Opini
Opini: Paskah sebagai Bahasa Harapan Baru
Paskah mengajak kita untuk tidak menyerah pada kelelahan dunia, tetapi justru menemukan kembali kekuatan untuk berharap..
Oleh: Aldo Fernandes
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Ada fase dalam kehidupan ketika kebisingan dunia, kecepatan waktu, dan beban realitas bertemu membuat manusia merasa kecil dan letih sekaligus.
Kita hidup di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti, krisis yang datang silih berganti, serta luka-luka pribadi yang sering kali tak sempat disembuhkan.
Di tengah situasi ini, manusia modern perlahan mengalami kelelahan eksistensial bukan sekadar lelah secara fisik, tetapi lelah dalam berharap, lelah dalam percaya, bahkan lelah dalam beriman.
Dalam konteks seperti inilah, Paskah hadir. Namun, pertanyaannya: apakah Paskah masih mampu berbicara? Ataukah ia hanya menjadi ritual tahunan yang kehilangan daya gugahnya?
Ketika dunia terasa letih, Paskah tidak lagi bisa dimaknai sekadar sebagai perayaan kemenangan yang meriah. Ia harus dilihat sebagai sebuah bahasa harapan yang lahir dari kedalaman penderitaan.
Paskah: Dari Gelap Menuju Terang
Paskah tidak dimulai dengan terang, melainkan dengan gelap. Ia tidak berangkat dari kemenangan, tetapi dari kegagalan, pengkhianatan, dan kematian. Kisah ini justru sangat manusiawi.
Baca juga: Opini: Memberi “Gagang” pada Salib
Banyak dari kita hidup dalam pengalaman “Jumat Agung” menghadapi kehilangan, ketidakpastian, dan rasa hampa yang sulit dijelaskan.
Dalam pengalaman ini, harapan sering kali terasa seperti sesuatu yang jauh dan asing. Namun Paskah berbicara dengan cara yang berbeda.
Ia tidak menawarkan harapan yang instan atau dangkal. Kebangkitan bukanlah penghapusan luka, melainkan transformasi luka itu sendiri. Yesus yang bangkit tetap membawa bekas luka di tubuh-Nya.
Ini adalah simbol bahwa penderitaan tidak dihapus, tetapi diberi makna baru. Dengan demikian, Paskah mengajarkan bahwa harapan sejati tidak lahir dari hilangnya penderitaan, melainkan dari keberanian untuk melampaui penderitaan itu.
Di sinilah Paskah menjadi bahasa baru bahasa yang tidak berteriak, tetapi berbisik. Bahasa yang tidak memaksa, tetapi mengundang.
Dalam dunia yang lelah, manusia tidak membutuhkan jawaban-jawaban besar yang penuh retorika, melainkan kehadiran yang setia, makna yang perlahan, dan harapan yang sederhana namun nyata. Paskah hadir sebagai bahasa semacam ini: lembut, namun mendalam.
Kebangkitan sebagai Panggilan Komunal
Kelelahan dunia saat ini juga terlihat dalam relasi sosial yang semakin rapuh. Polarisasi, konflik, dan ketidakpercayaan menjadi warna yang dominan.
Orang lebih mudah menghakimi daripada memahami. Dalam situasi seperti ini, Paskah mengingatkan bahwa kebangkitan tidak hanya bersifat personal, tetapi juga komunal. Harapan tidak bisa tumbuh dalam keterasingan. Ia membutuhkan relasi, empati, dan solidaritas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Aldo-Fernandes-02.jpg)