Rabu, 15 April 2026

Opini

Opini: Ketika Hujan Tak Datang, Siapa yang Kita Jaga?

Kekeringan sesungguhnya tidak pertama-tama hadir di angka, grafik, atau laporan resmi. Ia masuk perlahan ke kehidupan sehari-hari. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ROY NENDISSA
Roy Nendissa 

Mereka hidup paling dekat dengan musim, tetapi sering kali justru paling jauh dari perlindungan yang memadai. 

Di Nusa Tenggara Timur, kerentanan itu menjadi lebih nyata karena kemiskinan masih menjadi persoalan besar. 

BPS NTT mencatat bahwa pada September 2025, persentase penduduk miskin di NTT masih 17,50 persen atau sekitar 1,03 juta jiwa. Yang menarik, sekaligus memprihatinkan, komponen makanan menyumbang 75,54 persen dari garis kemiskinan. 

Data ini menyampaikan pesan yang sederhana: bagi banyak rumah tangga, persoalan hidup memang sangat ditentukan oleh soal makan.

Artinya, setiap tekanan pada sistem pangan akan segera menyentuh inti kehidupan rumah tangga miskin. 

Ketika musim kering menekan produksi dan distribusi, yang berubah bukan hanya harga di pasar. Yang berubah adalah isi piring keluarga. Lauk menjadi lebih jarang. Variasi makanan menyusut. 

Pilihan konsumsi bergeser dari yang bergizi ke yang sekadar mengenyangkan. Perubahan seperti ini sering berjalan sunyi, tetapi dampaknya sangat dalam.

Di sinilah isu kekeringan bertemu dengan persoalan yang lebih mendasar, yakni gizi keluarga. Secara nasional, prevalensi stunting memang menurun menjadi 19,8 persen berdasarkan SSGI 2024. Itu patut diapresiasi. 

Namun, justru karena capaian itu belum sepenuhnya kokoh, setiap tekanan iklim perlu dibaca dengan lebih hati-hati. 

Rumah tangga yang hidup di ambang kemampuan akan sangat mudah terdorong mundur ketika pangan makin mahal dan akses terhadap makanan bergizi makin sempit.

Bagi wilayah seperti Nusa Tenggara Timur, ancaman itu terasa lebih tajam karena faktor ekologis dan sosial bertemu dalam satu ruang yang sama. Di banyak tempat di NTT, hujan bukan hanya peristiwa alam tahunan. 

Hujan adalah penentu ritme hidup. Ia menentukan kapan orang menanam, kapan ternak mendapat pakan cukup, kapan sumur masih bisa diandalkan, dan kapan keluarga merasa tenang bahwa dapurnya masih aman. 

Maka ketika kemarau datang lebih awal dan diperkirakan lebih kering, tekanan itu tidak dapat dipahami sebagai gangguan musiman biasa. Ia adalah ujian bagi wilayah yang sejak lama belajar hidup di tepi keterbatasan.

Pertanyaan berikutnya tentu adalah kapan seharusnya kita bertindak. Jawabannya sesungguhnya sederhana: sebelum krisis tampak di permukaan. 

Sebelum sawah pecah. Sebelum ternak kurus. Sebelum harga naik. Sebelum seorang ibu mulai mengurangi kualitas makanan anaknya. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved