Opini
Opini: Hari Kartini dan Hari Buku Sedunia
Kartini telah mengajarkanpendidikan adalah kunci utama untuk membuka pintu kebebasan, bukan hanya secara fisik, tetapi kebebasan berpikir.
Oleh : Emanuel Kolfidus
Pegiat Literasi, tinggal di Kota Kupang - Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Setiap 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai peringatan khusus bagi kaum perempuan atas perannya bagi tanah air.
Hari Kartini berpatokan pada sosok Raden Ajeng Kartini (R.A Kartini) tepatnya hari lahir R.A. Kartini pada 21 April 1879, di era kolonialisme Belanda.
R.A. Kartini merupakan seorang puteri bangsawan Jawa (Jepara-Jawa Tengah), anak bupati Jepara saat itu, memiliki peran sebagai pejuang kemerdekaan dan diberi gelar pahlawan nasional.
Perjuangan Kartini terutama dalam isu emansipasi wanita yang zaman now disebut perjuangan gender atau feminisme, antara lain disebabkan adanya larangan bagi dirinya untuk bersekolah lebih tinggi dan dipaksa menikah muda.
Baca juga: Opini: Tangan yang Menenun, Hidup yang Belum Terjalin
Perjuangan Kartini dalam “memerdekakan” kaumnya (perempuan) tidak menggunakan bedil, pistol, roket atau rudal tetapi dengan kekuatan literasi melalui pena, pengajaran, edukasi dan advokasi.
Ia rutin menulis surat sebagai korespondensi dengan temannya di Belanda dan Eropa seperti Rosa Manuela Abendanon dan Estella Zeehandelaar (tentu kita ingat pula 12 surat korespondensi Bung Karno dari Ende-Flores).
Surat-surat itu kemudian diterbitkan sebagai sebagai sebuah buku berjudul Door Duistenis Tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang dan beberapa buku lainnya.
Dengan latar ini, peringatan Hari Kartini, 21 April 2026 dapat kita sandingkan dengan Peringatan Hari Buku Sedunia, 23 April 2026. Kedua peristiwa ini memiliki benang merah, yaitu berkaitan dengan literasi.
Kartini menulis surat berarti Kartini sedang bergiat literasi. Surat-surat Kartini dibukukan, berarti pula sebagai upaya literasi agar generasi penerusnya dapat mengikuti perjuangan para tokoh bangsa, sekaligus mengenal dan memahami pemikiran-pemikiran mereka.
Dalam ikhtiar ini, buku Habis Gelap Terbitlah Terang dapat menjadi bahan penting dalam gerakan emansipasi, gender dan feminisme, intinya dalam perjuangan akan nilai-nilai persamaan hak perempuan dan laki-laki, kesetaraan, keadilan, non diskriminasi, anti kekerasan dan kehidupan inklusi.
Peringatan hari Kartini dengan mengingat bukunya, akan mengisi ruang senjang sejarah yang dominan bercerita tentang kaum laki-laki daripada peran-peran kunci kaum perempuan.
Surat dan buku mungkin kurang berarti di mata banyak orang, sebagai hal kecil dan tersingkir dari ruang publik, tetapi perlu diingat, banyak surat dan buku telah menjadi hulu ledak perubahaan sosial bahkan kejatuhan rezim politik.
Dalam konteks ini, perempuan Kartini telah berperan penting dalam rantai kehidupan sosial dan siklus perubahaannya, dan ini selalu terdapat dalam setiap tradisi lokal, dimana mereka (perempuan) mampu menyumbangkan intelektualitas sebagai pancaran cahaya bagi perubahaan sosial yang penting;
Protes dan kekecewaan Kartini karena tidak diizinkan mengenyam pendidikan tinggi dan “pemberontakannya sunyinya” menjadi oase humanism dan spirit untuk pemberian peluang dan akses yang sama kepada perempuan dan laki-laki dalam bidang pendidikan.
Terkait resonansinya dengan Peringatan Hari Buku Sedunia, telah berulang-ulang dinyatakan, diyakini dan terbukti bahwa literasi menjadi kunci peradaban.
Tanpa literasi, ibarat nasi tanpa garam, seperti lagu tanpa nada dasar, karena literasi selalu satu kesatuan dengan dunia pendidikan sebagai proses membangun peradaban.
Tokoh postkolonialisme mengatakan bahwa salah satu usaha dekolonisasi yang penting adalah memerdekakan bangsa sendiri dari penjajahan budaya kolonial (colonialism of thje mind) dan hanya melalui pendidikan, suatu bangsa dapat malakukan dekolonisasi budaya kolonial tersebut (decolonizing the mind).
Jika buku, jika literasi tidak penting mengapa perlu ada peringatan hari buku Sedunia dan nanti pada bulan Mei ada peringatan hari buku nasional?
Mufit Apriliani (Kompas, 23/4/2025) menulis bahwa Hari Buku Sedunia atau disebut juga Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia merupakan peringatan yang diinisasi UNESCO; (UNESCO merupakan Badan PBB yang bergerak di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, seni dan kebudayaan), untuk menyebarluaskan kegiatan membaca, menerbitkan, dan melindungi hak cipta.
Semangat ini tentu relevan dengan Nusa Tenggara Timur yang sedang dalam usaha meningkatkan kegiatan literasi. Mengapa dipilih tanggal 23 April?
Ini rujukan atas kematian dari para penulis besar dunia, seperti William Shakespeare, Miguel de Cervantes, dan Inca Garcilaso de la Vega.
Bagi UNESCO buku penting sebagai jembatan antara masa lalu, masa kini dan masa depan, pun dalam kegunaan lainnya, mampu membawa perubahaan dalam lingkungan sosial seperti pendidikan, kemiskinan dan ekonomi.
Dalam bahasa sederhana namun indah, buku adalah jendela dunia (book are the window to the world). Makna filosofis jendela biasanya sebagai tempat seseorang duduk dan atau berdiri, sendirian dalam hening dengan penuh konsentrasi memandang ke luar, membayangkan, menghayati, mengilhami dan melakukan refleksi batin tentang dirinya dan fenomena di luar dirinya, akan mampu menemukan inspirasi, tekad untuk maju dan kehendak baik.
Melalui jendela, seseroang menatap dunia dengan dua mata, mata lahiriah dan mata batin.
Kartini, dengan tidak bisa melakukan pemberontakan secara frontal, Tempo melabelinya sebagai feminisme di balik tembok (Gelap Terang Hidup Kartini, Tempo, 2014) memilih berjuang melalui “jendela” dengan senjata pena dan kertas tentunya, menghasilkan surat-surat yang berbicara yang pada akhirnya dibukukan dan dengan itu, semua orang menjadi tahu cita-cita, harapan, keinginan dan arah perjuangan dirinya yang kelak menjadi inspirasi dan sikap moral.
Kartini dengan keningratannya (bisa disebut lingkungan feodalismenya) mencoba melakukan adeldom verplicht, kebangsawanan menanggung kewajiban atau prinsip noblese oblige, keningratan membawa kebajikan.
Kita dapat menjadi Kartini-Kartini abad ini. Mari kita melihat statistik minat baca dan literasi di NTT untuk sejenak melupakan menghitung sudah berapa rudal dan drone dilepas di selat Hormuz atau juga sejumlah persoalan sosial dalam tanah air akibat dampak perang Timur Tengah dan juga anomali iklim global.
NTT, setidaknya memiliki tanggung jawab literasi bersama untuk 289.352 siswa SLB, SMA dan SMK dalam lingkup kewenangan Gubernur (Dinas P dan K Provinsi), 146.179 siswa perempuan (50,52 persen) dan 143.173 siswa laki-laki (49,48 persen) sebagaimana data dari Buku Peta Satuan Pendidikan, Guru dan Tenaga Kependidikan di NTT yang diterbitkan UPTD Tekkomdik Dinas P dan K NTT (2026).
Mestinya semua pihak sudah memahami arti penting literasi, arti penting buku meskipun mungkin tidak terlihat nyata dalam sumbangannya bagi kemajuan daerah atau dampak jangka pendek karena buku dan literasi merupakan satu investasi abstrak yang hasilnya baru dapat dirasakan 15-25 tahun ke depan.
Tetapi sebagaimana membangun sebuah rumah, tentunya kita hendak mendirikan rumah dengan fondasi yang kuat agar bertahan lama, menjadi hunian yang sejuk dan nyaman serta membahagiakan untuk beberapa generasi.
Dengan begitu Hari Kartini bagi saya adalah hari literasi dan Hari Buku yang perayaannya hanya berselang dua hari.
Biarlah Kartini menjadi pembelajaran moral tentang kisah terjepit (diskriminasi) antara cinta, impian dan adat, meski ia mati muda tetapi cita-citanya terpelihara abadi di Leiden, Belanda yang terus merawat surat-suratnya yang inspiratif dan tentu saja, membawa di dada juang anak bangsa.
Sebuah pesan berharga, dari Tempo, Kartini taka sebatas kebaya dan seremoni, Kartini adalah hak perempuan.
Kartini telah mengajarkan bahwa pendidikan adalah kunci utama untuk membuka pintu kebebasan, bukan hanya secara fisik, tetapi juga kebebasan berpikir”.
Saya menutup tulisan kecil ini dengan beberapa pesan; dari Nobelis Sastra, Ernest Hemingway : “tidak ada teman yang setiap seperti buku ”.
Dari sastrawan Indonesia, Ayu Utami : “ dengan membaca kita belajar memahami dunia dan diri sendiri ” atau pesan dari Novelis Amerika, Mark Twain : “orang yang tidak membaca tidak mempunyai kelebihan dibandingkan dengan orang yang membaca ”.
Lagi-lagi, Kartini terkenal karena surat dan buku, maka mari merawat peradaban kita dengan literasi. Selamat Hari Kartini, selamat Hari Buku Sedunia. (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Anggota-DPRD-Provinsi-NTT-dari-Partai-Demokrasi-Indonesia-Eman-Kolfidus.jpg)