Opini
Opini: Ketika Hujan Tak Datang, Siapa yang Kita Jaga?
Kekeringan sesungguhnya tidak pertama-tama hadir di angka, grafik, atau laporan resmi. Ia masuk perlahan ke kehidupan sehari-hari.
Oleh: Prof. Dr. Ir. D. Roy Nendissa, MP., CRA., CRP., C.SEpro
Guru Besar dalam Bidang Ekonomi Pertanian/ Pemasaran Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana Kupang.
Email: roynendissa@staf.undana.ac.id
POS-KUPANG.COM - Ketika BMKG mengingatkan bahwa musim kemarau 2026 di banyak wilayah Indonesia datang lebih awal dan cenderung lebih kering dari normal, yang segera terbayang biasanya adalah sawah yang mulai retak, embung yang surut, rumput yang menguning, dan antrean air yang memanjang.
BMKG memproyeksikan bahwa 64,5 persen zona musim di Indonesia akan mengalami kemarau di bawah normal atau lebih kering dari biasanya, dan Nusa Tenggara
termasuk wilayah yang diperkirakan lebih awal memasuki musim kering.
Informasi seperti ini penting. Namun, ada sisi lain yang sering luput kita lihat.
Baca juga: Opini: Menghadapi Kekeringan dan Musim Hujan Atas Normal di NTT
Kekeringan sesungguhnya tidak pertama-tama hadir di angka, grafik, atau laporan resmi. Ia masuk perlahan ke kehidupan sehari-hari.
Kekeringan hadir ketika seorang petani di lahan kering menatap langit yang tak kunjung berubah.
Ia hadir ketika seorang ibu mulai menghitung ulang pengeluaran dapur, bukan untuk hidup lebih hemat, melainkan agar makanan tetap cukup sampai akhir pekan.
Pada titik itu, kemarau bukan lagi semata-mata soal iklim. Ia menjadi pengalaman hidup yang sangat manusiawi.
Di situlah pertanyaan penting perlu diajukan: apa yang sebenarnya sedang kita hadapi ketika hujan tak datang?
Tentu bukan hanya berkurangnya curah hujan. Yang sedang kita hadapi adalah tekanan terhadap satu rangkaian kehidupan yang saling terhubung.
Ketika tanah kehilangan kelembapan, musim tanam terganggu. Ketika musim tanam terganggu, produksi melemah. Ketika produksi melemah, pasokan menurun.
Ketika pasokan menurun, harga pangan menjadi lebih rentan naik. Dan ketika harga naik, rumah tangga yang paling rapuh akan menjadi yang paling dulu merasakan sesaknya.
Karena itu, kekeringan tidak pernah semata soal cuaca. Ia selalu juga soal pangan, pendapatan, dan daya tahan hidup.
Dalam konteks seperti itu, ancaman musim kering seharusnya tidak dibaca sebagai urusan teknis belaka, tetapi sebagai pengingat bahwa sistem sosial-ekonomi kita masih menyimpan kerentanan yang besar.
Yang paling dahulu merasakan dampak tentu bukan mereka yang memiliki bantalan ekonomi kuat. Yang paling dahulu merasakannya adalah petani kecil, peternak rakyat, buruh tani, ibu rumah tangga, dan anak-anak.
Mereka hidup paling dekat dengan musim, tetapi sering kali justru paling jauh dari perlindungan yang memadai.
Di Nusa Tenggara Timur, kerentanan itu menjadi lebih nyata karena kemiskinan masih menjadi persoalan besar.
BPS NTT mencatat bahwa pada September 2025, persentase penduduk miskin di NTT masih 17,50 persen atau sekitar 1,03 juta jiwa. Yang menarik, sekaligus memprihatinkan, komponen makanan menyumbang 75,54 persen dari garis kemiskinan.
Data ini menyampaikan pesan yang sederhana: bagi banyak rumah tangga, persoalan hidup memang sangat ditentukan oleh soal makan.
Artinya, setiap tekanan pada sistem pangan akan segera menyentuh inti kehidupan rumah tangga miskin.
Ketika musim kering menekan produksi dan distribusi, yang berubah bukan hanya harga di pasar. Yang berubah adalah isi piring keluarga. Lauk menjadi lebih jarang. Variasi makanan menyusut.
Pilihan konsumsi bergeser dari yang bergizi ke yang sekadar mengenyangkan. Perubahan seperti ini sering berjalan sunyi, tetapi dampaknya sangat dalam.
Di sinilah isu kekeringan bertemu dengan persoalan yang lebih mendasar, yakni gizi keluarga. Secara nasional, prevalensi stunting memang menurun menjadi 19,8 persen berdasarkan SSGI 2024. Itu patut diapresiasi.
Namun, justru karena capaian itu belum sepenuhnya kokoh, setiap tekanan iklim perlu dibaca dengan lebih hati-hati.
Rumah tangga yang hidup di ambang kemampuan akan sangat mudah terdorong mundur ketika pangan makin mahal dan akses terhadap makanan bergizi makin sempit.
Bagi wilayah seperti Nusa Tenggara Timur, ancaman itu terasa lebih tajam karena faktor ekologis dan sosial bertemu dalam satu ruang yang sama. Di banyak tempat di NTT, hujan bukan hanya peristiwa alam tahunan.
Hujan adalah penentu ritme hidup. Ia menentukan kapan orang menanam, kapan ternak mendapat pakan cukup, kapan sumur masih bisa diandalkan, dan kapan keluarga merasa tenang bahwa dapurnya masih aman.
Maka ketika kemarau datang lebih awal dan diperkirakan lebih kering, tekanan itu tidak dapat dipahami sebagai gangguan musiman biasa. Ia adalah ujian bagi wilayah yang sejak lama belajar hidup di tepi keterbatasan.
Pertanyaan berikutnya tentu adalah kapan seharusnya kita bertindak. Jawabannya sesungguhnya sederhana: sebelum krisis tampak di permukaan.
Sebelum sawah pecah. Sebelum ternak kurus. Sebelum harga naik. Sebelum seorang ibu mulai mengurangi kualitas makanan anaknya.
Dalam arti itulah peringatan dini semestinya dimaknai. Ia bukan sekadar informasi agar kita tahu, melainkan panggilan agar kita bergerak lebih awal.
Namun, kita sering lebih cepat membicarakan dampak daripada menyiapkan daya tahan.
Kita terbiasa merespons ketika krisis mulai terlihat, padahal banyak hal sebetulnya dapat disiapkan lebih dini: penyesuaian kalender tanam, pemilihan benih tahan kering, penguatan cadangan pangan lokal, pengelolaan air, perlindungan ternak, hingga intervensi gizi bagi kelompok rentan.
Ini bukan soal mencari siapa yang patut disalahkan. Ini soal memahami bahwa antisipasi selalu lebih bijak daripada penyesalan yang datang terlambat.
Barangkali yang membuat kita kerap terlambat membaca kedalaman persoalan ini adalah karena kekeringan terlalu sering dipandang hanya sebagai masalah teknis.
Padahal ia sesungguhnya juga menguji hubungan kita dengan sesama. Ia memperlihatkan apakah kebijakan kita cukup peka, apakah sistem pangan kita cukup lentur, apakah pengetahuan kita cukup membumi, dan apakah kepedulian kita cukup hidup.
Pada saat yang sama, kita juga perlu mengingat bahwa ketahanan tidak selalu dibangun dari sesuatu yang besar. Sering kali ia lahir dari kemampuan menghargai kekuatan yang sudah ada di sekitar kita.
Nusa Tenggara Timur sesungguhnya tidak miskin sumber harapan. Jagung lokal, sorgum, kelor, kacang-kacangan, umbi-umbian, ternak kecil, dan pengetahuan masyarakat tentang musim adalah modal penting untuk bertahan.
Yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk melihat semua itu bukan sebagai sisa masa lalu, melainkan sebagai bagian dari strategi adaptasi yang rasional, ekologis, dan ilmiah.
Karena itu, respons terhadap musim kering seharusnya bergerak pada beberapa arah sekaligus. Pertanian di wilayah rawan perlu diarahkan pada pola yang lebih adaptif. Pengelolaan air perlu diperlakukan sebagai fondasi ketahanan, bukan urusan teknis pinggiran.
Perlindungan gizi perlu ditempatkan sejajar dengan perlindungan produksi.
Dan kerja bersama perlu diperkuat: pemerintah, masyarakat, kampus, penyuluh, sekolah, komunitas desa, hingga lembaga keagamaan, semuanya perlu dipertemukan dalam semangat yang sama, yaitu menjaga yang paling rentan agar tidak dibiarkan menanggung beban sendirian.
Pada akhirnya, tulisan tentang kemarau tidak seharusnya berhenti pada seruan untuk waspada. Kita memerlukan cara pandang yang lebih tenang, lebih dalam, dan lebih manusiawi.
Ketika hujan tak datang, yang sedang diuji bukan hanya tanah pertanian, melainkan juga kepekaan kita untuk membaca penderitaan yang datang tanpa suara.
Krisis paling berat sering tidak hadir dalam istilah teknis, tetapi dalam perubahan kecil yang terjadi di dapur, di sumur, di ladang, dan di hati orang-orang yang bertahan tanpa banyak mengeluh.
Yang paling mengkhawatirkan bukan ketika hujan berhenti, tetapi ketika kepedulian kita ikut berhenti.
Kekeringan mungkin datang dari langit, tetapi membiarkan rakyat bertahan sendirian adalah pilihan kita. (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
Roy Nendissa
Musim Kemarau 2026
musim kemarau meluas
kekeringan lahan
NTT Waspada Kekeringan
Opini Pos Kupang
Fakultas Pertanian Undana Kupang
Meaningful
| Opini: Laporan Keuangan Daerah-Antara Kewajiban Regulasi dan Tanggung Jawab Publik |
|
|---|
| Opini: Diagnosa Dini- Jembatan Memperpanjang Hidup |
|
|---|
| Opini: Flores Timur di Persimpangan ETMC 2026 |
|
|---|
| Opini: Problem Kerusakan Infrastruktur Jalan di Kampung Leong Manggarai Timur |
|
|---|
| Opini: Budaya Percaya Instan dan Jerat Pinjaman Digital |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Roy-Nendissa.jpg)