Opini
Opini: Mengubah Krisis Energi Menjadi Energi Kreativitas
Sebenarnya, masyarakat kita tidak kekurangan ide. Di berbagai penjuru Nusantara, inovasi lahir dari desakan kebutuhan.
Padahal, dalam menghadapi krisis, solusi paling efektif sering kali lahir dari komunitas yang paling dekat dengan masalah tersebut. Kreativitas inilah yang seharusnya dikonversi menjadi kebijakan nasional yang memberdayakan.
Fenomena panic buying adalah bukti nyata kegagalan komunikasi krisis. Di sinilah pentingnya komunikasi yang memberdayakan.
Pemerintah dan media tidak cukup hanya menyampaikan imbauan hemat energi, tetapi harus mampu membangun narasi bahwa transisi energi adalah strategi bertahan hidup yang patriotik.
Komunikasi seharusnya tidak lagi bersifat instruktif, melainkan partisipatif. Masyarakat perlu diyakinkan bahwa mereka adalah bagian dari solusi.
Ada peribahasa: tidak ada rotan, akar pun jadi. Ketika BBM fosil semakin mahal dan terbatas karena konflik global, energi alternatif harus diposisikan sebagai pilihan nyata yang aksesibel.
Perubahan narasi ini krusial untuk mengubah ketakutan masyarakat menjadi energi kreatif.
Masyarakat yang terinformasi dengan baik akan lebih siap melakukan transisi, mulai dari beralih ke kendaraan listrik hingga memasang solar rooftop secara kolektif.
Momentum Berbenah
Krisis energi global adalah ujian sekaligus lonceng pengingat yang berbunyi sangat nyaring. Ia bukan akhir, melainkan momentum untuk melakukan lompatan besar.
Indonesia tidak kekurangan sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Yang kita butuhkan saat ini adalah keberanian politik untuk memberikan ruang seluas-luasnya bagi kreativitas masyarakat.
Pemerintah perlu mempercepat deregulasi yang menghambat pengembangan EBT skala komunitas.
Media perlu terus menggaungkan kisah-kisah sukses inovasi energi dari desa-desa terpencil untuk menginspirasi pusat-pusat kota.
Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat akan menjadi kunci utama.
Pada akhirnya, kita harus sadar bahwa energi fosil memiliki batas dan sangat rentan terhadap konflik geopolitik. Namun, kreativitas manusia dan potensi alam yang terbarukan adalah sumber daya yang tak terbatas.
Jika kita mampu mengelola keduanya dengan bijak, maka krisis energi hari ini akan kita kenang sebagai titik balik Indonesia menuju kemandirian energi yang sejati.
Sebab, kreativitas adalah satu-satunya energi yang justru akan semakin besar saat kita terus menggunakannya. (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yayan-Sakti-Suryandaru.jpg)