Minggu, 19 April 2026

Opini

Opini: Ketika Hujan Tak Datang, Siapa yang Kita Jaga?

Kekeringan sesungguhnya tidak pertama-tama hadir di angka, grafik, atau laporan resmi. Ia masuk perlahan ke kehidupan sehari-hari. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ROY NENDISSA
Roy Nendissa 

Dalam arti itulah peringatan dini semestinya dimaknai. Ia bukan sekadar informasi agar kita tahu, melainkan panggilan agar kita bergerak lebih awal.

Namun, kita sering lebih cepat membicarakan dampak daripada menyiapkan daya tahan. 

Kita terbiasa merespons ketika krisis mulai terlihat, padahal banyak hal sebetulnya dapat disiapkan lebih dini: penyesuaian kalender tanam, pemilihan benih tahan kering, penguatan cadangan pangan lokal, pengelolaan air, perlindungan ternak, hingga intervensi gizi bagi kelompok rentan. 

Ini bukan soal mencari siapa yang patut disalahkan. Ini soal memahami bahwa antisipasi selalu lebih bijak daripada penyesalan yang datang terlambat.

Barangkali yang membuat kita kerap terlambat membaca kedalaman persoalan ini adalah karena kekeringan terlalu sering dipandang hanya sebagai masalah teknis. 

Padahal ia sesungguhnya juga menguji hubungan kita dengan sesama. Ia memperlihatkan apakah kebijakan kita cukup peka, apakah sistem pangan kita cukup lentur, apakah pengetahuan kita cukup membumi, dan apakah kepedulian kita cukup hidup.

Pada saat yang sama, kita juga perlu mengingat bahwa ketahanan tidak selalu dibangun dari sesuatu yang besar. Sering kali ia lahir dari kemampuan menghargai kekuatan yang sudah ada di sekitar kita. 

Nusa Tenggara Timur sesungguhnya tidak miskin sumber harapan. Jagung lokal, sorgum, kelor, kacang-kacangan, umbi-umbian, ternak kecil, dan pengetahuan masyarakat tentang musim adalah modal penting untuk bertahan. 

Yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk melihat semua itu bukan sebagai sisa masa lalu, melainkan sebagai bagian dari strategi adaptasi yang rasional, ekologis, dan ilmiah.

Karena itu, respons terhadap musim kering seharusnya bergerak pada beberapa arah sekaligus. Pertanian di wilayah rawan perlu diarahkan pada pola yang lebih adaptif. Pengelolaan air perlu diperlakukan sebagai fondasi ketahanan, bukan urusan teknis pinggiran. 

Perlindungan gizi perlu ditempatkan sejajar dengan perlindungan produksi. 

Dan kerja bersama perlu diperkuat: pemerintah, masyarakat, kampus, penyuluh, sekolah, komunitas desa, hingga lembaga keagamaan, semuanya perlu dipertemukan dalam semangat yang sama, yaitu menjaga yang paling rentan agar tidak dibiarkan menanggung beban sendirian.

Pada akhirnya, tulisan tentang kemarau tidak seharusnya berhenti pada seruan untuk waspada. Kita memerlukan cara pandang yang lebih tenang, lebih dalam, dan lebih manusiawi. 

Ketika hujan tak datang, yang sedang diuji bukan hanya tanah pertanian, melainkan juga kepekaan kita untuk membaca penderitaan yang datang tanpa suara. 

Krisis paling berat sering tidak hadir dalam istilah teknis, tetapi dalam perubahan kecil yang terjadi di dapur, di sumur, di ladang, dan di hati orang-orang yang bertahan tanpa banyak mengeluh.

Yang paling mengkhawatirkan bukan ketika hujan berhenti, tetapi ketika kepedulian kita ikut berhenti.

Kekeringan mungkin datang dari langit, tetapi membiarkan rakyat bertahan sendirian adalah pilihan kita. (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved