Minggu, 19 April 2026

Opini

Opini: Menanti Veronika di Menara Babel

Veronika adalah keberanian untuk berhenti sejenak di tengah sistem yang terus bergerak, lalu melihat manusia yang terluka.

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI JOHN MOZES HENDRIK WADU NERU
John Mozes Hendrik Wadu Neru 

Jürgen Habermas berbicara tentang komunikasi sebagai ruang membangun pemahaman. 

Tetapi dalam dunia yang dikendalikan sistem dan pasar, komunikasi berubah menjadi alat, bukan relasi.

Yang jarang kita sadari adalah: kita tidak kekurangan komunikasi, kita kehilangan kebenaran dalam komunikasi itu sendiri. Yang diam disebut sabar. 

Yang tertinggal disebut belum siap. Yang tidak terjangkau disebut wajar. Tetapi yang dibiarkan tidak adil, justru disebut normal.

Menanti Veronika di Menara Babel

Di sinilah simbol Veronika menjadi penting. Ia tidak datang membawa jaringan. Ia tidak membawa sistem. 

Ia tidak memperbaiki teknologi. Ia hanya hadir. Dan justru di situlah sesuatu yang paling langka hari ini: kehadiran yang tidak tunduk pada sistem, tetapi setia pada manusia.

Jika Babel adalah simbol manusia yang ingin menyatukan dunia tanpa relasi, maka Veronika adalah simbol keberanian untuk menghadirkan relasi di tengah sistem yang tidak peduli.

Kita tidak bisa terus menyebut ini sebagai keterbatasan daerah. Ini bukan sekadar soal listrik, sinyal, atau tarif. Ini adalah soal siapa yang kita biarkan tidak terlihat.

Barangkali kita tidak kekurangan jaringan. Barangkali kita tidak kekurangan teknologi. 

Yang kita kekurangan adalah kejujuran untuk mengakui bahwa kita sedang membangun menara yang tinggi, tetapi membiarkan manusia di dalamnya tetap sendiri. 

Dan di situlah judul ini menemukan maknanya.

Kita sedang hidup di dalam Menara Babel yang baru. 

Sinyal ada. Sistem berjalan. 

Dunia tampak terhubung.

Tetapi kasih tidak otomatis hadir.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved