Obituari
Pater Marsel Agot, SVD - Sang Gembala yang Membumi
Bagi mereka yang mengenal sosok imam dari tarekat Societas Verbi Divini (SVD) ini, Pater Marsel adalah anomali.
Beliau vokal menolak praktik tambang yang merusak lingkungan. Tidak segan berseberangan dengan para pengambil kebijakan demi menjaga alam dan martabat warga Manggarai.
Kiprah sosialnya juga menyentuh aspek mendasar seperti kesehatan. Ada rumah singgah. Juga pendidikan melalui perannya di Badan Pertimbangan Kesehatan Daerah (BPKD) Manggarai Barat.
Ia adalah sosok yang supel, rendah hati, namun bisa menjadi sangat keras dan terkesan garang, jika menyangkut hak-hak masyarakat yang tersodok, dipinggirkan.
Keteguhan di Tengah Badai
Di penghujung peziarahan hidupnya, Pater Marsel harus melewati jalan salib yang berat.
Sengketa lahan di wilayah Batu Gosok membawa namanya ke pusaran konflik. Sempat menerpa wajahnya—ia dituduh memimpin massa bersenjata.
Narasi ini berhasil diklarifikasi dengan elok. Dan para pihak yang terlibat dan juga kita yang mengikutinya di media sosial sudah mendapat ilustrasi secukupnya.
Hingga napas terakhir, ia tetap tegak. Melalui jalur hukum dan klarifikasi yang jujur, ia berusaha menjernihkan nama baiknya. Bukan karena haus kehormatan, melainkan untuk menjaga marwah imamat yang ia emban.
Perjuangan di akhir hidupnya ini seolah menjadi signal paling jujur bahwa jalan kebenaran memang selalu terjal. Dan terkadang sunyi.
Sang Penjaga Eden
Pater Marsel telah menyelesaikan pertandingannya. Ia pergi meninggalkan jejak-jejak kaki dan tangannya pada ribuan anakan pohon yang kian bertunas.
Dan barisan dedaunan rimbunan hutan-hutan buatan yang kini meneduhi ribuan makhluk hidup dan tempat bertenggernya berbagai satwa burung; juga ngkiong poco.
Virus semangat perjuangan itu kini bersemi di hati setiap aktivis lingkungan hidup Manggarai dan Manggarai Barat dan para muda di Flores.
Ia membuktikan bahwa iman tanpa perbuatan—tanpa kepedulian pada ekologi dan keadilan—adalah iman setengah hati dan pelan-pelan mati.
Labuan Bajo mungkin akan terus berubah jadi molek super premium dengan polesan bintang hotel-hotel megahnya, namun nama Pater Marsel Agot akan selalu terpatri di akar-akar pohon yang ia tanam.
Marsel menanamya dengan hati di tanah tumpah darah yang ia belai dengan darah dan airmata.
Beristirahatlah dalam damai abadi, Tuang Marsel Agot.Tugasmu menjaga "Taman Eden" di bumi telah paripurna. Engkau beralih dalam damai di Taman Firdaus nan Abadi. RIP. (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Marsel-Agot-03.jpg)