Opini
Opini: Mesin Kepuasan atau Negara Pembelajar
Pemerintah dapat memilih menjadi mesin kepuasan, yaitu rezim yang sibuk memproduksi program-program yang cepat terlihat.
Kedua, fokus kebijakan harus ditarik kembali ke inti keresahan warga: harga pangan, pekerjaan, dan kemiskinan. Selama tiga soal ini belum bergerak secara meyakinkan, maka kepuasan publik tetap bersifat rapuh, mudah naik, dan mudah turun.
Ketiga, negara harus membangun budaya pembelajaran. Dalam tradisi administrasi publik yang sehat, angka survei adalah data awal, bukan putusan akhir. Ia tidak menutup evaluasi; ia justru membukanya.
Pada akhirnya, pemerintahan yang kuat bukan pemerintahan yang paling piawai mengumpulkan persetujuan, melainkan pemerintahan yang sanggup menolak godaan untuk hidup dari persetujuan itu.
Negara dapat memilih menjadi mesin kepuasan. Tetapi jika ia ingin bertahan lebih lama dari musim tepuk tangan, ia harus memilih menjadi negara pembelajar. (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
| Opini: Banjir Keyakinan, Krisis Kebenaran |
|
|---|
| Opini: Perairan NTT Tak Sekadar Terkait Perut Rakyat Namun Sumber Kedaulatan Ekonomi |
|
|---|
| Opini: ProKlim, Ekonomi Karbon, dan Momentum Aksi Nyata dari Komunitas |
|
|---|
| Opini - Ketika Data Mengalahkan Realitas: Ancaman Baru Bagi Kearifan Lokal NTT |
|
|---|
| Opini: Menjaga Mutu Undana di Balik Layar WFH |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yoga-Bumi-Pradana.jpg)