Opini
Opini: Ketika Nietzsche Bertemu Paskah- Siapa yang Sebenarnya Mati?
Lagu tersebut menegaskan bahwa Tuhan itu satu, melampaui segala perbedaan agama, identitas, dan batas-batas manusia.
Oleh: Andriano Hendrikus Wangga
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Tuhan telah mati ‘Gott ist tot’ Pernyataan kontroversial dari seorang filsuf Friedrich Nietzsche dari Jerman ini kerap disalahpahami sebagai penolakan terhadap iman.
Padahal, yang sesungguhnya mati bukanlah Tuhan itu sendiri, melainkan lenyapnya kehadiran Tuhan dalam kesadaran manusia.
Dalam realitas kehidupan saat ini, kematian itu tampak nyata. Nama Tuhan terus dikumandangkan, tetapi jarang menjelma dalam tindakan. Ibadah tetap dijalankan, namun kepedulian terhadap sesama kian memudar.
Paradoks ini semakin jelas melalui kacamata pesan dalam lagu God Is One oleh Alpha Blondy.
Lagu tersebut menegaskan bahwa Tuhan itu satu, melampaui segala perbedaan agama, identitas, dan batas-batas manusia.
Namun justru di situlah ironi muncul ketika Tuhan diakui sebagai satu, Ia tidak lagi dihadirkan dalam kehidupan.
Tuhan telah mati bukan karena Ia lenyap, tetapi karena manusia berhenti menghidupkan-Nya. Dan kitalah yang, tanpa sadar, telah membunuh-Nya.
Akibatnya, iman yang masih dijalankan kini kehilangan etos kemanusiaan pengakuan terhadap Tuhan berjalan tanpa mengiringi tindakan nyata untuk sesama.
Iman yang seharusnya menuntun pada kebaikan, kini kerap berhenti pada ritual, sementara kemanusiaan semakin tersisihkan.
Api yang Padam: Iman Tanpa Kehidupan
Iman kini menyerupai api yang padam. Wujudnya masih nampak, tapi cahayanya tak lagi menerangi kebaikan.
Ritual dijalankan dengan megah, kata-kata dipuja dengan lantang, tetapi kepedulian terhadap sesama kian redup.
Manusia masih sibuk menyebut nama Tuhan, namun menolak menyalakan-Nya dalam tindakan nyata. Iman tanpa etos kemanusiaan hanyalah simbol hampa. Megah di lidah, mati di hati.
Seperti Yakobus menegaskan, “Iman tanpa perbuatan adalah mati.” Tapi lihatlah kita tetap sibuk berdoa, sementara dunia tetap terbakar tanpa kita menyalakan sedikit pun kebaikan.
Dan mungkin, di titik inilah kita harus berhenti sekadar mengamati dan mulai mengakui. Bahwa api itu tidak padam dengan sendirinya. Ia dipadamkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Andriano-Hendrikus-Wangga.jpg)