Opini
Opini: Memberi “Gagang” pada Salib
Salib adalah tanda solidaritas Allah dengan korban, bukan tanda kedekatan gereja dengan elite.
Kritik Teologis atas Seremoni Ramai-ramai Angkat Salib di Kupang
Oleh: Matheos Viktor Messakh, S.Th
Warga Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Dalam sebuah kegiatan religius publik di Kupang hari ini, sejumlah pendeta, tokoh politik, dan pejabat negara—termasuk Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka — ikut serta dalam sebuah aksi simbolik “memikul salib” secara bersama-sama.
Secara visual, peristiwa ini tampak kuat, khidmat, dan religius. Namun secara teologis, justru di titik inilah pertanyaan kritis perlu diajukan: apakah yang terjadi benar-benar tindakan memikul salib, atau justru simbolisasi religius yang menetralkan makna salib itu sendiri? Apakah salib itu sungguh dipikul atau hanya dipegang bersama-sama?
Baca juga: Opini: Selamat Datang Mas Gibran- Refleksi Paskah dari Gerbang Selatan Indonesia
Pertanyaan ini penting bukan untuk merendahkan sebuah kegiatan religius, tetapi justru untuk menjaga makna salib itu sendiri agar tidak berubah menjadi simbol seremonial yang kehilangan daya kritiknya.
Pertanyaan ini menjadi penting jika dibaca melalui kerangka teologi Asia yang dikembangkan oleh seorang theolog Jepang, Kosuke Koyama dalam bukunya Tidak Ada Gagang pada Salib/No Handle on the Cross (BPK Gunung Mulia, 1996).
Koyama menegaskan bahwa salib bukanlah simbol religius yang dapat dimanipulasi untuk kepentingan representasi publik, legitimasi moral, atau stabilisasi relasi antara agama dan kekuasaan.
Salib tidak memiliki gagang—artinya salib tidak dapat “dipegang” manusia untuk tujuan simbolik yang nyaman.
Salib tidak memiliki gagang artinya salib bukan alat. Salib adalah jalan. Dan jalan itu tidak nyaman.
Salib dalam Injil: beban personal, bukan properti kolektif
Dalam tradisi Injil, memikul salib bukanlah tindakan seremonial. Ia merupakan metafora radikal tentang partisipasi dalam penderitaan Kristus.
Perintah Yesus untuk “memikul salib” (bdk. Markus 8:34) tidak pernah dimaksudkan sebagai tindakan simbolik kolektif yang aman secara sosial.
Sebaliknya, ia menunjuk pada sebuah keputusan eksistensial yang membawa konsekuensi sosial-politik yang nyata.
Dalam narasi Injil, salib tidak pernah dipikul bersama-sama oleh elite religius dan elite politik dalam ruang publik yang terkendali.
Salib justru muncul sebagai tanda marginalisasi ekstrem: tanda bahwa seseorang telah ditempatkan di luar perlindungan sosial dan legitimasi kekuasaan.
Jika kita memperhatikan secara jujur praktik “memikul salib” dalam peristiwa di Kupang, yang terlihat sebenarnya bukan memikul, melainkan memegang bersama-sama. Salib menjadi ringan karena dibagi rata.
| Opini: Fundamental Ekonomi untuk Kestabilan, Ketangguhan dan Kemandirian Guna Mencapai Kesejahteraan |
|
|---|
| Opini: Ribut-ribut Konflik Norma di Boti |
|
|---|
| Opini: NTT Hari Ini- Teras Mediator Antar Budaya |
|
|---|
| Opini: Dinamika Kesuburan Tanah |
|
|---|
| Opini: Selamat Datang Mas Gibran- Refleksi Paskah dari Gerbang Selatan Indonesia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Matheos-Viktor-Messakh-STh.jpg)