Jumat, 5 Juni 2026

Opini

Opini: Paskah di Tengah Retakan Dunia

Paskah, dengan demikian, bukan hanya peristiwa iman, tetapi juga panggilan etis untuk menanggapi penderitaan konkret.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI POS-KUPANG.COM
Adrianus Yohanes Mai SVD 

Oleh: Adrianus Yohanes Mai
Mahasiswa Magister Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

POS-KUPANG.COM - Dalam beberapa hari ke depan, Gereja memasuki Tri Hari Suci—sebuah ruang waktu yang tidak sekadar liturgis, tetapi juga eksistensial. 

Di dalamnya, umat beriman diajak untuk memasuki kembali misteri terdalam iman Kristen: sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus. 

Namun, pertanyaan yang tak terhindarkan muncul: bagaimana peristiwa Paskah dapat direfleksikan di tengah dunia yang sedang retak oleh konflik geopolitik, perang, dan krisis kemanusiaan?

Baca juga: Opini: Dari Via Crucis Menuju Via Lucis

Paskah bukanlah perayaan yang lahir dari ruang hampa sejarah. Ia justru berakar dalam situasi konkret kekuasaan, kekerasan, dan ketidakadilan. 

Penyaliban Yesus terjadi dalam konteks kolonialisme Romawi, kolaborasi elite religius, serta ketakutan politik terhadap figur yang dianggap mengancam stabilitas. Dengan demikian, sejak awal, Paskah adalah peristiwa teologis yang sekaligus politis.

Konflik Geopolitik dan Kerentanan Manusia

Dalam terang ini, refleksi Paskah tahun ini tidak dapat dilepaskan dari realitas konflik geopolitik global: perang yang berkepanjangan, eksploitasi ekonomi, migrasi paksa, serta krisis kemanusiaan yang menempatkan manusia dalam kondisi rentan. 

Di berbagai belahan dunia, manusia kembali mengalami apa yang oleh filsuf Giorgio Agamben (1998) disebut sebagai bare life—kehidupan yang tereduksi hanya menjadi keberlangsungan biologis, tanpa perlindungan hukum dan martabat.

Dalam konteks Indonesia, meskipun tidak berada dalam konflik bersenjata skala global, dinamika serupa dapat ditemukan dalam bentuk yang lebih samar namun nyata: ketimpangan sosial yang terus melebar, polarisasi politik pasca kontestasi elektoral, serta kerentanan kelompok minoritas dalam ruang publik. 

Di sini, “geopolitik” hadir dalam skala domestik—dalam relasi kuasa yang menentukan siapa yang didengar dan siapa yang disenyapkan. 

Dengan demikian, refleksi Paskah tidak hanya berbicara tentang “yang jauh”, tetapi juga tentang “yang dekat”: realitas kebangsaan kita sendiri.

Banalitas Ketidakadilan dan Kesadaran Etis

Dalam situasi ini, refleksi Paskah juga dapat dibaca sebagai kritik terhadap kecenderungan banalitas ketidakadilan—ketika masyarakat perlahan terbiasa melihat ketimpangan sebagai sesuatu yang “normal”. 

Mengingatkan pada Hannah Arendt (1963), kejahatan tidak selalu hadir dalam bentuk ekstrem, tetapi juga dalam ketidakpekaan sehari-hari terhadap penderitaan sesama. 

Paskah, dengan demikian, mengganggu kenyamanan tersebut: ia memaksa kesadaran untuk kembali peka, untuk tidak berdamai dengan ketidakadilan yang dibiarkan berlangsung diam-diam dalam kehidupan sosial.

Namun justru di sinilah Paskah menemukan relevansinya. Salib bukan sekadar simbol penderitaan individual, melainkan tanda keterlibatan Allah dalam sejarah penderitaan manusia. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved