Opini
Opini: Paskah di Tengah Retakan Dunia
Paskah, dengan demikian, bukan hanya peristiwa iman, tetapi juga panggilan etis untuk menanggapi penderitaan konkret.
Dalam perspektif teolog Jürgen Moltmann(1972), Allah dalam Kristus bukanlah Allah yang jauh dan tak tersentuh, melainkan Allah yang “menderita bersama” (the suffering God).
Salib menjadi solidaritas radikal Allah dengan korban—bukan dengan penguasa, melainkan dengan mereka yang tersingkir.
Dari Salib Menuju Kebangkitan
Di tengah konflik geopolitik, refleksi ini mengandung kritik tajam. Paskah menyingkapkan bahwa kekuasaan yang dibangun di atas kekerasan pada akhirnya rapuh.
Kemenangan dalam Paskah tidak hadir melalui dominasi militer atau supremasi politik, tetapi melalui transformasi yang melampaui logika kekerasan itu sendiri.
Kebangkitan bukan sekadar “kemenangan” dalam arti duniawi, melainkan pembalikan total atas logika kuasa: dari mematikan menjadi menghidupkan.
Filsuf Emmanuel Levinas (1961) membantu memperdalam dimensi etis dari refleksi ini.
Baginya, wajah yang lain—terutama yang menderita—memanggil tanggung jawab tanpa syarat.
Dalam konteks geopolitik, wajah korban perang, pengungsi, dan mereka yang terpinggirkan bukanlah statistik, melainkan seruan etis yang tak dapat diabaikan.
Paskah, dengan demikian, bukan hanya peristiwa iman, tetapi juga panggilan etis untuk menanggapi penderitaan konkret.
Dalam pemikiran Johann Baptist Metz (1977), iman Kristen memiliki dimensi memoria passionis—ingatan akan penderitaan. Ingatan ini bukan nostalgia, melainkan kekuatan kritis yang menolak normalisasi kekerasan.
Dalam dunia yang mudah melupakan korban demi kepentingan strategis, Paskah menjadi tindakan mengingat: mengingat bahwa di balik setiap konflik geopolitik terdapat tubuh-tubuh yang terluka dan kehidupan yang direnggut.
Namun refleksi Paskah tidak berhenti pada salib. Kebangkitan membuka horizon harapan.
Dalam situasi global yang tampak gelap, Paskah menegaskan bahwa sejarah tidak berakhir pada kematian. Harapan ini bukan optimisme naif, melainkan keberanian untuk percaya bahwa transformasi tetap mungkin—bahkan di tengah reruntuhan.
Dalam konteks ini, peran umat beriman menjadi krusial. Paskah tidak hanya untuk dirayakan, tetapi juga untuk dihidupi.
Artinya, menghadirkan logika kebangkitan dalam dunia yang masih dikuasai logika salib: membangun rekonsiliasi di tengah konflik, memperjuangkan keadilan bagi korban, serta menolak kekerasan sebagai jalan penyelesaian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Pater-Adrianus-Yohanes-Mai-SVD-1234.jpg)