Opini
Opini: Menyalibkan Kebenaran
Filsuf Hannah Arendt, menyebut post-truth bukan sekadar kebohongan, tetapi situasi di mana fakta kehilangan otoritasnya.
Ironi Pilatus dan Wajah Post-Truth di Jumat Agung
Oleh: Kristianus Jehamit
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Dalam ritme iman Gereja Katolik, Tri Hari Suci bukan sekadar rangkaian perayaan liturgis, tetapi sebuah perjalanan eksistensial, mulai dari perjamuan malam terakhir, menuju salib dan berakhir pada pristiwa kebangkitan.
Tampak pada perayaan Jumat Agung, sebuah momen sunyi ketika dunia seakan menyaksikan kebenaran yang tidak hanya ditolak tetapi juga disalibkan.
Kisah sengsara Yesus Kristus menghadirkan sebuah ironi yang mengguncang, bahwa kebenaran tidak kalah karena kelemahan, melainkan karena manusia menolak untuk mengakuinya.
Dalam pengadilan yang dipimpin oleh Pontius Pilatus, pertanyaan “apa itu kebenaran?” tidak lahir dari kerinduan akan jawaban, tetapi dari jarak eksistensial terhadap kebenaran itu sendiri.
Baca juga: Opini: Paskah sebagai Bahasa Harapan Baru
Pilatus berdiri di hadapan kebenaran, namun memilih netralitas yang berujung pada ketidakadilan.
Peristiwa ini bukan sekadar fragmen sejarah keselamatan melainkan cermin bagi zaman kita.
Dalam era post-truth, drama yang sama seakan terulang: kebenaran tidak lagi menjadi fondasi bersama, tetapi dikorbankan dalam arena kepentingan terutama dalam politik.
Filsuf Hannah Arendt, menyebut post-truth bukan sekadar kebohongan, tetapi situasi di mana fakta kehilangan otoritasnya.
Di sana, yang dipertaruhkan bukan lagi kebenaran, tetapi persepsi, bukan fakta melainkan pengaruh.
Melalui distorsi informasi, manipulasi emosi, dan produksi narasi yang dikendalikan oleh kekuasaan, kebenaran perlahan kehilangan otoritasnya, ia tidak disangkal secara frontal, tetapi dilemahkan hingga kehilangan makna.
Inilah bentuk modern dari “penyaliban kebenaran” yaitu sebuah proses di mana kebenaran tetap hadir tetapi tidak lagi memiliki daya untuk mengikat kesadaran bersama. Akibatnya kepercayaan publik runtuh.
Masyarakat tidak lagi yakin pada institusi, media, bahkan pada fakta itu sendiri. Dunia yang seharusnya dibangun di atas kebenaran berubah menjadi ruang kecurigaan dan polarisasi.
Dalam situasi ini pertanyaan Pilatus menemukan relevansi barunya, yaitu bukan lagi sebagai pertanyaan filosofis, tetapi sebagai gejala krisis zaman.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Kristianus-Jehamit-03.jpg)