Kamis, 4 Juni 2026

Opini

Opini: Dari Via Crucis Menuju Via Lucis

Salib akhirnya menjadi simbol yang sangat kuat bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan kita berjalan sendirian dalam kesengsaraan kita. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI DARVIS TARUNG
Darvis Tarung 

Oleh:  Darvis Tarung
Tinggal di Scolastikat Hati Maria Claretian Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Perjalanan batin kita sebagai umat beriman sering kali bermula dan seolah-olah berakhir di bawah kaki salib, sebuah tempat di mana beban hidup terasa begitu nyata dan luka-luka kita seolah menemukan bentuknya yang paling jelas. 

Kita semua umat Kristiani sangat akrab dengan apa yang disebut sebagai Via Crucis atau Jalan Salib, sebuah praktik doa yang membawa kita merenungkan setiap langkah sengsara Yesus dari saat Ia dijatuhi hukuman hingga wafat-Nya yang memilukan di bukit Golgota. 

Praktik ini telah mendarah daging dalam hidup kita, terutama selama masa Prapaskah, di mana gereja-gereja dipenuhi oleh umat yang dengan khusyuk merenungkan setiap perhentian, bahkan air mata sering kali menetes saat kita mengenangkan penderitaan Kristus. 

Baca juga: Opini: Prapaskah, Kemanusiaan dan Ekologi Integral

Namun, jika kita mau melihat lebih dalam ke dalam batin, sering kali muncul sebuah ketimpangan yang cukup nyata dalam cara kita menjalankan hidup iman sehari-hari. 

Kita tampaknya jauh lebih mudah untuk merenungkan penderitaan daripada merayakan kemenangan, dan kita merasa salib jauh lebih akrab di pundak kita daripada cahaya fajar Paskah yang seharusnya menerangi setiap sudut gelap kehidupan kita. 

Padahal, kebenarannya sangatlah mendasar: tanpa Via Crucis, tidak akan pernah ada Via Lucis, dan tanpa Via Lucis, maka Via Crucis akan kehilangan seluruh makna terdalamnya.

Ketimpangan ini sebenarnya sangat bisa dipahami karena penderitaan adalah bahasa yang paling universal dan dekat dengan pengalaman setiap manusia. 
Tidak ada satu pun dari kita yang tidak pernah merasakan pedihnya kehilangan, pahitnya sebuah kegagalan, atau beratnya cobaan batin yang seolah menghimpit jiwa. 

Maka, ketika kita merenungkan langkah-langkah Yesus dalam Via Crucis, kita merasa seolah-olah Tuhan sedang berdiri tepat di samping kita, ikut merasakan beban yang sama dengan yang kita pikul. 

Salib akhirnya menjadi simbol yang sangat kuat bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan kita berjalan sendirian dalam kesengsaraan kita. 

Namun, bahaya besar muncul ketika iman kita berhenti hanya sampai di hari Sabtu Suci yang senyap, seolah-olah kubur yang tertutup adalah akhir dari segala-galanya. 

Jika kita tidak berani melangkah lebih jauh menuju terang kebangkitan yang ditawarkan dalam Via Lucis ( Jalan Terang), maka yang tersisa bagi kita hanyalah keputusasaan yang sunyi dan tanpa harapan. 

Perjalanan yang utuh haruslah berani berpindah dari kegelapan menuju cahaya, dari kematian menuju kehidupan, dan dari rasa putus asa menuju harapan yang baru.

Via Lucis atau Jalan Terang sebenarnya adalah sebuah sarana bagi kita untuk belajar kembali bagaimana melihat hidup dengan mata yang penuh harapan. 

Praktik ini mengajak kita untuk merenungkan berbagai penampakan Yesus setelah Ia bangkit dari kematian hingga saat Ia naik ke surga dan mencurahkan Roh Kudus. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved