Opini
Opini: Hari Kartini dan Hari Buku Sedunia
Kartini telah mengajarkanpendidikan adalah kunci utama untuk membuka pintu kebebasan, bukan hanya secara fisik, tetapi kebebasan berpikir.
Terkait resonansinya dengan Peringatan Hari Buku Sedunia, telah berulang-ulang dinyatakan, diyakini dan terbukti bahwa literasi menjadi kunci peradaban.
Tanpa literasi, ibarat nasi tanpa garam, seperti lagu tanpa nada dasar, karena literasi selalu satu kesatuan dengan dunia pendidikan sebagai proses membangun peradaban.
Tokoh postkolonialisme mengatakan bahwa salah satu usaha dekolonisasi yang penting adalah memerdekakan bangsa sendiri dari penjajahan budaya kolonial (colonialism of thje mind) dan hanya melalui pendidikan, suatu bangsa dapat malakukan dekolonisasi budaya kolonial tersebut (decolonizing the mind).
Jika buku, jika literasi tidak penting mengapa perlu ada peringatan hari buku Sedunia dan nanti pada bulan Mei ada peringatan hari buku nasional?
Mufit Apriliani (Kompas, 23/4/2025) menulis bahwa Hari Buku Sedunia atau disebut juga Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia merupakan peringatan yang diinisasi UNESCO; (UNESCO merupakan Badan PBB yang bergerak di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, seni dan kebudayaan), untuk menyebarluaskan kegiatan membaca, menerbitkan, dan melindungi hak cipta.
Semangat ini tentu relevan dengan Nusa Tenggara Timur yang sedang dalam usaha meningkatkan kegiatan literasi. Mengapa dipilih tanggal 23 April?
Ini rujukan atas kematian dari para penulis besar dunia, seperti William Shakespeare, Miguel de Cervantes, dan Inca Garcilaso de la Vega.
Bagi UNESCO buku penting sebagai jembatan antara masa lalu, masa kini dan masa depan, pun dalam kegunaan lainnya, mampu membawa perubahaan dalam lingkungan sosial seperti pendidikan, kemiskinan dan ekonomi.
Dalam bahasa sederhana namun indah, buku adalah jendela dunia (book are the window to the world). Makna filosofis jendela biasanya sebagai tempat seseorang duduk dan atau berdiri, sendirian dalam hening dengan penuh konsentrasi memandang ke luar, membayangkan, menghayati, mengilhami dan melakukan refleksi batin tentang dirinya dan fenomena di luar dirinya, akan mampu menemukan inspirasi, tekad untuk maju dan kehendak baik.
Melalui jendela, seseroang menatap dunia dengan dua mata, mata lahiriah dan mata batin.
Kartini, dengan tidak bisa melakukan pemberontakan secara frontal, Tempo melabelinya sebagai feminisme di balik tembok (Gelap Terang Hidup Kartini, Tempo, 2014) memilih berjuang melalui “jendela” dengan senjata pena dan kertas tentunya, menghasilkan surat-surat yang berbicara yang pada akhirnya dibukukan dan dengan itu, semua orang menjadi tahu cita-cita, harapan, keinginan dan arah perjuangan dirinya yang kelak menjadi inspirasi dan sikap moral.
Kartini dengan keningratannya (bisa disebut lingkungan feodalismenya) mencoba melakukan adeldom verplicht, kebangsawanan menanggung kewajiban atau prinsip noblese oblige, keningratan membawa kebajikan.
Kita dapat menjadi Kartini-Kartini abad ini. Mari kita melihat statistik minat baca dan literasi di NTT untuk sejenak melupakan menghitung sudah berapa rudal dan drone dilepas di selat Hormuz atau juga sejumlah persoalan sosial dalam tanah air akibat dampak perang Timur Tengah dan juga anomali iklim global.
NTT, setidaknya memiliki tanggung jawab literasi bersama untuk 289.352 siswa SLB, SMA dan SMK dalam lingkup kewenangan Gubernur (Dinas P dan K Provinsi), 146.179 siswa perempuan (50,52 persen) dan 143.173 siswa laki-laki (49,48 persen) sebagaimana data dari Buku Peta Satuan Pendidikan, Guru dan Tenaga Kependidikan di NTT yang diterbitkan UPTD Tekkomdik Dinas P dan K NTT (2026).
Mestinya semua pihak sudah memahami arti penting literasi, arti penting buku meskipun mungkin tidak terlihat nyata dalam sumbangannya bagi kemajuan daerah atau dampak jangka pendek karena buku dan literasi merupakan satu investasi abstrak yang hasilnya baru dapat dirasakan 15-25 tahun ke depan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Anggota-DPRD-Provinsi-NTT-dari-Partai-Demokrasi-Indonesia-Eman-Kolfidus.jpg)