Jumat, 5 Juni 2026

Opini

Opini: Pertumbuhan Ekonomi yang Belum Menenangkan

Masyarakat tidak merasakan ekonomi melalui angka PDB atau PDRB, melainkan melalui harga barang, kesempatan kerja, dan daya beli. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI PETRUS KANISIUS S. TAGE
Petrus Kanisius Siga Tage 

Oleh: Petrus Kanisius Siga Tage
Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Kupang
Email: petruskanisiussigatage@ucb.ac.id

POS-KUPANG.COM - Di atas kertas, perekonomian Indonesia dan Nusa Tenggara Timur ( NTT) pada triwulan I-2026 masih menunjukkan kinerja yang cukup menggembirakan. 

Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan, sementara NTT tumbuh 5,32 persen. 

Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masih bergerak dan daya tahan ekonomi tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.

Namun, ekonomi tidak hanya dibaca melalui angka pertumbuhan. Pada saat statistik menunjukkan optimisme, pasar keuangan justru mengirimkan sinyal yang berbeda. 

Baca juga: Opini: Lulusan Vokasi Siap Kerja, Tapi Kerjanya di Mana?

Rupiah melemah hingga menembus Rp18.000 per dolar AS dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak dalam tekanan. 

Kontras ini menimbulkan pertanyaan penting: mengapa ekonomi masih tumbuh, tetapi pasar justru terlihat gelisah?

Jawabannya terletak pada kualitas pertumbuhan itu sendiri. Pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinilai dari besarannya, tetapi juga dari sumber pertumbuhan dan kemampuannya menciptakan keyakinan terhadap masa depan. 

Pasar selalu melihat lebih jauh daripada angka yang tercatat hari ini. Investor tidak hanya bertanya apakah ekonomi tumbuh, tetapi juga apakah pertumbuhan itu berkelanjutan, merata, dan didukung fondasi yang kuat.

Data menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional masih banyak ditopang oleh sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 13,14 persen. 

Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan 21,81 persen. 

Di NTT, pola serupa juga terlihat. Sektor akomodasi dan makan minum tumbuh 26,22 persen, sedangkan konsumsi pemerintah meningkat 19,92 persen.

Pertumbuhan sektor jasa dan pariwisata tentu menjadi kabar baik. Begitu pula dengan meningkatnya belanja pemerintah yang mampu menggerakkan aktivitas ekonomi. 

Namun, ketergantungan yang besar pada konsumsi dan belanja negara menunjukkan bahwa fondasi pertumbuhan belum sepenuhnya bertumpu pada investasi produktif dan peningkatan kapasitas produksi.

Kerentanan tersebut terlihat ketika ekonomi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved