Opini
Opini: Hari Kartini dan Hari Buku Sedunia
Kartini telah mengajarkanpendidikan adalah kunci utama untuk membuka pintu kebebasan, bukan hanya secara fisik, tetapi kebebasan berpikir.
Tetapi sebagaimana membangun sebuah rumah, tentunya kita hendak mendirikan rumah dengan fondasi yang kuat agar bertahan lama, menjadi hunian yang sejuk dan nyaman serta membahagiakan untuk beberapa generasi.
Dengan begitu Hari Kartini bagi saya adalah hari literasi dan Hari Buku yang perayaannya hanya berselang dua hari.
Biarlah Kartini menjadi pembelajaran moral tentang kisah terjepit (diskriminasi) antara cinta, impian dan adat, meski ia mati muda tetapi cita-citanya terpelihara abadi di Leiden, Belanda yang terus merawat surat-suratnya yang inspiratif dan tentu saja, membawa di dada juang anak bangsa.
Sebuah pesan berharga, dari Tempo, Kartini taka sebatas kebaya dan seremoni, Kartini adalah hak perempuan.
Kartini telah mengajarkan bahwa pendidikan adalah kunci utama untuk membuka pintu kebebasan, bukan hanya secara fisik, tetapi juga kebebasan berpikir”.
Saya menutup tulisan kecil ini dengan beberapa pesan; dari Nobelis Sastra, Ernest Hemingway : “tidak ada teman yang setiap seperti buku ”.
Dari sastrawan Indonesia, Ayu Utami : “ dengan membaca kita belajar memahami dunia dan diri sendiri ” atau pesan dari Novelis Amerika, Mark Twain : “orang yang tidak membaca tidak mempunyai kelebihan dibandingkan dengan orang yang membaca ”.
Lagi-lagi, Kartini terkenal karena surat dan buku, maka mari merawat peradaban kita dengan literasi. Selamat Hari Kartini, selamat Hari Buku Sedunia. (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Anggota-DPRD-Provinsi-NTT-dari-Partai-Demokrasi-Indonesia-Eman-Kolfidus.jpg)