, etika grup, serta prosedur klarifikasi. Teknologi harus mempermudah koordinasi, bukan menambah kebisingan.

4. Pelatihan Kepemimpinan Komunikatif

Banyak pimpinan cakap administratif tetapi lemah komunikatif. Padahal menurut John Kotter, kepemimpinan erat dengan kemampuan menyampaikan visi secara meyakinkan. Maka pelatihan komunikasi strategis mutlak diperlukan.

5. Menumbuhkan Etika Penghormatan

Bahasa harus kembali menjadi alat memanusiakan manusia. Kritik boleh keras, tetapi tidak merendahkan. 

Disiplin boleh tegas, tetapi tidak menghina. Pendidikan tanpa etika komunikasi akan melahirkan lulusan pintar tetapi kasar.

Penutup

Perdebatan antara carut marut dan karut marut sesungguhnya memberi metafora yang kaya bagi dunia pendidikan Indonesia. 

Ada kekacauan struktural dalam sistem komunikasi, dan ada kemerosotan moral dalam cara bertutur. Keduanya saling berkaitan.

Lembaga pendidikan yang sehat bukan hanya yang memiliki gedung megah, akreditasi tinggi, atau teknologi canggih, tetapi yang mampu membangun budaya komunikasi yang jernih, dialogis, dan bermartabat. 

Sebab pendidikan pada hakikatnya adalah proses menyampaikan makna dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Jika cara menyampaikannya sudah karut-marut, maka sulit berharap hasilnya akan tertib dan mencerahkan. (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved