Senin, 20 April 2026

Opini

Opini: Carut Marut atau Karut Marut? 

Karut-marut berarti kusut, kacau tidak keruan, rusuh, bingung, bahkan banyak bohong dan dustanya dalam perkataan. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI HERYON B MBUIK
Heryon Bernard Mbuik 

Informasi sering dibagikan tanpa verifikasi, pesan diteruskan tanpa konteks, dan keputusan diumumkan mendadak melalui grup daring.

Manuel Castells menyebut masyarakat modern sebagai network society, di mana kekuasaan banyak ditentukan oleh kontrol atas informasi. 

Dalam pendidikan, siapa yang menguasai saluran komunikasi digital sering lebih berpengaruh daripada yang memiliki jabatan formal.

Masalah muncul ketika sekolah atau kampus tidak memiliki tata kelola komunikasi digital. Grup percakapan menjadi arena gosip, keluhan liar, bahkan intimidasi simbolik. 

Guru merasa diawasi 24 jam. Mahasiswa kebingungan karena banyak kanal informasi yang saling bertentangan. Orang tua panik karena berita setengah benar cepat menyebar.

4. Krisis Etika Dialog

Selain kekacauan sistem, terdapat pula dimensi carut-marut: bahasa kasar, saling menyalahkan, sindiran terbuka, dan budaya mempermalukan. 

Dalam beberapa kasus, relasi guru-orang tua, dosen-mahasiswa, atau pimpinan-staf rusak bukan karena substansi masalah, tetapi karena cara berbicara.

Martin Buber membedakan relasi I-It dan I-Thou. Dalam relasi pertama, orang diperlakukan sebagai objek. Dalam relasi kedua, orang dihormati sebagai subjek yang bermartabat. 

Banyak komunikasi pendidikan jatuh ke pola I-It: siswa diperlakukan sebagai angka, guru sebagai alat administrasi, mahasiswa sebagai data statistik.

Ketika manusia direduksi menjadi objek, bahasa menjadi dingin dan kasar. Dari sinilah muncul carut-marut etik dalam komunikasi pendidikan.

Dampak terhadap Mutu Pendidikan

Karut-marut komunikasi bukan persoalan sepele. Dampaknya sistemik dan langsung terhadap kualitas pendidikan.

Pertama, menurunkan kepercayaan organisasi. Stephen Covey menegaskan bahwa kepercayaan adalah perekat institusi. Jika informasi sering berubah dan tidak transparan, warga sekolah kehilangan trust.

Kedua, meningkatkan stres kerja. Guru yang terus menerima instruksi mendadak dan pesan multitafsir mengalami kelelahan emosional. Hal ini berdampak pada motivasi mengajar.

Ketiga, menghambat inovasi. Amy Edmondson memperkenalkan konsep psychological safety: anggota organisasi berani menyampaikan ide jika merasa aman. Dalam kultur komunikasi represif, orang memilih diam daripada salah bicara.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved